Quote: ".. Pasokan BBM ke kita banyak dari Singapura. Kita mau berhadapan tegas dengan Singapura? Omong kosong! Singapura tinggal putar kran tutup, roda ekonomi kita pun gak bisa jalan. Ke Singapura aja gak bisa tegas, apalagi ke Malaysia! Boro-boro bisa jaga Ambalat dan Sipadan-Ligitan. Berhadapan dengan kapal keamanan Malayisa aja, kita nabrakin kapal kita. Terus, berapa banyak kapal yang bisa patroli? Bego kita! Coba kita lihat, ada potensi apa di Ambalat dan Sipadan- Ligitan? Oil and gas, bung! .. Bagaimana para pemimpin kita?! Boro-boro, cing! Ke laut aja deh! hahaha. Pikirin aja tuh proyek bantuan duit dari negara-negara asing, biar sumber daya alam kita dicaplok oleh mereka! Kasih aja Natuna 100 persen! Jangan lupa harga diri kita juga sembari sujud ke negara-negara asing itu. .."
Dalam pemberantasan korupsi ada istilah, bagaimana bisa membersihkan lantai kotor kalau menggunakan sapu/lap yang kotor juga? Gimana bisa mengharapkan 'kebanggaan' terhadap negara sendiri (nasionalisme).. kalau (yang disebut) pemimpinnya malah cinta/ bangga dengan negara lain (baca: amrik) meskipun dengan segala kesalahannya dan bahkan menjadikannya sebagai negara kedua.. Apalagi yang datang sekarang bos-nya amrik.. sekali lagi, amrik.. jadi jelas kan relasinya.. Satu hal lagi.. bagi sebagian kalangan, mengkritik itu harus dengan solusi.. jadi kritiknya tuh membangun.. itu lho jargon yang ngetop di jaman ORBA.. Karena tanpa solusi, sama saja dengan menghina dan menjatuhkan nama baik seseorang/pihak tertentu.. pokoknya tidak ada maksud positif.. cuma negatif saja.. :-p Jadi, bagaimana donk? CMIIW.. Wassalam, Irwan.K ---------- Forwarded message ---------- From: bagya nugraha <[EMAIL PROTECTED]> Date: Nov 18, 2006 8:31 PM Subject: Protect and secure our energy resources Apakah bisa membayangkan jika hidup tanpa energi minyak bumi? Kembali ke peradaban jaman dulu kali ye..... Anda semua, ketika membaca e-mail saya ini, berhadapan dengan komputer. Menghidupkan komputer membutuhkan listrik. Sementara, untuk menghasilkan listrik, kebanyakan kita masih menggunakan BBM sebagai bahan bakar power generator-nya. Itu masih soal listrik. Bagaimana dengan transportasi kita dan dunia? Semuanya menggunakan BBM. Jika semua negara dunia bersepakatan untuk menggunakan kuda ataupun keledai untuk transportasi, ya mungkin di jalan-jalan Jakarta gak akan dipenuhi oleh mobil ataupun motor. Itu pun belum dilihat dari kantor-kantor dan gedung pemerintah yang menggunakan listrik dari BBM. Pikiran saya terbetik, ketika e-mail (di mailist) dari Bung Ambon yang menyatakan pemerintah kita akan membeli pesawat dan (ataupun) kapal selam. Coba kita berpikir...(mari berpikir....) Kalau toh pun kita membeli selusin pesawat ataupun kapal selam, APA GUNANYA JIKA TANPA BBM? "Barang-barang" itu mau jalan?!! Pakai tenaga kaki kali ye....Kecuali jika mampu mempunyai teknologi nuklir untuk pengganti BBM-nya! Coba kita lihat, berapa besar BBM yang digunakan USA untuk menggerakkan Militernya? Berapa besar konsumsinya? Jika pasokan BBM mereka di-cut, emangnya mereka bisa jalan? Saya pernah "jalan" ke Armatim AL (Surabaya). Katanya, armada AL terbesar di Indonesia. Saya melihat banyak kapal AL kita nongkrong di dermaga. Kaciannnnnn. Saya bertanya ke salah satu ABK, kenapa kapal-kapal ini nongkrong di sini? Apa jawab ABK? Dia menjawab: "kalo ini jalan semua, wah, Pertamina di Wonokromo bakal kehabisan stok BBM, mas." Coba, kita berpikir lagi (jika kita masih punya pikiran demi negara ini). Kita mau menjaga kedaulatan negara? Omong kosong! Pepesan kosong! Pasokan BBM aja gak cukup untuk patroli. Ketika wilayah udara dan laut kita dimasukin kapal milter dan udara negara lain, kita ribut! Lha...yang goblok jenderal-jenderal di Mabes TNI dan Pemerintah! Pejabat itu gak bisa mikir soal politik energi; yang dipikirn cuman proyek duit. Dunia tanpa energi, kembali aja ke jaman purbakala! Apa kita, termasuk Bung Ambon, pernah berpikir berapa sebenarnya konsumsi BBM di USA? Jika Anda melihat datanya, Anda akan sangat terkejut. Coba aja cek sendiri jika gak percaya..... Saya pikir, para aparat hingga Presiden kita kagak bakalan bisa mikir soal ini. Kaciannnn.... Pasokan BBM ke kita banyak dari Singapura. Kita mau berhadapan tegas dengan Singapura? Omong kosong! Singapura tinggal putar kran tutup, roda ekonomi kita pun gak bisa jalan. Ke Singapura aja gak bisa tegas, apalagi ke Malaysia! Boro-boro bisa jaga Ambalat dan Sipadan-Ligitan. Berhadapan dengan kapal keamanan Malayisa aja, kita nabrakin kapal kita. Terus, berapa banyak kapal yang bisa patroli? Bego kita! Coba kita lihat, ada potensi apa di Ambalat dan Sipadan-Ligitan? Oil and gas, bung! Permainan geopolitik minyak dan gas sebenarnya telah berlangsung sejak dulu. Soekarno dan Soeharto memahami soal ini. Lepas dari itu, sekarang, coba lihat cadangan aman BBM kita untuk berapa hari bagi masyarakat? Coba lihat cadangan aman BBM kita untuk tentara kita? Walah!!!!! amit-amit! Bandingkan dengan USA! Doktrin-doktrin kita soal negara kita kuat, punya sejarah kerajaan Nusantara.....forget it! Itu cuman masa lalu! Itu ejakulasi dini! Sekarang, apa yang bisa dilakukan kita?! Gak tahu deh! Pantes jika ada oknum TNI AL jadi perampok; TNI seharusnya adalah alat negara!! TNI bagian dari rakyat; seharusnya mereka paham soal politik energi ini!!! Tahukah Anda, kenapa USA dan sekutunya menyerang Afghanistan dan Iraq? Khusus Iraq, tahukah Anda bahwa negara ini salah satu penghasil minyak terbesar di dunia? Khusus Afghanistan: salah satu perusahaan oil 'n gas yakni Unocal (perusahaan USA) di era pemerintahan Taliban berusaha melewatkan jalur pipa dari area Kaspia melewati Afghanistan hingga ke India. Saat itu, negoisasi alot antara pihak Taliban dan Unocal. Alhasil, diseranglah Afgahnistan. Tahukah Anda siapa Dubes USA untuk Iraq saat ini? Dia adalah mantan konsultan Unocal di Afghanistan kala itu! Tahukah Anda, siapa penguasa pertambangan migas di Indonesia? 80 persen adalah perusahaan Amerika! Kini, sejak adanya pertumbuhan industri di India, Cina, dan Rusia; USA dan kawan-kawannya makin kewalahan. USA cenderung memakai "otot" untuk menguasai sektor strategis minyak bumi dan gas. Sedangkan Inggris adalah "otak"-nya. Jadi, wajarlah jika akhirnya manggut-manggut ke USA. Monggo, nDoro Bush. Ketika di mailist ini, saya koar-koar soal Natuna dalam 1 minggu ini, eeeeeee....Presiden Negara Boneka 2 hari lalu sempat meninjau NAtuna. Telat banget! Kemana aja selama ini yaaaa? Presiden Negara Boneka khan mantan mentamben.....masak gak ngerti.... Coba lihat Chavez ataupun Moralez.....saya pernah mendengar dari juru bicara Presiden Negara Boneka yang menyatakan para pemimpin itu aliran kiri. Walah! sekelas itukah juru bicara Presiden kita? Chavez ataupun Moralez adalah nasionalis untuk negaranya. Mereka lebih mementingkan kepentingan nasionalnya. Mereka sadar bahwa energi adalah mainan negara-negara seperti USA dan Inggris. Oleh sebab itu, gak salah ketika mereka lebih menatap kepentingan energi untuk negaranya masing-maising. Bagaimana dengan Ahmadinejad (sorry jika ejaan salah)? Apa dia Kiri juga?! hahahaha! Dia tuh nasionalis juga! Bagaimana para pemimpin kita?! Boro-boro, cing! Ke laut aja deh! hahaha. Pikirin aja tuh proyek bantuan duit dari negara-negara asing, biar sumber daya alam kita dicaplok oleh mereka! Kasih aja Natuna 100 persen! Jangan lupa harga diri kita juga sembari sujud ke negara-negara asing itu. Jadi, saya pesan ke bapak Presiden Negara Boneka, silahkan aja beli sukhoi 1001 buah kek, kapal selam 10.000 buah kek, kemudian kasih aja sumber minyak dan gas kita ke mereka. Nanti, barang-barang militer itu khan gak bisa jalan....nah nanti jadi pajangan aja untuk tontonan anak-cucu kita nanti.....hahahahaaha....sekalian anak-cucu kita nonton pagelaran pidato presiden wayang. hehehehe.... Saya hanya rakyat biasa...yang berusaha peduli setan terhadap NKRI (Negara Kesatuan Rampok Indonesia).....Bagi saya, hanya "Merdeka ataoe mati!" Saya cinta negeri ini. Selamat membeli barang-barang mainan......Merdeka! --- In [EMAIL PROTECTED] <nasional-list%40yahoogroups.com>, "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.gatra.com/artikel.php?id=99469 Alutsista RI Putuskan Beli Sukhoi dan Kapal Selam dari Rusia Jakarta, 17 November 2006 00:22 Pemerintah RI memutuskan untuk membeli persenjataan tempur (alutsista/alat
utama sistem senjata) seperti pesawat dan kapal selam dari Rusia melalui pola pembayaran kredit ekspor yang diberikan negara tersebut senilai 1 miliar dolar AS.
"Presiden sudah sepakat, beliau menyetujui. Sekarang tinggal menunggu
Menkeu (Menteri Keuangan --Red) yang akan menyiapkan surat untuk Menkeu Rusia bahwa pemerintah Indonesia berminat menerima tawaran itu," kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, usai rapat terbatas di kantor presiden Jakarta, Kamis (16/11).
Juwono menjelaskan, termasuk di antara persenjataan tempur yang akan
dibeli mulai 2007 hingga 2010 adalah enam pesawat Sukhoi, dua kapal selam kelas Kilo, dan sembilan helikopter berbagai jenis.
Menurut Juwono, pembelian dengan kredit ekspor yang jatuh tempo tahun 2011
ini memiliki keunggulan-keuntungan, seperti teknologi senjata yang memadai, dan daya tangkal cukup tangguh sesuai kebutuhan kecepatan penangkal minimum.
"Dan dari segi politis, ini memperluas ruang gerak kita sehingga tidak
tergantung pada Amerika Serikat (AS) jika di kemudian hari ada embargo lagi," katanya.
Juwono juga mengatakan pembelian senjata Rusia ini tidak perlu mendapat
restu dari AS dan tidak mendapat keberatan dari AS.
Kehadiran Presiden Bush pada 20 Nopember mendatang, katanya, juga tidak
membicarakan persoalan pertahanan karena hanya akan membahas masalah-masalah seperti pengentasan kemiskinan, lingkungan, pendidikan, dan kesehatan.
Sementara, mengenai rencana kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke
Rusia pada awal Desember 2006, Juwono mengatakan bahwa kedua pemimpinan negara nantinya lebih banyak membicarakan soal kemitraan strategis secara luas, seperti politik, ekonomi, dan investasi, terutama energi sektor gas dan minyak. "Soal pertahanan hanya komponen kecil saja," kata Juwono. [EL, Ant]
