AS defisit perdagangan?

Tidak menjadi masalah selama mata uang dolar AS masih dipakai sebagai mata
uang internasional.
Dengan demikian AS bisa mencetak uang sebanyak-banyaknya melebihi batasan
untuk menutupi defisit itu. Karena efek inflasinya tak hanya mengimbas ke AS
tapi juga seluruh dunia yang masih memakai dolar AS sebagai mata uang
perdagangan antar negara. Tengok saja perjalanan nilai tukar dolar AS
terhadap emas.

Dengan menjadikan dolar sebagai mata uang internasional, posisinya sulit
untuk melemah. Karena tiap negara akan selalu mencari dolar untuk membayar
impor. Karena itu, keberadaan Euro bisa mengancam tak hanya nilai mata uang
dolar AS, tapi juga perekonomian negara itu. Coba saja kalau negara2 Timur
Tengah menjual minyak mereka dengan Euro. Bakal terjun bebas itu dolar AS
terhadap Euro. Walau ini bakal merugikan Eropa juga.

Irak di masa Saddam pernah iseng mau menjual minyaknya dalam euro, salah
satu cara dia menunjukkan perlawanan kepada AS. Hasilnya, kiriman peluru
kendali TomaHawk oleh Clinton.

Itulah 'kehebatan' sistem ekonomi yang mejadikan uang sebagai komoditas
perdagangan, bisa diperjual belikan. Nilai mata uang ditentukan oleh kuatnya
permintaan terhadap mata uang itu, yang dianalogikan dengan kekuatan ekonomi
negara pemilik mata uang. Tapi teori ini tak berlaku di Cina. Mata uang Yuan
tetap saja undervalued terhadap dolar AS padahal kekuatan ekonomi Cina
begitu luar biasa.

''Seharusnya Yuan lebih mahal dari dolar Hongkong,'' ujar seorang rekan
wartawan Cina di Jakarta. Maka, kekuatan ekonomi Cina yang riil jauh
sebenarnya lebih besar daripada ketika ditakar dengan dolar AS. Dan itulah
strategi Cina untuk selamat dalam sistem ekonomi dunia. Murahnya Yuan
terhadap dolar AS membuat harga2 produk Cina di pasaran ekspor tak akan bisa
dilawan negara mana pun.

PS :
Dengan melihat pencantuman Fakta Angka di bawah, apakah artikel ini pernah
dimuat di Republika?




On 11/24/06, Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

     writes oleh : Darmansyah Asmoerie
Konsultan Ekonomi Senior, Direktur PT Darmania Group

Jika anda berjalan-jalan di Manhattan, New York, mata anda niscaya akan
terbelalak melihat sebuah baliho yang dipasang di sebuah gedung tinggi di
perempatan jalan. Isi baliho itu: US Sale! Who Wants to Buy?

Sebagian besar orang niscaya akan terkejut: Kenapa Amerika diobral? Siapa
mau
beli? Memangnya AS butuh uang? Atau, Gedung Putih dan Capitol Hill (DPR
AS)
sudah frustrasi mencari uang untuk membiayai operasional pemerintah AS?
Bermacam-macam pertanyaan mungkin akan muncul di benak orang yang selama
ini
menganggap bahwa AS adalah negara kaya raya dan tidak membutuhkan negara
lain.
Dengan konsumsi energi per kapita terbesar di dunia dan anggaran militer
terbesar di dunia, AS mestinya adalah sebuah negara makmur yang kaya raya.

Gambaran seperti itulah yang agaknya sering muncul dalam benak kita yang
silau
melihat nama besar AS.

Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak --malah jauh dari kondisi

yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan koran USA Today,
misalnya,
menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 8.000 perusahaan AS
telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara asing), dengan total nilai
lebih
dari 1,2 triliun dolar AS.

Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan bermerk asal AS seperti
Ford
dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan besar tersebut kini bukan
milik AS lagi. Di samping Hollywood, hampir semua perusahaan hiburan di AS

yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun, sekarang sudah menjadi
milik
Sony Corporation, Jepang. Begitu pula perusahaan-perusaha an otomotif dan
komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak asing. Belum lama ini,
misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli perusahaan komputer
terbesar
di AS. Lalu, dengan jaringan distribusinya yang luas, Cina pun memproduksi

komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di Indonesia dan harganya
sangat
kompetitif.

Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar karena inefisiensi dan
buruh
mahal. Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural (harga tidak kompetitif,
buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain) perusahaan-perusaha an
di
AS menerima beban kerugian 30 persen di banding perusahaan sejenis di
Asia.
Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena rakyat AS lebih suka
mengonsumsi produk impor yang harganya lebih murah dan lebih berkualitas
dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini, misalnya, seperempat dari
income
penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang impor, mulai makanan dan
minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju, sepatu, komputer, dan
lain-
lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.

Dalam perdagangan luar negeri, AS juga menanggung defisit yang amat besar.

Tahun 2005, misalnya, defisit perdagangan AS dengan negara-negara lain di
dunia mencapai 723 miliar dolar AS. Ini berarti, AS harus 'mensubsidi'
negara-
negara counterpart dagangnya sebesar 1,4 juta dolar AS per menit.
Sementara
tiap tahun, tiap penduduk AS menghabiskan sedikitnya 2.400 dolar AS untuk
membeli barang-barang impor seperti baju, sepatu, mobil, komputer, dan
lain-
lain (US Census 2005). Tidak heran jika US Bureau of Labor Statistics
menyatakan, dalam lima tahun terakhir, tiga juta pekerjaan yang berupah
tinggi
lenyap di AS. Hal ini sejalan dengan makin hilangnya pekerjaan bergaji
besar
di industri-industri AS.

Ironisnya, perusahaan asing di industri canggih AS makin banyak. Saat ini,

lebih dari 20 persen perusahaan-perusaha an manufaktur AS yang
berorientasi
ekspor sudah dimiliki pengusaha-pengusaha asing seperti Jepang, Jerman,
dan
Cina.

Pemerintah federal AS pun menanggung utang yang amat besar --lebih dari 8
triliun dolar AS. Senat AS bahkan telah menambah batas utang pemerintah
federal menjadi 9 triliun dolar AS, atau sama dengan 70 persen gros
GDP-nya
(baca: bandingkan dengan Indonesia yang saat ini utang luar negerinya
sebesar
30 persen dari GPD atau sekitar 120 miliar dolar AS). Negara-negara lain,
khususnya Jepang dan negara kaya Timur Tengah, saat ini mengontrol 47
persen
defisit keuangan pemerintah federal AS. Sementara utang-utang barunya
sepenuhnya atau 100 persen tergantung dari luar negeri.

Minyak dan perang
Dengan melihat latar belakang seperti itu, kita bisa mengerti mengapa AS
saat
ini sangat ekspansif? Salah satu penopang ekonomi terbesar AS saat ini
adalah
minyak dari Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang saat ini memproduksi
hampir
70 persen kebutuhan minyak dunia adalah 'sumber keuangan' AS. Saat ini,
misalnya, lebih dari 70 persen perusahaan minyak AS beroperasi di Teluk.

ExxonMobil, salah satu perusahan minyak dan gas terbesar di AS, kini
menjadi
perusahaan migas terbesar di dunia. Dan Exxon adalah salah satu
kontributor
keuangan (melalui pajak) untuk pemerintah federal di Washington. Itulah
sebabnya, kenapa Menlu AS, Condoleezza Rice, sampai datang ke Jakarta,
beberapa bulan lalu, untuk menekan pemerintah Indonesia agar menunjuk
ExxonMobil sebagai operator blok minyak Cepu.

Kita tidak tahu, apa agenda Bush dalam peretemuannya dengan SBY di Bogor
nanti. Tapi bisa diduga, menyangkut kepentingan ekonomi migas. Salah
satunya,
yang kini tengah dalam negosiasi, adalah eksplorasi cadangan gas di
Natuna.
Cadangan gas di Natuna disebut-sebut amat besar dan ExxonMobil maunya
mendapat
kompensasi yang jauh lebih besar ketimbang tawaran pemerintah Indonesia.
Alasannya, gas produksi Natuna biaya eksplorasinya amat mahal dan
kualitasnya
buruk. Betulkah alasan tersebut? Pemerintah sebaiknya tidak percaya begitu

saja.

Kembali ke Timur Tengah. Kenapa Israel tetap dipelihara AS? Karena Israel
bisa
menjadi 'faktor' instabilitas kawasan Teluk. Keberadaan Israel ini akan
menguntungkan AS, khususnya dari kondisi instabilitas Timur Tengah yang
kaya
minyak. Dengan alasan melindungi Israel dari serangan teroris, AS akan
gampang
saja menyerang negara-negara Timur Tengah yang dituduh Bush menjadi basis
teroris. Setelah menyerang sebuah negara Timur Tengah, tentunya tentara AS

akan menghancur-leburkan sarana dan prasarana negeri itu. Kenapa demikian?

Sekali lagi, itu adalah motif ekonomi.

Di Irak, misalnya. Hanya sepekan setelah perang selesai,
perusahaan-perusaha an
konstruksi AS langsung mendapat order dari Washington untuk membangun
kembali
Irak. Perusahaan-perusaha n konstruksi AS, khususnya Halliburton yang
sebagian
sahamnya dimiliki keluarga Bush, langsung mendapat proyek miliaran dolar
AS
untuk rekonstruksi Irak. Uangnya dari mana? Dari pampasan perang Irak.
Uang
minyak Irak pun dihabiskan untuk membangun infrastruktur yang telah
dihancurkan AS sendiri dengan biaya yang amat mahal, tiga sampai empat
kali
lipat, jika dikerjakan perusahaan lokal. Uang minyak Irak juga dipakai
untuk
membiayai tentara AS yang kini bercokol di sana.

Dari gambaran itu, istilah pampasan perang Irak adalah suatu logika yang
aneh
karena Irak tak pernah mengajak perang kepada AS. Akhirnya, kita tahu,
migas
dan perang adalah sumber ekonomi' AS. Ekspansionisme AS - khususnya dalam
mengawal perusahaan minyaknya di luar negeri dan menggertak negara-negara
kecil dengan militernya - sebetulnya tak lebih merupakan strategi AS untuk
men-
survive-kan perekonomiannya.

Fakta Angka
8.000 unit
Perusahaan AS yang dijual ke negara lain dalam 10 tahun terakhir.
8 triliun dolar AS
Utang AS kepada negara lain.
20 persen
Perusahaan manufaktur AS yang berorientasi ekspor sudah dimiliki asing.

--
Ade Arfan Saefulloh
Sekretaris Direktur Operasional
PT Asuransi Takaful Umum
Graha Takaful Indonesia Tower A
Jl. Mampang Prapatan Raya No.100
Jakarta 12790
T + 62 21-799-1234
+ 62 21-799-2345 Ext 1199
F + 62 21-7901944
Tool Free 0800-100-1234
Website www.takaful. com

__________________________________________________________






--
Si vis pacem Parabellum ---

Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387

Kirim email ke