MEMOAR SAKURANG KORUPTOR DARI SUMATERAH? HEHEH,BING,
Rangsanyah guweh bisak menebak siapah bangsat ituh? kerana daku pernah berkenalan dan berkoncoh sama Abang ituh. hehehe..diah ituh Orang Sumaterah, yang memang punyak kekuatan untuk berjoang, belajar dan sukses di Jakartah??/ Memang diah kukenal sakbagae bangsat, pengkianat bangsah jugak. daku pernah mengkonsultasih anaknyah, DIAH BILANG,BAPAKKU RAJIN KE GOREJAH BAHKAN JADI SINTUAH JUGAK. ehheheh..benerlah manungsah keparat ituh, MANAK MUNGKIN BANGHAGIAH? Diah bangsat Karesten,yang punyak tabeat binatang,tukang kawin.. JADI ITUHLAH ANAK BININYAH BECECERAN... Tapi tokh kerana banyak duwitnyah, mangka diah bisak jadih sintuah jugak tuh!! entar..daku bakalan membilang sama diah.. eh..guweh mbacak eluh punyak otobiograpih di Cikeas..!!! -- In [EMAIL PROTECTED], "leo.tobing" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Subject: [milis tarki] Memoar Seorang Koruptor > > > Memoar Seorang Koruptor > > > > Kata orang bijak manusia dibentuk oleh alam sekitarnya;berlaku hukum sebab > > akibat. Dan, koruptor lahir bukan hanya karena keserakahan dan adanya > > kesempatan, namun juga merupakan produk masyarakat. > > > > Bila ada yang mengajukan pertanyaan, kenapa aku jadi koruptor, jawabnya, > > aku sudah bosan hidup miskin, dan kenapa tindakan korupsiku tidak > > terbongkar, jawabannya aku melakukan korupsi berjamaah, saling > > menjerumuskan dan saling menutup rahasia. > > > > Biografi pendek ini aku tulis bukan karena aku orang bodoh, jika bodoh > > tentu tak kan mungkin jadi koruptor. Membobol uang negara itu perlu > > kecerdasan, keahlian khusus, strategi, dan keberanian tiada tara. > > > > Sifat koruptifku berproses lama. Dengan menulis biografi ini beban > > pikiranku jadi berkurang, minimal merasa seolah-olah, ya seolah- olah > > dosaku berkurang walau sebetulnya tidak. Pembaca pun jadi mengerti, > > > > memaklumi, syukur-syukur mau memaafkan. > > > > Dua hari setelah HUT-ku yang ke-5, ibuku meninggal. Sebulan kemudian ayah > > menikahi seorang gadis belia. Sejak itu beliau tidak > > ambil peduli. Hanya waktu aku mau khitan ayah memberi sedikit uang, > > sepasang pakaian, dan seekor kambing. > > > > Almarhumah ibu cukup berada; sawah dan kebunnya banyak. Perhiasan emas > > berbentuk gelang, kalung, anting dan cincin bermata berlian, dan seikat > > besar uang ia simpan dalam kotak di lemari pakaian. > > Tiga hari setelah jasad ibu dikubur, lemari pakaian almarhumah dibongkar > > paksa > > paman atau kakak lelaki tertua ibu. Semua perhiasan dan uang > > almarhumah dibagi antara paman dan adik-adik perempuannya. Dua bulan > > kemudian > > sawah dan kebun ibu juga diperebutkan, yang tersisa untukku hanya tiga > > pasang pakaianku, selembar sarung almarhumah. > > > > Sejak itu aku diasuh adik nenek. Dengan susah payah nenek muda > > membesarkanku, menyekolahkanku mulai dari SD di desa kami hingga tamat SMA > > di ibu kota kabupaten. Selama sekolah deraan hidup aku alami lahir dan > > batin. Di SMA aku hanya punya pakaian dua stel, sepatu tanpa kaus kaki. > > > > Makan dua kali sehari dengan lauk seadanya, kerap sebutir telur itik untuk > > dua hari, jajan tidak pernah, mandi dengan sabun cuci. > > > > Berawal dari kemiskinan > > > > Impitan kemiskinan menyebabkan aku merasa rendah diri, aku menjauhkan diri > > dari pergaulan. Satu-satunya yang sering aku kunjungi di kota tempat > > tinggalku adalah Tia, putri sulung paman. Jika aku pulang kampung, paman > > menitip uang untuk Tia, aku pun diberi sekadar beli setengah bungkus > > rokok. > > > > Tia sangat cantik dalam pandanganku. Ia siswi sekolah kejuruan putri. > > Tanpa sadar aku pun jatuh cinta padanya. > > > > Sehari sebelum pulang kampung libur kuartal pertama ketika duduk di bangku > > kelas III SMA aku ke rumah kos Tia. Bikin janji besoknya bareng pulang ke > > kampung. Sebelum pamit, sepucuk surat aku berikan padanya. Surat berisi > > curahan hati dan pernyataan cinta. > > > > Besoknya setiba di terminal aku lihat Tia sudah duduk dalam bis. Aku pun > > naik, duduk pada bangku di depannya. Ia mencibir lalu meludahi wajahku. > > Aku malu, merasa dihina di depan umum. Air ludahnya aku bersihkan dengan > > sapu tangan, sapu tangan itu aku simpan dalam kantong celana. > > > > Aku bersumpah, suatu masa Tia dan keluarganya harus tunduk padaku. Aku > > bertekad memperistrinya. Untuk itu aku harus keluar dari kemiskinan. Jalan > > satu-satunya merantau, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, dan melanjutkan > > pendidikan ke tingkat sarjana. > > > > Setelah tamat SMA aku merantau ke Pulau Jawa. Setiba di Ibu Kota aku > > mengurus KTP, lewat uang semua serba beres. > > > > Pada tahun pertama di Jakarta aku kerja serabutan, mulai dari mencari > > order untuk perusahaan penyemprot nyamuk hingga bergabung ke dalam CV Dua > > Jari alias nyopet. Suatu siang ketika nyopet di atas bis kota aku > > tertangkap tangan, lalu dikeroyok massa. Wajahku babak belur. Seorang > > oknum berseragam menyelamatkanku, aku dibawanya naik sepeda motor. > > Di tempat sepi semua uang, kalung, cincin, dan gelang emas miliku diminta > > paksa. > > > > Bosan jadi copet aku terjun sebagai salesmen, bekerja pada perusahaan > > pengadaan peralatan kantor. Siang kerja, malam kuliah. Di kampus aku > > mendapat mata kuliah tak resmi, oknum dosen membisikkan asal ada uang > > semua bisa diatur, mulai dari indeks prestasi (IP), > > skripsi, dan ijazah. Di lapangan pun aku mendapat ilmu khusus. Kepala > > bagian di beberapa kantor pemerintah yang jadi klienku beri persyaratan. > > Dari keuntungan yang aku dapat, 75 persen untuk dia dan 25 persen untukku. > > Lalu, 90 persen barang pesanan dikirim ke kantor, sisanya dikirim ke > > rumahnya. > > > > "Enak nian jadi oknum pegawai negeri. Setiap bulan terima gaji, hampir > > tiap hari korupsi, itu pun sambil ongkang-ongkang kaki di kantor pakai > > AC," gumamku. > > > > Sejak itu aku pun bercita-cita ingin jadi pegawai negeri. Berbagai upaya > > ditempuh. Akhirnya uang juga yang bicara. Dengan ijazah sarjana yang cepat > > didapat berkat uang, aku pun diterima jadi pegawai negeri, juga pakai uang > > pelicin. > > > > Hari pertama masuk kantor aku mencatat prestasi gemilang sebagai calon > > koruptor: sebuah pena merek Parker yang tergeletak di sebuah meja berhasil > > aku kantongi. > > > > Di kantor aku menjalin hubungan dengan semua orang. Bila punya uang aku > > bagi-bagi pada teman. Tiap sebentar memberi kado hadiah hari kelahiran > > atau perkimpoian pada atasan. > > > > Aku disenangi, jabatanku meroket, selalu berada di tempat basah. Karierku > > berawal sebagai pegawai biasa, terakhir pada posisi Kepala Biro Pengadaan > > dan Proyek. Aku berprinsip, jika mendapat rezeki maka yang lain mesti ikut > > menikmati. > > > > Setahun setelah merantau aku mulai berkirim pada nenek muda; semula kecil, > > makin lama makin besar. Taraf pertama dapur nenek muda aku suruh perbaiki, > > setahun kemudian kukirimi uang untuk renovasi rumah. > > > > Paman yang dulu membongkar lemari almarhumah ibu berulang kali menulis > > surat, berpesan supaya aku jangan mencari istri di negeri orang, dan mohon > > agar aku segera pulang kampung. Aku pun pulang kampung sebagai pemuda > > sukses. Dua hari setiba di kampung, paman bersama putri sulung dan > > bungsunya, Tia dan Carla, datang menemuiku di > > rumah nenek muda. Tia bertitel sarjana, tapi belum kerja. Carla siswi SMA. > > Keduanya cantik. Dalam hati aku berbisik, kedua gadis cantik itu mesti > > jadi milikku. > > > > Paman memohon padaku agar bersedia mempersunting Tia. Anaknya banyak, dia > > kerepotan memikul biaya rumah tangganya. Dua minggu setelah berada di > > kampung aku menikah dengan Tia, seminggu kemudian memboyongnya ke Jakarta. > > Carla juga ikut. Aku berhasil meyakinkan paman, berjanji membiayai > > sekolahnya di Jakarta. > > > > Pada tahun ketiga pernikahan kami, Tia coba bunuh diri lantaran Carla > > memberi tahu dari Bandung-tempat ia aku kuliahkan-bahwa ia sedang > > mengandung anakku. Tentu ada tuduhan aku lelaki tak bermoral. > > > > Sebagai koruptor tentu aku tidak bermoral, orang bermoral tak mungkin jadi > > koruptor. > > > > Waktu menerima SK pensiun aku tercatat sebagai salah seorang koruptor > > cukup > > sukses. Di kampung punya tiga rumah mewah, banyak sawah dan kebun. Di > > rantau memiliki lima rumah, satu di Pondok Indah, satu di Permata Hijau, > > sebuah di Kapuk Mutiara, sebuah di Jakarta Pusat dan sebuah Villa di > > Cipanas, tiga buah mobil mewah, setumpuk batangan emas, beberapa deposito > > bank dalam dan luar negeri, serta memiliki saham di beberapa > > perusahaan. > > > > Tia tidak berbahagia menikah denganku. Pada hari tuanya ia sakit- sakitan. > > Kami tidak punya anak, tapi anakku dengan wanita lain ada tujuh orang; > > sepasang dari Carla, tiga dari dua pembantu yang pernah bekerja pada kami, > > dan dua lagi dari wanita berlainan. Anak pertama mengidap HIV/AIDS, anak > > kedua hamil sebelum nikah, dua lainnya kecanduan > > narkoba, seorang jadi buronan polisi, seorang jadi lesbian, si bungsu > > masih di taman kanak-kanak. > > > > Aku sendiri, bahagiakah? Entahlah! Ada hasrat untuk tobat, tapi hati dan > > otak nampaknya sudah terlalu sarat dosa. Yang terbayang bukan senyum > > bidadari di dalam surga, melainkan api neraka yang menyala. > > > > Ingin tahu siapa aku? ...... > > Berdirilah di depan cermin, mungkin aku adalah yang bayangannya terlihat > > pada kaca. > > Atau, dia itu adalah ayah, paman, saudara atau tetangga Anda sendiri.. > > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > >
