Kasus Nana kembali menunjukkan sisi negatif Islam dan Kristen yg bersaing mencari umat se-banyak2-nya sebab keduanya mengukur keberhasilan ajaran agama secara kuantitatif dari jumlah pemeluknya. Sungguh memalukan apabila atas nama agama Islam dan Kristen, beberapa orang secara finansial memberi perhatian yg berlebihan thd ibu Nana padahal banyak sekali warga lain yg jauh lebih menderita daripada ibu Nana ttp dicuekin saja.
Karena itulah, saya semakin mantap dg keyakinan saya yg hukum sebab akibatnya BERLAKU (tanpa pilih2 bulu) BAGI SELURUH UMAT MANUSIA, tak perduli apakah manusia2 tsb mengklaim sebagai umat Islam atau Kristen(dan tak mengakui keyakinan yg saya percayai). Hukum2 ini akan memberikan balasan buruk atau baik hanya berdasarkan perbuatan atau pola pikir manusia itu sendiri, tak ada hubungannya dg hal2 di luar diri manusia tsb. Salam --- In [email protected], "Wido Q Supraha" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung radityo, > > > > Mohon maaf untuk jawaban awal ini saya kembalikan ke milis pertama yang saya > kirimkan saja, karena sepertinya Anda memforward email saya ke 'terlalu' > banyak komunitas. Saya tidak tahu apakah ini sesuai etika milis ataukah > tidak. > > > > Benar, bahwa adalah hak seseorang untuk pindah agama, tapi kalau Anda > mengikuti bagaimana usaha Kawan-kawan di e-mail di bawah ini, maka Anda > tidak akan mungkin berkata bahwa mereka telah tenang, tentram, dan damai, > karena ada faktor ekonomi di balik kristenisasi ini, dan yang kami lakukan > adalah membantu masalah ekonomi tersebut, karena memang itulah pangkal > masalahnya. Dan terus terang, yang terkait masalah ekonomi ini cukup banyak > sekali terjadi di wilayah Indonesia, dan tentu cukup memprihatinkan kita > semua, tatkala bantuan diberikan dengan pamrih agama.
