Bung Fadli,
   
  HAM harus dijunjung tinggi. Tapi ini hanya bisa dilakukan oleh orang orang yg 
sadar bahwa disamping dirinya punya HAM, orang lain juga punya HAM. Jangan 
hanya kalau menyangkut kepentingan saya dan golongan saya saja lalu kita 
berteriak tentang HAM. Tapi kalau menyangkut orang lain atau golongan lain, 
kita bersikap masa bodoh atau pura-2 tidak tahu bahwa mereka juga punya HAM
   
  Tidak usah jauh-2 ke Belanda. Sekali lagi ambil contoh dalam negeri sendiri 
saja. Waktu kelompok Ahmadiyah dianiaya, rumah, mesjid dan harta benda mereka 
dibakar, apa komentar anda? Apakah ini bukan berarti HAM orang-2 Ahmadiyah 
sudah diinjak-injak? Herannya Pemerintah terkesan setuju dengan peanganiayaan 
terhadap kelompok Ahmadiyah. Semua tentu masih ingat apa komentar menteri agama 
dan MUI yg sangat tidak simpatik dan terkesan begitu memusuhi kelompok 
Ahmadiyah. Mungkin menurut mayoritas muslim di Indonesia, kelompok ahmadiyah 
itu disebut sebagai aliran sesat. Tapi kelompok ahmadiyah sendiri merasa bahwa 
mereka bukan aliran sesat. Sepanjang mereka (kelompok ahmadiyah) tidak 
melakukan tindakan-2 berbau kriminal, maka hak hidup mereka dinegara ini 
dilindungin oleh hukum. Sayangnya dalam praktek, perlindungan terhadap kelompok 
seperti ahmadiyah ini ternyata NOL BESAR.
   
  Sebagian umat muslim Indonesia memang suka bersikap aneh. Mereka suka 
kebakaran jenggot dengan hal-2 yg menimpa orang-2 atau kelompok muslim dinegara 
lain atas nama persaudaraan muslim. Padahal begitu banyak ketidak adilan yg 
menimpa warga bangsa sendiri yg seharusnya juga perlu dikritisi. Ini persis 
seperti kata pepatah : KUMAN DISEBERANG LAUT TAMPAK, GAJAH DIDEPAN MATA TIDAK 
TAMPAK.
   
  Salam prihatin

Fadli Kaban <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Katanya ada HAM (Hak Asasi Manusia), di mana salah satunya kita 
bebas memeluk agama yang sesuai dengan kepercayaan kita. Tapi ko' bisa ya di 
negara yang katanya maju, HAM dielu-elukan, masih ada larangan kaya' gini. 
  Kita ambil logika seperti ini aja deh. Yang namanya jilbab atau burqa, itu 
khan kewajiban umat muslim yang wanita (sebenarnya bukan burqa sih, karena 
dalam Al-Quran yang mulia, wanita wajib menutupi kepalanya dengan kain sehingga 
hanya wajah dan telapak tangan yang terlihat. Jadi kalau pake jilbab sebenarnya 
wajib. Tapi kalau pake burqa atau penutup wajah, sebenarnya , yang saya tahu, 
ga' wajib). Sekarang bagaimana mau mengakkan HAM kalau untuk melaksanakan 
kewajibannya, menjalankan perintah Tuhannya, suatu umat harus dilarang-larang. 
Khan sama aja menghalang-halangi suatu umat untuk menjalankan hak dia yang 
paling dasar yaitu beragama. Sekarang gimana nih, teman-teman yang dari dulu 
mengagung-agungkan HAM? Mana HAM yang anda junjung tinggi itu apabila anda 
mendukung larangan tersebut? Jangan jadi orang yang munafik. Tegakkan HAM 
secara adil, tanpa pandang bulu. Kalau anda mendukung larangan tersebut, maka 
mungkin almarhum Munir, aktivis HAM yang sangat saya hormati, akan
 menangis di alam sana melihat ketidakadilan ini.
  Salam Peace, Love and Honesty.

manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Saya sudah lihat dan saya tahu burqa itu seperti apa. Persoalannya bukan 
terletak pada bentuk pakaiannya, melainkan pada pembatasan kebebasan warga 
negara untuk memilih dan menentukan sendiri pakaian seperti apa yang cocok bagi 
dirinya. Lain halnya jika pemaiakan burqa itu adalah hasil dari pemaksaan, yang 
jika tak dipatuhi maka individunya disakiti atau diancam keselamatan jiwanya.

saya juga cinta kebebasan, tetapi kebebasan yang konsisten, bukan yang tebang 
pilih, apalagi atas dasar bias dan prasangka agama. Dari pihak mana pu itu 
datangnya.

Mari kita merenung sama-sama.

manneke

MOD:
Kok saya melihatnya dari dua sisi: "pakaian atau busana biasa" dan "pakaian 
atau busana bernuansa agama". Mungkin kalau Bung Manneke melihatnya dari kedua 
sisi itu bisa memberikan penilaian yang pas.

Saya sendiri ngeri kalau di Eropa nantinya timbul ketakutan yang luar biasa 
terhadap Islam, sehingga kalau mereka hidupnya terlalu ekslusif malah nantinya 
diusir, sama seperti orang Eropa dulu melihat orang-orang Yahudi. Kalau dibasmi 
seperti zaman Nazi mungkin tidak, tapi yang lebih ramah mungkin diusir ke 
negeri asal masing-masing.

-----Original Message-----

> Date: Tue Nov 21 10:19:56 PST 2006
> From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [mediacare] Re: Belanda Berencana Larang Jilbab
> To: [email protected]
>
> Lihat gambar terlampir dan silahkan merenung untuk dipahami.
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: manneke 
> To: [email protected] 
> Sent: Tuesday, November 21, 2006 8:39 AM
> Subject: [mediacare] Re: Belanda Berencana Larang Jilbab
> 
> 
> Saya mencoba melihat secara fair mengenai soal ini, ya. Eropa juga selalu 
> komentar kok kalau di negara-negara Asia terjadi sesuatu yang tak berkenan 
> buat mereka. kalau logika Anda ini mau dipakai secara konsisten, buat apa EU 
> repot-repot ngurusin Aung San Suu Kyi di Myanmar? Atau pakai menyatakan 
> prihatin atas kudeta militer di Thailand?
> Mereka yang selalu teriak-teriak tentang Islam dengan garang dan agresif 
> jelas tidak sepenuhnya benar. Tapi ini tidak berarti bahwa kubu yang 
> melakukan oposisi terhadap agresifitas itu sudah pasti benar.
> 
> manneke
>




    
---------------------------------
  Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.  

         

 
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.

Kirim email ke