Agama saya dengan AA Gym berbeda. Tetapi satu prinsip yang harus
dipegang adalah: mereka yang tidak menganut poligami tidak perlu
'merusuhi' mereka yang menganutnya. Demikian juga sebaliknya.

Poligami di jaman yang semakin menganut nilai2 humanisme-liberal ini
semakin menyusut interesnya karena tergusur nilai2 kesetaraan
kemanusiaan. Aktivis perempuan yang bangkit untuk merekonstruksi
kembali apa arti kesetaraan manusia sebagaimana hakikatnya, tentu
punya banyak alasan untuk menolak poligami.

Meski begitu, ada sebagian perempuan yang bersedia menjadi istri
ke-sekian dari seorang pria, tanpa risau dengan nilai2 kesetaraan
tersebut. Itu karena nilai yang 'dimuliakan' dalam pandangan dan iman
mereka bukan soal kesetaraan manusia atau tidak. Di bagian ini, saya
harus menghormati mereka yang memiliki pandangan atau keyakinan iman
agama yang menghayati nilai2 luhur dalam berpoligami. 

Judul "Katakan tidak untuk Poligami!" dengan sendirinya memiliki
muatan nilai2 tertentu menurut keyakinan2 tertentu (bisa agama, atau
pandangan hidup). Tentunya, di masyarakat modern seperti sekarang,
perubahan2 nilai yang sangat besar telah terjadi pada kaum perempuan.
 Mungkin dari sinilah terbentuk stand point yang sangat berbeda
arahnya dengan mereka yang tetap tidak masalah dengan poligami.

Soal AA Gym berpoligami atau tidak, menurut saya bukan persoalan
penting. Tidak ada wewenang saya untuk melarang beliau, karena itu
adalah pilihannya. 

Lagi pula, hukum di negara kita tidak mengatur soal poligami atau
tidak. Yang jadi lucu adalah kita seringkali mengintervensi hal2 yang
bukan wewenang kita. Sama halnya, dengan sekelompok golongan tertentu
(sipil) yang melibas wewenang aparat, main pukul rata aturan
golongannya sendiri dan main hakim sendiri. 

Jangan tergoda untuk melakukan seperti yang mereka (preman berjubah)
itu lakukan ya!

Salam
Abdi Christ      






--- In [email protected], "Pudji Pramono" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Poligami memang menjadi topik yang tidak ada habisnya sampai sekarang.
> 
>  
> 
> Di sisi lain, ada rasa 'ketidakadilan' yang mayoritas diamini oleh kaum
> hawa. Karena bahwa cinta tidak bisa dibagi dua, tiga, apalagi empat.
> 
>  
> 
> Pria, sebagai sosok maskulin, memiliki lebih dari satu istri terkadang
> menjadi solusi atas 'kehampaan' yang tidak dimiliki.
> 
>  
> 
> Namun yang perlu diingat adalah hukum poligami itu sendiri. Kita harus
> menggali lebih jauh akan hukum-hukum dari poligami itu sendiri dari sisi
> agama.
> 
> Islam adalah agama mulia yang menjunjung mulia poligami, karena hal itu
> adalah halal, apabila ( ini yang harus digarisbawahi ) mampu berlaku
> adil!.
> 
> Janganlah kita menjadi umat yang mengHARAMkan sesuatu hal yang HALAL
> (seperti poligami). Namun dengan seenaknya juga mengHALALkan sesuatu
> yang HARAM (misalkan
> 
> lokalisasi perjudian / pelacuran)
> 
>  
> 
> Andaikan poligami dilarang ataupun tidak disetujui, jangan salahkan bila
> pasangan-pasangan kita 'jajan' di luar tanpa sepengetahuan istri.
> 
>  
> 
> Namun bila tidak sanggup adil, maka cukuplah satu saja. 
> 
>  
> 
> Bukankah begitu teman-teman?
> 
>  
> 


Kirim email ke