Bu Hafsah, komentar anda selalu menarik untuk disimak, karena
kejujuran kemanusiawian, keterbukaan terhadap logika dan realita yang
menjadi tolok ukur anda, melampaui doktrin agama.

Saya seringkali berpikir juga, apakah Tuhan hanyalah angan2? Apakah
berdoa hanyalah refleksi imajiner pada alam bawah sadar kita? Bukankah
kita hanya menutup mata dan membayangkan sosok yang lebih besar dari
kita akan menjadi sandaran bagi kelemahan kesadaran kita? Atau seperti
yang dikatakan Freud, bahwa agama hanyalah refleksi alam bawah sadar
saja -Tuhan hanya angan2?

Seringkali dalam hidup saya, saya berpikir bahwa Tuhan mungkin hanya
angan2 saja. Tetapi pada saat kepepet, dan saya harus berdoa karena
takut dan benar2 kehilangan pegangan, saya benar2 menemukan solusi.
Dan hal itu tidak terjadi satu-dua kali, tetapi berkali2. 

Pengalaman2 itu antara lain: pada saat 'akan' mengalami tindak
kejahatan dari orang lain; pada saat 'hampir' celaka karena musibah;
pada saat keadaan finansial benar2 kepepet; pada saat kehilangan arah
dan tidak tahu harus berbuat apa lagi; dan.... pada saat ketemu hantu.

Saya tidak tahu apakah dalam pengalaman hidup anda, anda pernah
mengalami pengalaman ketidakberdayaan. Suatu keadaan yang totally
hopeless. Suatu pengalaman yang akhirnya memunculkan suatu kebutuhan
dalam budi anda akan Kuasa Yang Maha Besar. Dan akhirnya anda
berkomunikasi dengan DIA dan memperoleh jalan keluar. 

Apakah iman kepada Tuhan juga hanyalah angan2? Orang Ateis pun
memiliki iman, yakni iman yang sangat kuat bahwa Tuhan tidak ada.
Mungkin anda pun memiliki iman, yaitu iman yang sangat meyakini bahwa
Tuhan adalah angan2 belaka. Yang akhirnya iman itu membawa anda pada
ketidakbutuhan akan Tuhan.

Berterima kasih pada Tuhan itu perlu atau tidak? Tergantung apakah
anda 'menyadari' bahwa Tuhan telah memberi anda 'pemberian'. Kalau
tidak menyadari ya, tidak apa2. Tidak perlu berterima kasih. 

Dalam iman saya: ucapan terima kasih atau tidak dari manusia tidak
juga membuat Tuhan berhenti 'memberi' dalam hidup kita. Itu semua
karena saya dikaruniai 'kesadaran' untuk melihat betapa banyak hal
yang sudah Tuhan berikan dalam hidup saya.   

Dari semua permberian Tuhan, yang paling signifikan bagi saya adalah
kenyataan bahwa DIA telah mengaruniakan hidup yang kekal, dan hidup
itu ada di dalam Yesus Kristus. Hidup kekal itu telah diberikan
sebelum saya menyadarinya, dan belajar berterima kasih pada-Nya. 

Tuhan sudah memberi yang terbaik kepada kita. Sekarang tergantung kita
mau menerimanya atau tidak?  

Salam
Abdi Christ



--- In [email protected], "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Perlukah Berterima Kasih Kepada Tuhan ???
> 
> > "mangucup88" <mang.ucup@> wrote:
> > "Terima kasih Tuhan!" itulah ucapan pertama saya tiap pagi, setelah 
> > saya bangun tidur. Karena begitu saya membuka mata saya tiap hari, 
> > saya bisa melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan itu, taman yang 
> > hijau, bunga yang warna-warni, langit yang biru. 
> > 
> 
> 
> Sama sekali tidak bisa dilarang ataupun disalahkan kalo anda
> mengucapkan terimakasih kepada Tuhan dalam angan2 anda sebagai
> kepercayaan anda.  Namun patut anda ingat, bahwa dengan atau tanpa
> mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, nasib anda tak akan berubah,
> umur anda tak akan bertambah panjang, juga umur anda tidak akan
> bertambah pendek dibandingkan mereka yang mancaci maki Allah setiap
> bangun tidur mengingat ayah, ibu, atau anaknya menjadi korban teror2
> bomb jihad bunuh diri yang sangat jahat itu.  Anda bisa tetap melihat
> taman yang hijau, bunga warna warni dan langit yang biru, tapi apakah
> korban2 akibat jihad itu bisa juga menikmati seperti apa yang anda
> nikmati sekarang ???  Tentunya tidak bukan ???  Untuk merekalah kita
> seharusnya prihatin, hanya karena masalah ucapan terima kasih kepada
> tuhan  anda saja mereka harus mengakhiri hidupnya tanpa mereka
> mengerti apa kesalahan mereka. 
> 
> 
> 
> > Ini bagi saya merupakan berkat yang sangat indah, karena kita bisa 
> > menikmati karunia melihat ini semuanya, apakah Anda bisa 
> > membayangkan bagaimana kalau kita dilahirkan dalam keadaan buta? 
> > Hidup kita dalam kegelapan terus-menerus? Jangankan gelap terus 
> > menerus, lampu mati satu jam saja kita sudah bingung!
> > 
> 
> 
> Betul, bagi anda merupakan berkat yang sangat indah, tetapi sekali
> lagi saya ingatkan, apakah mereka yang jadi korban apa yang anda
> percaya itu tidak berhak untuk menikmati keindahan yang sama ??? 
> Jangan lupa, lampu yang anda butuhkan itu diciptakan dari mereka yang
> sama kepercayaannya dengan korban2 jihad jahat tsb.  Tidak kah anda
> tergetar untuk mengenang kesedihan mereka yang kehilangan ????
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>


Kirim email ke