Coba kita bandingkan dua pasang tulisan Danny Lim dan Kartono Mohamad ini.
Kelihatan jelas kan bedanya? (maksud saya, MUTU-nya). Lim orang Belanda dan
Kartono orang Indonesia. Satunya 'bully', satunya pemikir. Silakan dinilai
sendiri siapa yang doyan omong besooaaaar dan siapa yang punya concern sejati
untuk Indonesia.
manneke
> On 05/12/06, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Pak Kartono dan rekans milis,
> >
> > Saya setuju bila dikatakan bahwa orang Indonesia menjadi "serba canggung
> > dan tidak berani mengambil langkah-langkah besar untuk memajukan dirinya."
> > Kecanggungan itu diakibatkan adanya ketidak-pastian status Indonesia
> > sendiri. Apakah Indonesia negara SEKULER atau negara AGAMA? Kita tidak bisa
> > bilang Indonesia negara sekuler sebab di UUD RI pasal 29 jelas tercantum
> > "Ke-Tuhan-an yang Maha Esa". Tapi Indonesia sendiri juga menolak bila
> > dikategorikan sebagai negara agama. Jajak pendapat di Indonesia belum lama
> > ini menunjukkan mayoritas orang Indonesia memilih Pancasila ketimbang
> > Sharia. Namun pada gilirannya sila pertama Pancasila berbunyi "Ke-Tuhan-an
> > Yang Maha Esa", jadi kembali lagi ke negara agama. Jadi begitulah yang
> > saya lihat, Indonesia berputar-putar di tempat tidak dapat meloloskan diri
> > dari lingkaran setan yang dibuatnya sendiri, yaitu keraguan untuk menetapkan
> > diri sendiri sebagai sekuler atau agamis?
> >
> > Namun budaya/ketegaran orang Vietnam merupakan fenomena lain, betul-betul
> > patut dipelajari oleh orang Indonesia, terutama generasi mudanya. Negara
> > seupil Vietnam mampu menaklukkan negara akbar Amerika? Kita patut
> > mengacungkan dua jempol tangan kita untuk Vietnam. Bandingkan negara seupil
> > Belanda yang juga mampu menaklukkan negara akbar Hindia-Belanda. Kita mesti
> > mengacungkan juga dua jempol buat Belanda, bukan begitu?
> >
> > Sebuah diskusi yang menarik dan bermanfaat, mudah-mudahan tumbuh budaya
> > INTROSPEKSI pada bangsa-bangsa akbar AS dan Indonesia, bahwa negara-negara
> > upil tidak bisa dipandang remeh, mereka yang upil juga mampu berbuat akbar.
> > Seruan saya ke pada negara-negara akbar AS dan Indonesia, jangan mau kalah
> > dari negara-negara upil Vietnam dan Belanda. Sukses ya, merdekaaaa .... !!!
> >
> > Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> >
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > *From:* Kartono Mohamad <[EMAIL PROTECTED]>
> > *To:* [EMAIL PROTECTED]
> > *Cc:* [email protected]
> > *Sent:* Saturday, December 02, 2006 2:34 PM
> > *Subject:* Re: [KincirAngin] Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan?
> >
> >
> >
> > Yang menghambat bukan budaya, sebab selama ini budaya Indonesia dapat
> > menyerap perkembangan baru, termasuk agama-agama asing. Yang menghambat
> > adalah pemeluk agama asing itu yang merasa dirinya menjadi penafsir yang
> > paling benar dan merasa mewakili Tuhan di dunia sehingga berhak menjatuhkan
> > vonis dosa, masuk neraka, dsb. Padahal yang berhak memberikan vonis semacam
> > itu hanya Tuhan. Karena sering takut dianggap dosa dan masuk neraka, orang
> > Indonesia serba canggung dan tidak berani mengambil langkah-langkah besar
> > untuk memajukan dirinya.
> > KM
> > *-------Original Message-------*
> >
> > *From:* [EMAIL PROTECTED]
> > *Date:* 12/02/06 17:20:01
> > *To:* KincirAngin <[EMAIL PROTECTED]>
> > *Cc:* PMKRI Petojo <[EMAIL PROTECTED]>; Media
> > Care<[email protected]>
> > *Subject:* [KincirAngin] Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan?
> >
> >
> > DL - Haaaah ......... Indonesia keok lawan Vietnam yang komunis? Haiyaaaa
> > cilaka butulan nih Indonesia. Hayooo adakan Soempah Pemoeda II "Satu Nusa,
> > Satu Bangsa, Satu Budaya, Indonesia". Ciptakan budaya nasional baru
> > Indonesia untuk menggantikan budaya "korupsi, jam karet, gontok-gontokan".
> > Sukses ya.
> >
> >
> > SUARA PEMBARUAN DAILY
> > ------------------------------
> > CATATAN SHANGHAI
> >
> > Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan?
> >
> > *Sabam Siagian*
> >
> > [image: K]olumnis harian *The New York Times,* Thomas Friedman yang luas
> > sekali khalayak pembacanya di berbagai benua, dalam sebuah tulisan baru-baru
> > ini mengutip sebuah buku karya Lawrence Harrison. Karya tersebut mengkaji
> > dampak budaya sebuah bangsa pada dinamika politik dan pembangunan ekonomi di
> > negara yang bersangkutan.
> >
> > Si penulis tiba pada kesimpulan bahwa ada sejumlah bangsa-bangsa yang
> > budayanya memang mendorong laju kemajuan (istilah bahasa Inggrisnya *
> > progress-prone*). Tapi, menurut Lawrence Harrison, ada pula sejumlah
> > bangsa-bangsa yang budayanya cenderung menghambat kemajuan (istilah bahasa
> > Inggrisnya *progress-resistance*).
> >
> > Berdasarkan kerangka analisis itu, para pengamat wilayah Asia Tenggara
> > sering membanding-bandingkan perkembangan di dua negara: Indonesia dan
> > Vietnam. Memang dua bangsa itu memiliki ciri-ciri kesejarahan yang paralel.
> > Mereka masing-masing memproklamasikan kemerdekaan secara unilateral setelah
> > Perang Asia-Pasifik berakhir pada 14 Agustus 1945. Soekarno-Hatta
> > memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Dan
> > Ho Chi Minh mencanangkan kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945 di Hanoi.
> >
> >
> > Baik Indonesia, maupun Vietnam harus mengangkat senjata untuk
> > mempertahankan kemerdekaannya. Namun, kalau perjuangan Indonesia melawan
> > kolonialisme Belanda relatif singkat-maka Vietnam harus berhadapan dengan
> > Perancis selama bertahun-tahun sampai 1954. Kemudian ia terlibat dalam suatu
> > peperangan dahsyat melawan adikuasa dunia, Amerika Serikat. Perdamaian dan
> > persatuan Vietnam baru tercipta pada tahun 1975.
> >
> > *
> >
> > Hasil sementara (moga-moga hanya "sementara") dari perbandingan demikian
> > menyimpulkan bahwa budaya Vietnam cenderung mendorong kemajuan. Sedangkan
> > budaya Indonesia seperti menghambat kemajuan.
> >
> > Memang setiap pengamat yang mengunjungi Vietnam sekarang, mau tidak mau
> > terkesan oleh semangat kerja dan gairah hidup masyarakat Vietnam. Sebagai
> > seorang yang secara periodik mengunjungi Vietnam, dan tertarik pada sejarah
> > modernnya, dalam kunjungan bulan April lalu di Hanoi saya tertegun menatap
> > hiruk-pikuk keramaian kota Hanoi.
> >
> > "Dalam sepuluh tahun, ekonomi Vietnam mengadakan loncatan kuantum dari
> > tahap sepeda ke sepeda motor," demikian observasi seorang wartawan AS.
> > Bangsa yang berjumlah 82 juta ini seperti mesin yang berputar siang-malam,
> > bekerja tanpa henti.
> >
> > Vietnam secara resmi adalah negara komunis, di mana partai komunis yang
> > berkuasa. Tapi budayanya memang pragmatis. Ketika Uni Soviet ambruk pada
> > tahun 1991 dan tetangga raksasa di sebelah Utara, Republik Rakyat Tiongkok,
> > mempraktekkan prinsip ekonomi pasar, maka Vietnam juga menyesuaikan diri.
> > Investasi asing disambut tidak hanya dengan ucapan manis dan janji muluk,
> > tapi dengan tindakan nyata.
> >
> > Contoh yang sering disebut-sebut akhir-akhir ini adalah kasus investasi
> > perusahaan elektronik Intel Corp. Rencana orisinalnya, ia akan membangun
> > pabrik *chip* dengan fasilitas uji coba di lokasi seluas 13.500 meter
> > persegi dengan investasi 300 juta dolar AS.
> >
> > Namun, setelah terkesan oleh lingkungan investasi yang kondusif, Intel
> > Corp mengumumkan akan melipatgandakan investasinya itu menjadi sekitar satu
> > miliar dolar AS. Dan lokasinya di luar kota Ho Chi Minh diperluas menjadi 45
> > ribu meter persegi.
> >
> > Wakil Presiden Intel Corp Brian Krzanich menerangkan, keputusan itu
> > didasarkan, karena, "Vietnam memiliki penduduk yang dinamis, sistem
> > pendidikan yang bertambah baik, tenaga kerja yang produktif dan pemerintahan
> > yang memandang kedepan. Pada tahun 2009, ketika pabrik itu mulai
> > operasional, sekitar 4 ribu buruh mendapatkan lapangan kerja.
> >
> > Sikap memandang ke depan dan tidak terjerat oleh kemegahan masa-lampau
> > (Vietnam berhasil mengalahkan AS secara strategik) yang ditekankan oleh
> > seorang redaktur dan penulis *The New York Times*, Roger Cohen, setelah
> > baru-baru ini ia keliling Vietnam. "Budaya Vietnam berfokus ke depan.
> > Kadang-kadang memang perlu kompromi, tapi kemudian maju terus, "tulisnya.
> >
> > *
> >
> > Baru-baru ini, Profesor Michael Porter dari Harvard Business School
> > (bagian dari Universitas Harvard di Cambridge, AS) diundang untuk
> > menyampaikan ceramah-ceramah di Jakarta. Ia dikenal sebagai pakar ekonomi,
> > khususnya tentang peningkatan produktivitas dan daya-saing. DR. Porter telah
> > diundang oleh sejumlah negara sebagai konsultan khusus.
> >
> > Pertemuan yang agaknya paling menarik berlangsung Selasa malam (28/11)
> > dengan sejumlah tokoh-tokoh pemerintahan Indonesia, termasuk juga Wakil
> > Presiden Jusuf Kalla, dan pimpinan badan-badan independen seperti Bank
> > Indonesia.
> >
> > Apa yang dikemukakannya Selasa malam dihadapan tokoh-tokoh pemerintah
> > pusat dan yang disampaikannya pada ceramah umum Rabu lalu (29/11) dengan
> > tema "Mengembangkan daya saing dalam lingkungan Global" (terjemahan bahasa
> > Indonesia), merupakan suatu daftar kelemahan-kelemahan yang ada pada diri
> > Indonesia sekarang ini.
> >
> > Kalau disimpulkan, maka diagnosa yang dilakukan Profesor Michael Porter
> > terhadap pasiennya Indonesia, sebagai berikut: "Perekonomian Indonesia
> > stagnan dan produktivitas rendah karena sejumlah faktor: sistem tenaga kerja
> > tidak efisien, ber-bagai peraturan dan prosedur baik di pusat maupun di
> > daerah yang sering saling bertentangan, infrastruktur yang tidak me- madai.
> >
> > Indonesia berusaha keras menarik investasi asing tapi lingkungan berbisnis
> > justru seperti menolak investasi. Mentalitas yang terlalu memikirkan
> > kepentingan sendiri dalam jangka pendek harus dirubah. Dunia sekarang sedang
> > maju cepat, kalau Indonesia tidak segera melakukan pembenahan diri, maka
> > akan ketinggalan."
> >
> > Demikian inti yang tersimpul dalam pesan-pesan Profesor Potter. Ia tidak
> > pergunakan istilah* progressive-resistant*, tapi jelas, yang dimaksud
> > betapa budaya Indonesia itu seperti menghambat kemajuan.
> >
> > Berbagai cerita aneh-aneh yang dapat kita tampung. Tentang sebuah
> > perusahaan pertambangan internasional yang ingin mengadakan investasi
> > sekitar 2 miliar dolar AS di luar Jawa di lokasi dengan endapan logam yang
> > sudah terbuktikan.
> >
> > Berbagai prosedur dan peraturan diikuti dengan tekun. Namun di mana ada
> > peraturan yang saling bertentangan, sulit menemukan pejabat yang berani
> > mengambil keputusan. Akhirnya, setelah lebih setahun, proses investasinya
> > ngambang terus. Cerita demikian dalam berbagai versi begitu sering kita
> > tampung.
> >
> > Sebenarnya Indonesia pernah mengalami tahap-tahap ketika semangat hidup,
> > kegairahan bekerja dan keberanian mengambil risiko nampak mekar. Kenapa
> > sekarang ini, ketika Indonesia membanggakan dirinya sebagai negara demokrasi
> > dan presidennya rajin ke luar negeri untuk menarik investasi, maka justru
> > para pejabatnya dan birokrasinya ragu-ragu mengambil keputusan, enggan
> > mengambil risiko demi kemajuan?
> >
> > Dalam *long march* kita sebagai bangsa yang kadang-kadang jatuh-bangun,
> > agaknya kita mesti yakin bahwa bangsa ini masih memiliki kekuatan utuh yang
> > mampu mengubah budayanya supaya mendorong kemajuan.
> >
> > Penulis adalah pengamat perkembangan sosial politik dan masalah
> > internasional