Baiklah, Pak Satrio..
Saya hanya menyesalkan, sepertinya saat ini terjadi kriminalisasi
terhadap Kompas. Kompas disudutkan. Seolah-olah apa yang dikemukakan
Pak Wisudo benar semua. Padahal menurut beberapa rekan Kompas, itu
hanya kepiawaian memelintir kejadian saja.
Saya merasa Anda sangat bersemangat sekali menyerang Kompas.

Mestinya Anda juga, seperti sudah saya bilang sebelumnya,
mengungkapkan juga siapa saja yang sekarang menyerang Kompas. Mereka
adalah-- termasuk sejumlah oknum AJI-- adalah orang-orang yang selama
ini memang memperlihatkan sikap permusuhan dengan Kompas. Saya heran
organisasi yang mengaku profesional teriak-teriak berdemo di Jakarta
sampai Makassar-- kemarin saya dengar di radio-- sampai mengancam
membakar kantor.
Mestinya dengan kemampuan investigasi wartawan AJI--katanya lo-- Anda
telisik juga, bahwa Pak Wisudo itu juga katanya sering menolak tugas.
Saya tidak tau itu benar atau tidak, itu cerita teman2 Kompas.

Kasus Jakarta-Jakarta, dan kasus-kasus yang menyakut karyawan Kompas
dan diekspos besar-besaran oleh AJI, LBH Pers et, itu katanya ada
kasus pemerasan juga di dalamnya. Coba deh investigasi, ungkapkan di
sini-- kalao benar-- ada sejumlah nama yang disebut-sebut mendapat
bayaran ratusan juta rupiah (Bahwa Anda sebut itu wajar karena orang
yang dipecat mendapat kompensasi, saya setuju karena aturan
Ketenagakerjaan memang begitu. Ada hitungannya malah.
Akan tetapi kalo sampai meminta sampai jumlah yang tidak wajar, ya
saya tidak mengerti)
(Anda jangan membandingkan Wisudo dengan Albert Kuhon. Saya pernah
tanya juga soal ini ke wtw senior Kompas. Jawab mereka enteng. "Kuhon
lebih jantan, dia tidak cocok dengan Kompas dan diberhentikan dia
terima. Wisudo lain, dia pengecut!")

Saya sebenarnya berharap, wartawan Kompas (pasti banyak yang ikutan)
yang mau mengungkap bagaimana Mas Wisudo ini sesungguhnya. Mungkin
tulisannya bagus, profesional tetapi soal etos kerja? Saya enggak tau,
biarlah rekan-rekan Kompas yang cerita.
Bung! wartawan di negeri  ini masih orang gajian, jadi kalo kerja di
satu perusahaan ya ikuti dong peraturannya, enggak bisa seenak udel.
Saya membayangkan, orang-orang yang menyebarkan fitnah dan keburukan
kantornya itu seperti melempari kotoran ke mukanya sendiri (maaf lo)

Bung Satrio, saya ingat, Anda juga kan pernah bilang tidak mau
mengungkapkan berapa puluh atau ratus juta rupiah yang didapat Anda
dari Kompas dulu, dengan alasan sudah ada kesepatakan dengan pimpinan
Kompas. Toh, dari uang itu, seperti kata Anda, bisa membeli mobil
Kijang. Rumah ? Modal kawin... (hhe..he.. kali aja lo...)

Memang salahnya Kompas, tidak membawa persoalan itu buka-bukaan di
pengadilan. Mestinya, Anda juga menjelaskan dong, katanya salah satu
filosofi Kompas itu tidak membuka aib seseorang di muka umum,
mengkritik tapi tidak menyakiti..
Tapi saya berharap banyak kasus ini memang secara terbuka ke
pengadilan, agar terbuka persoalan sebenarnya. Saya berharap Kompas
tidak perlu lagi takut ke pengadilan.. Siapa yang salah dihukum.
Jangan kayak biasanya, siapa yang salah malah mendapat bayaran...
Sayang saya bukan pimpinan Kompas atau Komandan Satpam Gramedia. Kalau
saya jadi dia saya akan balik melaporkan Pak Wisudo dengan tuduhan
mencemarkan nama baik.

Sama seperti Anda juga, saya-- dari kecil saya membaca Kompas-- juga
tidak mengharapkan Kompas ambruk. Saya percaya, toh Bung Satrio juga
berkali-kali bilang cinta Kompas dan banyak gurunya di sini (ada guru
poligami gak pak di Kompas?)

Saya malah heran Anda kerasan kerja di tempat sekarang. Eh katanya,
cuma boleh nurut satu orang ya... he..he.. saya cuma denger-denger.
Terus kalo ada karyawan salah disuruh push-up ya, benar enggak sih??

salam sahabat
dimast,


--- In [email protected], Satrio Arismunandar
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Dhimast,
>
> 1. Bagi saya, kasus Wis tidak baru dan tidak luar biasa. Karena
sebelum ini, bertahun-tahun yang lalu, sudah banyak kasus yang
menyangkut karyawan atau isu serikat pekerja di Kompas dan KKG.
Misalnya, kasus Jakarta-Jakarta, Albert Kuhon, dll. Kasus saya sendiri
terjadi tahun 1995.
>
> 2. Soal siapa yang benar antara Wisudo dan Suryopratomo, kita tunggu
saja nanti perkembangannya, karena sekarang tahapnya masih saling tuding.
>
> 3. Soal Kompas cenderung memilih jalan damai, itu urusan Kompas
sendiri. Kalau mereka yakin di posisi yang benar, kenapa takut ke
pengadilan? Bukankah kita ini negara hukum?
>
> 4. Duit??? Orang boleh bicara apa saja. Tapi, Karyawan yang dipecat
memang layak mendapat kompensasi. Apalagi karyawan yang sudah bekerja
belasan tahun. Ini ada undang-undangnya. KIta patuh pada UU kan?
>
> 5. Zaman sekarang tidak mudah pindah-pindah kerja, kalau Anda tidak
punya kelebihan yang diakui di dunia Anda berprestasi (jurnalistik,
dll). Saya mungkin kuno, tapi saya merasa cukup nasionalis. Lebih
senang bekerja di perusahaan swasta Indonesia, ketimbang perusahaan
asing. Kepindahan saya dari banyak media hampir selalu berkaitan
dengan kasus tenaga kerja (Pelita, Kompas, Media Indonesia, dan
Majalah D&R), bukan mulus dan manis karena ingin pindah ke tempat lain
yang bergaji besar.
>
> Selain itu, saya sudah terikat kontrak kerja paling tidak sampai 6
tahun mendatang, dengan Trans TV karena disekolahkan program Executive
MBA (kerjasama Para Grup/TransTV dengan AIM - Asian Institute of
Management, Filipina). Kalau mau keluar, saya harus ganti biaya kuliah
puluhan ribu dollar AS. Jelas saya nggak sanggup. Jadi saya akan tetap
setia mencintai Trans...he..he.... Tidak akan selingkuh atau poligami.
>
> 6. Saya jelas tidak mengharap Kompas ambruk. Peran Kompas sangat
dibutuhkan untuk mencerdaskan bangsa. Ingat, Kompas/KKG dan Trans
Corpora/TransTV tempat saya bekerja kini bersama-sama memiliki TV7 !!!
>
> Satrio

Kirim email ke