Dari kasus Mas Wis, bisa jadi cermin buat kita pekerja
media, betapa pentingnya membangun serikat pekerja.
Hingga saat ini saya belum menemukan ada pimpinan
media yang mau mengakui keberadaan serikat pekerja
sebagai partner perusahaan. Serikat pekerja selalu
dipandang sebagai sosok monster yang menakutkan. Kalo
toh ada serikat pekerja di sebuah media (khususnya
bentukan dari pimpinan media itu), fungsinya hanya
sebatas pelengkap dan pengurus yang ada sebisa mungkin
dijaga agar ga macem2. 

Pihak depnaker dan dewan pers sudah seharusnya
memanggil para pimpinan media massa (cetak, elektronik
atau media on line) untuk menekankan keharusan ada
serikat pekerja di perusahaan mereka. Depnaker dan
dewan pers kalo perlu kasih sanksi tegas kepada para
pimpinan media massa termasuk pemilik, yang menolak
keberadaan serikat pekerja di perusahaan mereka.
Apalagi membungkam para pengurusnya dengan 1001 cara,
apalagi melakukan pemecatan sepihak !!!

KEEP ON FIGHTING FOR DEMOCRACY

LALA-TRIJAYA
--- Dian Kartika Sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Satrio, 
> 
> Adakah jalan lain dari 'luar" Kompas yang bisa
> ditempuh untuk mendorong diimplementasikannya
> nilai-nilai Kompas di tingkat internal ?
> 
> Misalnya (misalnya lho ini ) kampanye boikot beli
> koran Kompas, karena koran itu diproduksi dengan
> sistem produksi yang menindas pekerjanya .
> 
> Para tetangga di komplek saya rerasan bicara soal
> rencana itu. Maklum saya tinggal di kompleks
> wartawan di depok, sepertinya ada pola solidaritas
> dalam menghadapi kasus Kompas ini. 
> 
> Apakah cara seperti itu efektif ? 
> sebenarnya sih ragu, kalau lihat tiras kompas dan
> banyaknya anak perusahaan yang dimiliki, tentu
> boikot 1000 sampai 2000 orang nggak akan ngaruh. 
> 
> Atau ada alternative lain ? 
> 
> salam 
> dian  
> 
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Satrio Arismunandar 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Tuesday, December 12, 2006 12:05 AM
>   Subject: Re: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak
> Jakob Oetama - tentang nilai-nilai Kompas
> 
> 
> 
>   Oh, jangan khawatir!
>   Selama pengalaman saya 7 tahun di Kompas, saya
> tahu, umumnya orang Kompas akan memilih tutup mulut
> dan main aman dalam situasi genting (ini mungkin
> kecenderungan di banyak media, bukan cuma Kompas).
> Saya tidak menyalahkan mereka. Tapi, tak usah
> mengharapkan ada pernyataan terbuka di milis atau
> media tentang kasus yang menimpa Wisudo dari mereka.
> 
> 
>   Kalau dibilang dendam, tidak ada. Sampai saat ini
> saya tetap berhubungan baik dengan teman-teman di
> Kompas. Waktu saya menikah (sesudah saya
> keluar/dipaksa mundur dari Kompas), saya juga
> mengundang Pak Jakob Oetama. Dan beliau juga datang
> kok! 
> 
>   Sesudah saya keluar dari Kompas, sejumlah tulisan
> yang saya kirim juga pernah dimuat di Kompas. Jadi
> saya yakin, pimpinan Kompas dan Pak Jakob juga tidak
> punya dendam pada saya. Kami berdua sama-sama tahu,
> apa yang terjadi pada 1995, ketika saya dipaksa
> mundur dari Kompas adalah karena TEKANAN REZIM
> SOEHARTO. Kompas tak punya pilihan lain dan tak
> punya kekuatan menolak tekanan Menteri Penerangan
> Harmoko waktu itu dan para pimpinan PWI Pusat dan
> PWI Jakarta (waktu itu diketuai Tarman Azzam).
> Ingat, jika Kompas bandel, bisa dibreidel kapan saja
> waktu itu! Jadi, ketika saya dipaksa keluar waktu
> itu, kami sama-sama tahu, alasannya adalah 100%
> pertimbangan politik. Karena Pak Jakob pun
> mengakuyi, tidak ada satu pun kesalahan yang saya
> lakukan sebagai KARYAWAN.
> 
>   Tempat saya bekerja sekarang lebih baik dari
> Kompas? Bung, saya sudah pernah bekerja 3 suratkabar
> nasional (Pelita, Kompas, Media Indonesia), 1
> majalah berita mingguan (D&R), dan 1 stasiun TV
> (Trans), dan kesimpulan saya tidak ada tempat
> bekerja yang sempurna. Masing-masing punya kelebihan
> dan kekurangan sendiri-sendiri.  
> 
>   Pernyataan saya di bawah ini justru berasal dari
> rasa cinta saya pada Kompas, karena saya tahu
> nilai-nilai luhur yang ditanamkan para pendiri
> Kompas (almarhum PK Oyong) sangat berharga untuk
> dipertahankan. Dan Kompas tidak akan bertahan lama,
> dan akan turun posisinya menjadi sekedar sebagai
> bisnis cari untung biasa, manakala nilai-nilai
> keutamaan yang ditanamkan para pendiri Kompas yang
> awal itu ditinggalkan atau disisihkan. 
> 
>   Pak Jakob Oetama dan sejumlah senior saya di
> Kompas adalah guru-guru saya dalam ilmu jurnalistik.
> Saya tidak pernah mengingkari hal itu dan tetap
> menghormati mereka sampai sekarang. Jadi, kritik dan
> saran yang saya sampaikan justru saya maksudkan
> untuk kebaikan Kompas, para karyawannya (bukan cuma
> Wisudo), dan menyelamatkan nilai-nilai para
> pendirinya, yang mungkin saja sekarang terlanda
> erosi akibat tuntutan kapitalistik. Kompas punya
> arti dan makna, karena nilai-nilai itu, yang saya
> anggap jauh lebih penting dari masalah pribadi. 
> 
> 
>   ----- Original Message ----
>   From: dimastakha <[EMAIL PROTECTED]>
>   To: [email protected]
>   Sent: Monday, December 11, 2006 10:54:12 PM
>   Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob
> Oetama - tentang nilai-nilai Kompas
> 
> 
>   Bung, cobalah lebih balance. Anda kan wartawan
> senior, tidak usah
>   terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu
> terjadi, tentu memalukan
>   bukan?
>   Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya
> terjadi.
>   Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas?
>   Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih
> baik dari Kompas?
> 
>   salam
>   dimast,
>   ikut prihatin juga
> 
>   --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio
> Arismunandar
>   <satrioarismunandar @...> wrote:
>   >
>   > Teman-teman,
>   > 
>   > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu),
> peneliti LIPI,
>   pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik
> Indonesia), dan istri dari
>   wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI.
> Isinya berkenaan
>   dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh
> manajemen Kompas, terkait
>   soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan
> saya di AIPI,
>   sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri
> AJI (Aliansi
>   Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah
> sama-sama kerja di Kompas.
>   > 
>   > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat
> sulit dan penuh
>   tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang
> dan tabah. Artinya,
>   perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata
> urusan Wisudo, tetapi
>   sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh
> istri/keluarga.
>   Tentu dengan berbagai risikonya.
>   > 
>   > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di
> mana nuansa
>   pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak
> sendiri, masih
>   sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada
> orang-orang yang
>   berjuang untuk idealismenya. 
>   > 
>   > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di
> Kompas, perusahaan media
>   yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran
> terbesar dan paling
>   berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah
> salah satu dari
>   sedikit media yang menyediakan pensiun buat
> karyawannya. Namun, Wisudo
>   memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko
> perjuangannya.
>   Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. 
>   > 
>   > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian,
> dan tidak ingin
>   menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus
> berjuang, di dalam
>   Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu
> alternatifnya tentu lewat
>   jalur hukum (LBH). 
>   > 
>   > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap
> aspirasi karyawan
>   yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan
> menghasilkan dampak yang
>   baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih
> merugikan Kompas
>   sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang
> terkait dengan visi
>   dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan
> perusahaan yang
>   didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 
>   > 
>   > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang
> selama ini (lihat tajuk
>   rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu
> demokratisasi,
>   keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya?
> Bukankah Kompas menganut
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke