Kalau memang sumbernya kredibel oke. Tapi kalau belum jelas, kemudian dijadikan
publikasi (sumbernya kalau-kalau saja atau kata-katanya saja), saya juga tidak
suka. Mengapa kalau tidak tahu sendiri, berani mencap sesuatu seburuk itu? Apa
bedanya dengan bajingan.
Sato Sakaki <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"Hal yang sama kini juga dilakukan oleh majalah
"Playboy". "Playboy" hingga kini tetap terbit dan
beredar karena memberikan upeti kepada ormas militan
yang meneriakkan simbol-simbol agama ketika mendemo
dan merusak kantornya di kawasan Fatmawati - selatan
Jakarta."
KOMENTAR SATO: Apa betul Playboy tetap terbit karena
memberi upeti kepada ormas-ormas militan? Ormas yang
mana? FPI? MMI? Kalau betul memang benar-benarlah tak
punya malu. Sok suci berlaku garang anti maksiat. Di
kasi duit dan barangkali juga perempuan, disantap.
Munafik besar.
---------------
From: "tbk62" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 01 Dec 2006 18:29:16 -0000
Subject: [jurnalisme] Re: Beda Kompas dengan Sabili
Salam,
Saya gatal ikut nimbrung.
Bagi saya sulit memahami, ada intelektual dan wartawan
senior yang membandingkan "Kompas" di satu sisi,
dengan "Sabili" dan "Hidayatullah " di sisi lain.
Sulit saya pahami ada intelektual, apalagi wartawan
senior, yang paham teknis jurnalistik dari basic-nya
hinga advance-nya, memberi ulasan yang bernada "sinis"
kepada "Kompas", dan bernada "respek" pada "Sabili"
dan "Hidayatullah" . Sebab, bagi saya keduanya seperti
bumi dan langit. Atas dan bawah, bukan samping kiri
dengan samping kanan.
"Kompas" sampai saat ini masih merupakan media paling
kredibel dan paling fair di Tanah Air, dengan tiras
paling besar, dan distribusi paling luas di Indonesia.
Iklannya juga paling banyak. Untuk iklan display,
bahkan harus pesan tempat jauh-jauh hari.
"Jawa Pos" dengan segala cara mencoba enembus "Kompas"
di Jakarta, bahkan bersumpah menjadikan "Kompas"
sebagai media lokal. Tapi gagal. Kini mereka membuat
"Indo Pos", dan masih "bleeding".
Saya ingat, ketika masih di meliput di lapangan dan
ngepos di beberapa departemen, 1982-1990,
menteri-menteri selalu membawa pulang koran "Kompas",
sebagai sebagai bacaan lanjutan di rumah, selain
majalah
"Tempo" yang dibawanya sendiri. Bukan dibawa ajudan,
sebagai referensi Karena membawa "Kompas" dan "Tempo"
memberi kebanggaan tersendiri.
Satu-satunya "dosa" bawaan dari "Kompas" adalah dia
lahir dari kalangan Katolik. Meski demikian, sebagai
muslim, saya tak mencium "bau Katolik" dari "Kompas",
sebagaimana saya mencium "bau kebencian muslim
fundamentalis" yang begitu menyengat kepada non muslim
- di majalah "Sabili" dan "Hidayatullah" .
Sebaliknya, majalah "Sabili" dan "Hidayatullah" adalah
media sektarian yang setiap ada kesempatan mengobarkan
kebencian, provokatif, bersemangat nendang-nendang,
insinuatif, pengerjaannya di bawah standar urnalistik,
dan di bawah standar penerbitan sebuah media yang
beredar di tempat umum.
"Sabili" dan "Hidayatullah" lebih cocok disebut sarana
onani bersama bagi kaum fundamentalis- militan -
sebagaimana "Hustler" bagi penggemar gambar porno -
yang mencari kepuasan bersama, pembenaran jalan
pikirannya sendiri, yang frustrasi karena mendapati
mayoritas Islam di Indonesia masih moderat, dan tetap
memegang "Kompas" sebagai media kredibelnya.
Republika yang semula diset up sebagai media nasional
moderat dari muslim, gagal total, dan kini jadi media
sektarian juga. Hasilnya, dia bertahan dari sumbangan
kaum politik, bukan dari tiras maupun halaman
iklannya.
Cerita tentang "Kompas" yang diperas oleh kaum
fundamentalis islam ibukota berkaitan dengan berita
Aljazair, saya dengar juga. Salahsatu motornya adalah
aktifis muslim, yang kini berperkara di pengadilan,
karena melempar tuduhan keluarga presiden menerima
sedan Jaguar dari direktur tv swasta.
Dan sejak "Kompas" memilih "mengalah" kepada para
aktifis dari kelompok Islam militan itu, dengan
memberi "upeti" dan "uang tutup mulut" - sejak itu
pula "Kompas" dijadikan mangsa intaian, untuk
sewaktu-waktu, lalai dan kepleset digertak lagi, dan
kemudian jadi "sumber penghasilan" tambahan bagi
mereka.
Hal yang sama kini juga dilakukan oleh majalah
"Playboy". "Playboy" hingga kini tetap terbit dan
beredar karena memberikan upeti kepada ormas militan
yang meneriakkan simbol-simbol agama ketika mendemo
dan merusak kantornya di kawasan Fatmawati - selatan
Jakarta.
Kini di antara mereka telah ada "saling pengertian"
karena mereka mendapat konsesi, keuntungan dari
pengamanan di jalur distribusi. Informasi ini, Demi
Allah saya dengar dari mulut salahsatu petinggi di
"Playboy" edisi Indonesia sendiri.
Kembali ke "Kompas", saya setuju Kompas bukan media
sempurna. Kadang saya juga kecewa dengan
jurnalismenya. Apalagi sebelum berubah seperti
sekarang. Cenderung muter-muter, kurang "to the
point".
Akan tetapi, kalau ada intelektual cerdas dan wartawan
senior men-sinis-i "Kompas" dengan sebaliknya
me-respek-i "Sabili" dan "Hidayatullah" tetap kurang
masuk di akal waras saya.
Sumpah!
Wassalam,
Dimas
--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, billy von daperste
<jan_daperste@ ...> wrote:
>
> Setahu saya, tidak ada orang di luar wartawan Kompas
> yang menulis tajuk rencana. Ada beberapa wartawan
> senior, selain pemred dan pemimpin umum yang juga
> ikut menulis tajuk rencana di Kompas. Wartawan
senior macam
> Ninok Leksono dan Budiarto Shambazy setahu saya juga
> menulis tajuk rencana.
> Nah persoalan tajuk rencana Kompas yang bermasalah,
> terutama terkait tajuk rencana bertema topik
> internasional, saya jadi teringat kembali ketika
> Kompas sempat bermasalah dengan golongan Islam
> fundamentalis di Indonesia, yang antara lain
> dipelopori Gogon cs (Ahmad Sumargono). Saat itu FIS
> (partai Islam di Aljazair) yang menang pemilu,
ditulis
> sebagai kelompok yang sadis dan pelaku pembunuhan
> massal. Gara-gara tajuk rencana ini, Kompas jadi
> sasaran empuk kelompok Islam fundamentalis di
> Indonesia untuk didemo. Bahkan yang saya dengar
malah,
> persoalan tersebut selesai di bawah tangan, setelah
> para pendemo yang membawa nama-nama Islam dikasih
> "uang diam" oleh Kompas.
> Kejadian ini kalau ditelisik sebenarnya juga bisa
> menimpa koran atau media lainnya di Indonesia, yang
> rata-rata berlangganan kantor berita asing barat.
Ini
> sesuai dengan irama yang ditabuh oleh kantor berita
> internasional seperti AFP, Reuters hingga AP. Inilah
> persoalannya, Kompas dalam berita-berita
> internasionalnya memang selalu mengambil rujukan
dari
> ketiga kantor berita internasional yang bias dalam
> memandang dunia Islam cukup besar.
> Kritik semacam ini memang sebenarnya lebih bisa
> dialamatkan ke redaksi kompas, atau ke forum pembaca
> kompas yang memang biasa mengkritisir berita-berita
di
> koran tersebut. Setuju, jika Kompas juga harus terus
> dikritisi, karena dia mendeklarasikan diri bukan
> media partisan.
>
> salam
> bvd
> --- yayat cipasang <yayatcipasang@ ...> wrote:
>
> > Saya pernah dengar (saya lupa sumbernya, mohon
> > dikoreksi bila salah) kadang-kadang penulis tajuk
> > rencana KOMPAS orang luar bukan orang dalam
KOMPAS.
> > Entah benar atau tidak.
> >
> > Kalau itu benar, bias seperti yang terjadi
> > beberapa waktu silam tentang keterlibatan Suriah
dan
> > Iran bisa jadi benar. Intinya KOMPAS harus terus
> > dikritisi.
> > Sirikit Syah <sirikitsyah@ ...> wrote:
> >
> > --- tiara sarita <tiarasarita@ ...> wrote:
> >
> > > Salam,
> > > Wah menarik juga mengikuti perdebatan dina dan
MGR
> > > soal tajuk rencana Kompas. Pernyataan MGR bahwa
> > > tuduhan adalah bagian dari propaganda,
sebenarnya
> > > klop dengan tajuk rencana Kompas yang secara
tidak
> > > langsung "menuduh" Suriah sebagai dalang dibalik
> > > pembunuhan Pierre Gemayel. Heran juga sih, media
> > > sekaliber Kompas menulis Tajuk Rencana yang
> > > "dangkal", setahu saya orang-orang Kompas itu
> > enggak
> > > usah diragukan lagilah kualitas awak redaksinya.
> > > Bisa jadi penulis tajuk rencana Kompas itu tidak
> > > begitu paham konflik Timur Tengah, sehingga
Tajuk
> > > Rencananya kurang tajam atau memang sengaja mau
> > > berpropaganda, heheheh. So, apa bedanya Kompas
> > > sama Sabili dan Hidyatullah. hehehe.
> > >
> > Kompas menyatakan diri sebagai koran umum yang
> > memperjuangkan kepentingan semua golongan
(sehingga
> > ketika bias golongan, pembacanya komplain/kecewa)
.
> > Sabili dan Hidayatullah terus terang menyatakan
> > bahwa mereka media partisan, mementingkan ideologi
> > tertentu.
> > Pembacanya gak akan kecewa. Yang tidak setuju
> > dengan ideologinya tidak dibujukrayu untuk
membeli,
> > membaca, apalagi berlangganan.
> >
> > salam,
> > sirikit syah
__________________________________________________________
Yahoo! Music Unlimited
Access over 1 million songs.
http://music.yahoo.com/unlimited
__________________________________________________
Anda Ber-Yahoo!?
Bosan dengan spam? Mel Yahoo! mempunyai perlindungan spam yang paling baik
http://my.mail.yahoo.com