Kasus yang menimpa wartawan senior Kompas, Paulus Bambang Wisudo sebenarnya
hanya puncak dari sebuah gunung es yang tenggelam di dasar laut Kelompok Kompas
Gramedia (KKG). TIndakan ini diperkirakan akan berdampak luas pada etos kerja
karyawan kelompok yang pernah sangat berjaya ini.
Sejak soko-guru KKG, Bp Jakob Oetama (JO) memutuskan lengser karena usianya
yang sudah lanjut, perubahan drastis memang terjadi di kelompok ini. Duet Agung
Adiprasetya-Suryopratomo yang dipercaya mengemudikan kapal besar ini sejak awal
sudah mencanangkan akan ada perubahan, terutama dari kultur.
Gaya kepemimpinan JO sebagai "bapak yang baik dan mengayomi " serta "pemilik
perusahaan kaya raya yang rendah hati" dianggap sudah tidak cocok lagi dengan
jamannya yang makin keras dengan persaingan yang ketat. Diperlukan gaya
kepemimpinan yang lugas dan tegas kepada karyawan namun bernai biacara keras
dan high-profile kepada publik.
Tidak heran salah satu pimpinan teras KKG dari kelompok BOLA mengembangkan
prinsip "jangan rendah hati" tapi arogan dan high-profile tapi memiliki
prestasi." Prinsip ini dianggap lebih cocok daripada gaya low profile,high
profit dari Pak JO.
Manajemen baru KKG ini agaknya menganggap kultur "guyub dan kekeluargaan"
yang terkenal dari KKG harus segera berganti. Dan prinsip ini sayangnya
diterjemahkan oleh para pimpinan di lapis kedua dan ketiga sebagai penyingkiran
orang-orang lama yang telah belasan atau puluhan tahun mengabdi KKG notabene
dengan figur JO-nya.
Karena itulah, KKG sekarang banyak merekrut tenaga baru, muda dan profesional
untuk menduduki posisi-posisi strategis. Mereka tidak lagi memandang proses
jenjang karir dan pengalaman sebagai sesuatu yang penting. Mereka juga
mengharap orang-orang baru ini secara perlahan dapat mengubah etos kerja KKG
yang lama yang lamban dan guyub menjadi lebih kompetitif.
Tenaga lama KKG ini diharapkan "tahu diri" dan memberi jalan buat
tenaga-tenaga baru yang dianggap lebih prospektif.
Usaha "penyingkiran" orang-orang yang masih menganut faham Pak JO ini
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1. Tidak adanya kesempatan pengembangan individual karyawan
Di berbagai kebijakan, usia maksimal bagi karyawan untuk mengikuti pelatihan
adalah 35 tahun.
2. Pergeseran posisi
Jabatan-jabatan strategis di banyak unit mulai diberikan kepada karyawan
rekrutan baru atau mereka yang berusia muda. Karyawan lama atau berusia tidak
produktif lagi dijadikan karyawan biasa.
3. Penghilangan renumerasi
Bagi karyawan lama yang mendekati usia pensiun, besaran penghasilan menjadi
hal utama. Belakangan dihembuskan isu tentang penghapusan beberapa hak karyawan
seperti dana pensiun, uang terimakasih saat pensiun, sampai tunjangan cuti.
4. Pembuangan
Beberapa karywan terancam dengan "pembuangan" dengan pemidnahan ke daerah,
seperti yang dialami Paulus Bambang Wisudo yang akan dipindah ke Ambon serta
Syahnan Rangkuti yang dipindah ke Padang. Bagi wartawan muda Kompas ini adalah
konsekuensi yang harus dijalani karena pernah menandatangani klausul, "Bersedia
ditempatkan di mana saja." Bahkan disebutkan ini semacam "kawah Candradimuka"
sebelum yang bersangkutan ditarik kembali sebagai pimpinan di jajaran redaksi.
Namun banyak kasus memperlihatkan tindakan tersebut semata-mata pembuangan
dari yang bersangkutan. Seperti yang dialami oleh fotografer kawakan Arbain
Rambey dan wartawati senior Brigitta Isworo yang pernah "digodok" di Medan,
Denpasar serta Surabaya. Atau seperti fotografer favorit saya Eddy Hasby yang
kini dibuang di Jawa Tengah. Toh, setelah kembali mereka bahkan hanya menjadi
wartawan biasa dan mulai dilupakan orang.
Namun kalau dilihat siapa jajaran pimpinan Kompas saat ini yang pernah
"digodok" di kawah Candradimuka di daerah tersebut? Bahkan pemimpin redaksi
Suryopratomo pun tidak pernah. Begitu pun jajaran lapis kedua. Belum lagi
beberapa kasus penolakan penempatan seperti ke Ujungpandang oleh seorang
wartawan.
Bagi karyawan KKG yang berjumlah belasan ribu tersebut, tindak kekerasan dan
tegas terhadap Paulus Bambang Wisudo menimbulkan banyak kekhawatiran bahwa
tindakan ini dapat menjadi presden buat karyawan lain yang dianggap bandel.
Mitos bahwa manajemen selalu bersikap persuasif dan dialogis kepada karyawan
yang bermasalah langsung sirna.
Tindakan ini dikhawatirkan pula menjadi pembenaran buat pihak-pihak untuk
melampiaskan dendam sesama karyawan. Tidak dapat dipungkiri, manajemen KKG
pimpinan duet AA-Tom masih sarat dengan orang-orang dengan paradigma lama yang
suka menjilat, oportunistis, mencari kesempatan namun kini memiliki legitimasi
dan kekuasaan penuh untuk melakukan tindakan apa pun terhadap karyawan yang
tidak mereka sukai termasuk tindak pemecatan.
Dengan situasi ketidakpatian dan ketidaknyamanan ini, secara perlahan-lahan
kultur KKG yang guyub, solid, kuat yang melahirkan sikap social-concern
seperrti diletakkan founding fathers Bpk PK Ojong dan Bpk. Jakob Oetama atau
pun senior-senior lainnya seperti Bp P. Swantoro akan berganti menjadi kultur
oportunistis, economic-animals dan bahkan homo homini lupus... Quo vadis?
---------------------------------
Bosan dengan spam? Mel Yahoo! memiliki perlindungan spam yang terbaik
http://my.mail.yahoo.com/