Saya curiga, Pak Satrio ini kurang kerjaan di TransTV. Kerjanya cuma mikirin dan ngomongin Kompas, yang notabene sudah bukan kantornya lagi he..he
Mungkin ada teman ahli penyakit jiwa yang bisa menjelaskan sindrom seperti ini ?? :)) salam dimast --- In [email protected], Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Secara bercanda, saya ngobrol dengan teman wartawan, bahwa kok seperti ada semacam siklus 5-6 tahunan di Kompas/KKG dalam pecahnya kasus-kasus ketenagakerjaan yang cukup signifikan. > > Saya masuk Kompas tahun 1988, tak lama setelah pecah kasus Albert Kuhon. Kuhon berhenti, sesudah banyak "huru-hara" terkait upayanya mendirikan Serikat Pekerja di Kompas. Wartawan Irwan Julianto dihukum dengan dibuang ke daerah. Sejumlah wartawan lain "minta maaf" pada pimpinan, dan selamat. (Kuhon setahu saya sekarang jadi dosen jurnalistik di Universitas Pelita Harapan). > > Tahun 1995, saya dan Dhia Prekasha Yoedha dipaksa berhenti dari Kompas, tak lama sejak berdirinya AJI dan pembreidelan Tempo, DeTik, Editor 1994, serta terkait pula dengan aktivitas kami di SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia). Ini juga terkait dengan situasi politik waktu itu (tekanan dari rezim Soeharto via Menpen Harmoko, dan PWI). > > Tahun 2000, kasus Stanley dkk di Majalah Jakarta-Jakarta (ada debat sengit dengan Widi Krastawan, yang mewakili manajemen KKG Majalah). Stanley dkk menerbitkan buletin "Suara Serikat" sebagai media perlawanan (saya kebetulan masih menyimpan 2 copynya). > > Tahun 2006, Kasus Bambang Wisudo. Belum jelas apa ujungnya dan dampaknya. > > Apakah "siklus" ini menandakan ada suatu permasalahan endemik yang belum tuntas, dalam institusi KKG/Kompas? Ataukah ini sekadar cetusan biasa dan proses yang umum dihadapi suatu perusahaan, yang berkembang menjadi industri besar dan konglomerasi media, dengan segala pergeseran nilai dan kepentingan di dalamnya? Entahlah.... > > Buruh industri pers, > Satrio A.
