Untuk menghindarkan kritikan tajam dan olok-olok, alangkah baiknya kita
terima kritikan itu dengan istighfar, mari kita terjemahkan kita tafsirkan
dan kita terapkan ajaran agama dengan bijaksana dan toleran juga. Berlaku
bagi semua Ulama dan Umaroh dan siapapun juga umat Islam,sehingga tidak ada
dikotomi dan stigmasi Islam ini atau Islam itu. Kita tidak hidup di jaman
jahiliyah, tetapi hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan mengakui beberapa agama sebagai agama resmi,
Negara juga memiliki etika hubungan antar negara secara internasional.
Jangan sedikit-sedikit membawa nama agama membela warga negara lain yang
jauh dari jangkauan, sedangkan tetangga kanan-kiri kita yang juga sesama
umat masih banyak yang tidak terpelihara.. bukankah sering kali umat hanya
berjuang mencari obsesi ? Hanya mau melakukan sesuatu kalau populer meskipun
sudah pasti tidak mampu sampai pada taraf manfaatnya, sementara yang jelas
di depan mata tidak dilakukan karena tidak populer dan tidak keren.
Sebagai contoh kasus juga : kalau dipikir bukankah ada kontradiksi dalam
kasus Imam Samudra cs, sementara Islam tidak mau disudutkan sebagai penimbul
kekerasan, tetapi kenapa pembelanya mesti pakai nama Tim Pembela Muslim.
Kalau memang tidak setuju stigmatisasi Islam ya.. pelakunya jangan dibela
dengan alasan sesama umat Islam karena memang perilakunya tidak sejalan
dengan ajaran Islam yang benar. Justru seharusnya disesalkan dan disadarkan
bahwa dia penganut ajaran yang tidak sesuai dengan inti ajaran Islam yang
justru merusak citra Islam.

Wassalam.



On 12/18/06, Arya Sakti Timur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   Ny Haysaf Salim... Smoga anda diberi panjang umur...dan kemudahan dalam
beraktivitas, smoga Tuhan memperlancar saudara dalam segala urusan sehingga
yang ada adalah berfikir Positif..Semoga dendam, tendensi tidak mempengaruhi
kejernihan berfikir kita semua...

Ehm.... Tidak kah kita ini ingin hidup yang lebih bersahaja dengan
bersahabat tanpa harus mengolok-olok...

Tidakkah olok-olok kita malah akan membangkitkan olok-olok berikutnya...

Berfikir positif saja.... Semoga Tuhan memberi pengampunan bagi semua yang
mengolok-olok Tuhan Muhammad, Tuhan Ibrahim, serta Tuhan Ny Hafsah Salim....


*loekyh <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

 Saya cari2 kok tak ada tulisan bu Hafsah Salim di Mediacare ttg contoh
yg tepat sekali bagaimana suatu korupsi bisa dilakukan berdasarkan
penafsiran sepihak ayat2 kitab suci. Walaupun tafsiran sepihak, tetap
saja banyak pemuda2 muslim yg mau mengikuti perintah sesuai tafsiran
sepihak ini.

Contoh yg bagus ini juga memberi ilustrasi bagaimana banyak anak2 muda
dieksploitasi dg isu2 agama sampai mereka mau bekorban nyawa segala,
padahal yg mendapat untung besar adalah orang2 yg memperalat mereka
atas nama agama. Mis. Hizbullah, Hamas, dsb, tak akan mendapat aliran
dana seandainya dulu mereka mengawali 'perjuangan' mereka tanpa
memperalat anak2 muda muslim.

Dalam contoh HS, pelakunya seorang camat. Ttp bisa juga si camat
termasuk di antara mereka yg diperalat oleh jajaran aparat di atas
camat atau pihak2 lain dan camat cuma dapat sedikit bagian dari dana
yg dikeluarkan untuk mengembalikan kepala2 patung Borobudur tsb.

--- "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Untuk mengajarkan umat Islam itu korup, tak
> perlu dalam alQuran dituliskan harus
> mengambil uang negara !!! karena dizaman
> AlQuran ditulis sekalipun belum ada negara,
> dan belum ada uang seperti dizaman
> sekarang.

> Cukup ditulis bahwa umat Islam wajib menghancurkan patung2 dan
> menyembelih para penyembahnya. Maka hasilnya anda saksikan di Candi
> Borobudur sebagai contoh yang paling sederhana !!! Sewaktu wakil2
> Unesco baru datang pertama kali, kepala semua patung2 Buddha hilang
> tidak ada. Akhirnya ahli2 Unesco ini menyumbangkan dana puluhan juta
> dollar untuk mencari kepala patung2 itu agar dipugar kembali semua
> patung2 tsb. Anehnya, cuma dalam sebulan, semua kepala patung2 itu
> utuh kembali ditempel dengan semen khusus yang di import dari Amerika.
>
> Setelah wakil2 Unesco memfoto hasil pemugarannya berhasil, maka untuk
> maintenance-nya setiap tahun diberi sumbangan beberapa juta dollar
> saja. Demikianlah setelah beberapa tahun berlalu dan wakil Unesco
> kembali memantau hasil maintenance-nya itu, ternyata kepala2 patung
> itu kembali hilang sehingga kembali biaya pemugaran yang jumlahnya
> puluhan juta harus dialirkan agar kepala2 patung2 itu kembali utuh.
>
> Kemana kepala2 patung2 itu ??? Jawabnya sederhana, pemuda2 Islam
> diminta untuk memecahkan kepala2 patung itu dan membawanya kerumah
> kepala kecamatan setempat untuk dikumpulkan atau disembunyikan, dan
> baru dipasang lagi setelah datang biaya pemugaran dari Unesco. Para
> pemuda Islam perusak candi Borobudur tak perlu dibayar, karena mereka
> bekerja dengan bayaran pahala bukan bayaran dollar.
>
> Demikianlah, semua ajaran Islam yang isinya melanggar HAM dan
> Demokrasi merupakan ajaran2 korup yang merusak negara dan system
> administrasi management negara. Poligami juga merupakan ajaran korup
> yang banyak sekali variasi dan cara2nya, mulai dari kawin mutah hingga
> yang dinamakan pelacuran dijalanan semuanya bisa halal asal didahului
> dengan kata2 "kawin atau nikah". Misalnya, kawin jam2an, artinya sama
> dengan pelacuran, tapi dalam Islam tidak boleh dinamakan pelacuran
> tapi kawin mutah, atau kawin betah, dlsb., yang penting ada didahului
> dengan kata "nikah" dengan berbagai istilah2 Arab lainnya.
>
> Terlalu banyak contoh2 ajaran yang korup dalam Islam. Secara
> menyeluruh saya hanya menyatakan ISLAM ADALAH AJARAN BIADAB YANG
> ARTINYA JUGA KORUP.
>
> Ny.Muslim binti Muskitawati.




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com



Kirim email ke