Gue dukung pandangan kawan ini! Sangat realistis sekaligus mengundang empati.
Kayaknya warga milis yang terhormat perlu digugah kembali, agar segenap daya analisis mereka yang hebat, bisa pula dicurahkan ke berbagai peristiwa yang menerpa dunia jurnalistik di negeri kita akhir-akhir ini. Who care guys? Salam damai selalu, Hadiwin --- ahmad su'udi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Jujur saya sangat kecewa pada komunitas milis ini, > sebuah milis yang konon ada karena kepedulian > terhadap > profesi jurnalistik. Milis yang beranggotakan para > wartawan hebat dari berbagai media besar. > > Tapi sayangnya, selama ini yang diributkan > justru-lebih banyak- perkara-perkara jauh dari dunia > jurnalistik. Poligamilah, olok-olok agamalah. > > Ketika ada persoalan yang langsung berkaitan dengan > profesi wartawan dan memiliki potensi menghancurkan > kredibilitas wartawan, semua diem. Bungkam! Seolah > perkara itu tak penting dan harus diabaikan. > > Beberapa kali saya posting persoalan penting terkait > kewartawanan. Presepsi saya, masalah itu sangat > urgen > untuk disikapi secara internal wartawan dan jika > memungkinkan jadi embrio gerakan perbaikan. Seperti > soal Porwanas yang hanya menggerogoti uang rakyat. > > Terakhir saya postingkan dugaan perdagangan kartu > pers > di Bengkalis. Sayangnya nyaris nihil tertarik > membahasnya. Hanya Mas Satrio yang bersedia > memposting > ulang kiriman saya itu ke beberapa milis. > > Jujur saya heran dengan tuan-tuan yang mengaku > wartawan hebat di berbagai media besar dan > berpengaruh. Anda berkoar-koar tentang > profesionalisme > jurnalistik. Anda bicara mengenai pentingnya > wartawan > bersikap adil dan proporsional dan menyikapi sebuah > persoalan, tetapi Anda tak pernah peduli pada marwah > profesi ini. > > Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan besar > dunia > wartawan Indonesia (baca:PIW). Meskipun dilakukan > oleh > satu organisasi, namun Porwanas merupakan legitimasi > bahwa semua wartawan penggerogot uang rakyat. Selain > itu Porwanas terbukti menjadi ajang manipulasi > profesi. Setiap digelar ajang ini ada puluhan oknum > bukan wartawan diberi kartu biru PWI untuk bisa jadi > atlet. > Kenapa Anda sekalian tidak tergerak untuk bersuara, > mengajak rekan sejawat yang sepikiran untuk bergerak > menghentikan Porwanas? Antau Anda sekalian juga > mendapat keuntungan dari kegiatan yang didanai uang > rakyat puluhan miliar itu? > Kasus wartawan tanpa media jelas atau bodrek. > Mengapa > Anda sekalian juga tak peduli. Seprofesional apapun > Anda sebagai wartawan, percayalah, di pandangan > umum, > Anda disamakan dengan bondrek. Bagi saya bodrek itu > sudah masuk ranah kriminal. Mereka memanfaatkan > profesi wartawan untuk melakuka penipuan. Mengapa > Anda > sekalian membiarkan itu terus merebak? > > Sampai sekarang nyaris tidak ada langkah signifikan > untuk menutup ruang gerak para pelaku kriminal atas > nama bodrek. Akibatnya kelompok ini semakin lama > terus > berbiak dan kian membuat wajah jurnalistik Indonesia > kia berlalat. > > Wahai tuan-tuan yang penuh dengan teori > profesionalisme jurnalistik, sampai kapan Anda hanya > bisa berkoar, tanpa ada langkah nyata untuk menjaga > dan memelihara marwah profesi ini? > > > Luah yang resah > > ahmad s.udi > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > protection around > http://mail.yahoo.com > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
