> Roy Hamandika <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear Milisers, > Kita tidak boleh lupa juga akan kebodohan pemerintahan kita > khususnya Soeharto/TNI yg mau diperalat oleh Amerika dan Australia. >
Apakah kalo anda yang jadi presiden tidak akan bisa diperalat oleh Amerika atau Australia ???? Dungu bukan ???? Kalo anda mau meneliti rencana Mabes Abri, anda akan tahu, bahwa rencana mengambil alih Timor Timur sudah direncanakan oleh Bung Karno jauh sebelum Irian Barat berhasil diambil alih. Pada tahun 1952, Bung Karno sudah menyusupkan mata2 dari Abri ke Timor Timur dan berhasil membangun partai politik yang menentang Fretilin disana. Barulah dizaman Suharto, Indonesia mendapat support dari Amerika untuk mengambil alih Timor Timur dalam kaitannya kemungkinan penyebaran komunisme disana sementara Amerika masih sibuk dengan perang Vietnam. Jadi jangan diputer balik bahwa Indonesia diperalat Amerika, justru Indonesialah yang memperalat Amerika untuk menganeksasi Timor Timur, dan hal ini disadari Amerika setelah urusan Vietnam telah berakhir, pelanggaran2 HAM oleh Indonesia menyebabkan Amerika tidak bisa berkutik lagi membela Indonesia. Ny. Muslim binti Muskitawati. > Setelah revolusi bunga (?) di portugal, Timtim menjadi daerah yg terlantar. Karena waktu itu masih era perang dingin antara AS/Uni Eropa dengan Uni Soviet, Amerika begitu takut Timtim jatuh ke blok timur seperti halnya Macao. Untuk itu, Amerika "menyetujui" invasi Indonesia ke Timtim. Australia juga takut Timtim akan menjadi basis komunis dari utara sehingga diam-2 mendukung invasi tsb. Australia juga melakukan hal tsb supaya Indonesia mau mengakui kedaulatan mereka atas pulau pasir ( Australia menyebutnya Ashmore Reef ) yg berada di selatan pulau Rote, NTT padahal pulau tsb adalah bekas jajahan belanda sehingga seharusnya menjadi bagian dari NKRI. Nelayan tradisional rote juga sudah ratusan bahkan mungkin ribuan tahun mencari ikan sampai ke pulau pasir ini dan dulunya masuk wilayah kerajaan rote. > > Timtim memang tidak pernah dijajah Belanda sehingga seharusnya tidak menjadi bagian NKRI. Tapi karena mendapat lampau hijau ( tidak terang-2an ) dari AS dan Australia, invasi Indonesia ke timtim dilakukan juga. Alasannya pada masa kerajaan majapahit, seluruh pulau timor termasuk wilayahnya sehingga ada kesamaan budaya dengan Timor barat dan propinsi NTT pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. > > Jangan lupa pula bahwa waktu itu, timtim adalah daerah yg ditelantarkan. Kelaparan dan wabaha penyakit ada dimana-mana. Konon kabarnya, jumlah sekolah bisa dihitung dengan jari. Rakyat sangat miskin dan terbelakang. Tidak infrastruktur sama sekali. Jalan beraspal cuma beberapa km saja. > > Indonesia datang sebagai dewa penyelamat, triliunan rupiah ditanamkan. Berbagai infrastruktur dan sekolah dibangun. Dalam 24 tahun masa integrasi dengan RI, masyarakat timtim maju pesat. Putera-puteri asli timtim dikirim bersekolah ke sekolah-2 terkemuka di Indonesia dengan fasilitas beasiswa. > > Setelah menjadi pintar dan mengalami pembangunan yg luar biasa, oleh kesalahan Habibie, opsi referendum diberikan kepada timtim. Amerika dan Australia tidak lagi mendukung Indonesia karena perang dingin sudah tidak ada lagi, USSR sudah bubar. Australia juga sudah mendapatkan pengakuan atas pulau pasir. Konsesi pembagian cadangan minyak dilaut Timor yg menguntungkan australia pun sudah ditanda tangani. > > Semua tahu akhirnya, timtim lepas dari Indonesia. Kerugian materi yg jumlahnya sangat besar yg sudah ditanamkan di timtim menjadi percuma. Kalau saja timtim tidak pernah menjadi bagian Indonesia, belum tentu mempunyai infrastruktur seperti sekarang ini. Timtim itu adalh negara dengan sumber daya alam yg minim. Tidak mungkin selamanya mengantungkan diri kepada domor dari negara asing. Belum tentu menjadi negara merdeka sendiri menjadi pilihan terbaik bagi mereka. masih perlu dikaji lagi 25-50 tahun ke depan. > > Coba saja waktu itu Pemerintah kita tidak mau diperbodoh oleh AS dan Australia, kita tidak perlu menanggung malu yg begitu besar dalam kasus Timtim ini. Semoga ini menjadi pembelajaran buat kita semua. > > Yg perlu adalah bagaimana membuka lembaran baru ke depan dan hidup berdampingan dengan damai dengan negara tetangga. > > Salam > > bagus taruno legowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > repotnya masih banyak orang belum bisa secara dewasa melihat berbagai > persoalan. > contohnya, apabila ada pernyataan dari Xanana yang mendeskriditkan > Indonesia, dalam sudut pandang Xanana mungkin saja benar, so tidak ada > masalah. > > hanya saja, pernyataan-pernyataan seperti itu sering kemudian > dipelintir-pelintir lagi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab > (repotnya orang Indonesia sendiri) dan dipergunakan untuk "menohok" > Indonesia. > > apabila ada orang asing mendeskriditkan Indonesia (sekalipun atau > apalagi itu benar), itu sebenarnya hak mereka karena mereka mengalami > pengalaman buruk dengan Indonesia. > > tapi kalau pernyataan itu kemudian dimanfaatkan dengan menggunakan > "efek ribon" oleh orang-orang Indonesia sendiri, untuk memukul bangsa > sendiri, itu yang keterlaluan. > > silahkan saja, orang-orang asing ngomong minor tentang Indonesia. > namun, kita sebagai bangsa Indonesia berhak dan wajib untuk membela > harga diri bangsa dengan cara yang elegan. artinya, kita terima kritik > atau omongan minor itu, sembari mengatakan, "terima kasih, semua > masalah yang anda sampaikan itu adalah masalah kami sendiri, anda > tidak perlu ikut campur masalah kami, dan kami mempunyai cara sendiri > untuk menyelesaikan urusan bangsa kami." > > jadi, persoalannya pada kedewasaan kita sebagai bangsa. jati diri kita > sebagai bangsa belumlah matang. tapi perlu terus dipupuk dan ditempa, > agar betul-betul menjadi matang. > > pemutaran filem Xanana sebenarnya tidak ada masalah sepanjang itu > dalam konteks seni. apabila sudah di putar di media publik seperti TV, > perlu perimbangan dengan mengadakan wacana atau debat publik antara > yang pro dan kontra sehingga setiap orang dapat mengambil nilai-nilai > yang ada di dalamnya secara obyektif. masyarakat cukup dewasa untuk > itu apabila ada wacana pro-kontra secara jelas. tapi kalau tidak > diimbangi dengan debat publik, yang terjadi adalah monolog, dan dapat > ditafsirkan seolah-olah filem itu menyatakan kebenaran. disini menjadi > masalah. > > Xanana dan Timor-Timur bagi Indonesia adalah masalah sulit, kompleks > dan multi-dimensi, serta sangat sensitif. hitam-putihnya masih kabur > tergantung dari sudut mana kita melihatnya. nah, karena itu perlu > menempatkan filem Xanana itu pada posisi yang tepat, bukan untuk > membela salah satu dan mengorbankan yang lain. tapi kita harus melihat > dengan obyektif dan dewasa, pertama karena fakta, tapi juga ada fakta > yang lain mungkin kontra. > > On 12/19/06, eko adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya setuju dengan pelarangan film Xanana diputar di > > JIFFEST itu. Dan sangat mengutuk penayangan Xanana di > > Metro TV yang seolah-olah difigurkan sebagai > > pahlawan.. > > Xanana memang (mungkin) pahlawan bagi sebagian orang > > Timor-Timur. Tapi, ia tetap bekas PEMBERONTAK bagi > > Indonesia. > > Cukup Indonesia mengakui kemerdekaan Timor Leste, > > BUKAN terus memuja-mujinya. Bukankan itu sama saja > > melempar kotoran ke muka sendiri, dan METRO TV sudah > > melakukannya. > > Kenapa bukan dokumentasi para Tentara Indonesia yang > > ditampilkan di layar kaca untuk sebuah penghargaan > > bagi mereka, bagi anak, istri, orang tua yang > > ditinggalkan mati saat menumpas pemberontak. > > Ini bukan melulu membela tentara, tapi adakalanya > > sebagai bangsa kita harus memiliki sedikit keguyuban. > > Kesalahan tentara yang menyangkut pelanggaran HAM, > > tetap harus dusut tuntas. > > Keanehan bangsa ini laiinya adalah ada bekas > > pemberotak/GAM yang jadi gubernur...ANEH!!!! > > > > Adi. > > > > > > > > --- radenayu asli <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Aneh kalau Film mengenai Xanana dilarang diputar di > > > JIFFEST. Kalau itu fakta, mengapa tidak?! > > > Jangan-jangan ada unsur Orde Baru yang melarang. > > > Bukankah Indonesia sebenarnya waktu itu menjajah > > > Timor > > > Timur? Karena menurut hukum dan sejarah, wilayah RI > > > adalah semua wilayah Hindia Belanda, atau wilayah > > > bekas jajahan Belanda. Padahal Belanda tidak pernah > > > menjajah Timor Timur.Ini berarti Pemerintah Orde > > > Baru > > > sudah melanggar UUD 45 yang tidak membenarkan adanya > > > penjajahan di muka bumi. > > > > > > --- nini_sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > > > > > Xanana: Dibalik Sosok Sang Presiden > > > > > > > > Film dokumenter A Hero Journey menimbulkan > > > > kontroversi. Beredar rumors > > > > bahwa film tentang Xanana Gusmao ini dilarang > > > > diputar di acara JIFFEST, > > > > karena beberapa adegan dan pernyataan di dalam > > > film > > > > itu dinilai > > > > mendiskreditkan Indonesia. > > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com >
