Sangat disayangkan apabila hidup yang singkat ini kita hanya terpaku dengan apa yang namanya Hubungan Intim, Karena Tuhan Memberikan kita hidup dengan Misi yang jauh lebih besar dari sekedar berhubungan sexual.
----- Original Message ----- From: [EMAIL PROTECTED] To: [email protected] Sent: Tuesday, December 26, 2006 10:45 AM Subject: Re: [mediacare] Ujian Cinta dari Geger Kalong (pilihan yg picik) Setuju mas jual gosip.... Saya banyak bertemu laki-laki yang mampu menahan syahwatnya walaupun istrinya sakit, mandul, cacat, atau semacamnya..... Sy pikir mereka lah sebenarnya yg menang, karena berhasil melawan diri sendiri dalam menahan nafsunya...... salam, "jual gosip" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 12/23/2006 10:30 AM Please respond to [email protected] To [email protected] cc Subject Re: [mediacare] Ujian Cinta dari Geger Kalong (pilihan yg picik) Anda memposisikan laki-laki pada posisi yang sangat salah. Dari tulisan tersebut anda hanya memberikan dua pilihan yang sama-sama mengumbar napsu belaka. Betapa tidak, baik poligami maupun melacur, ujung-ujungnya berhubungan badan, apapun dalihnya. Padahal banyak laki-laki yang setia pada pasangannya dan bersama-sama membesarkan anak-anaknya. Tapi anda mengesankan semua laki-lagi untuk mengumbar napsunya harus dengan cara melacur atau kawin lagi. Sungguh pemikiran yang sangat picik Jual Gosip Wartawan Yang Tidak Pernah Membuat Berita Gosip --- aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dari kiriman teman > > Ujian Cinta dari Gegerkalong > > 20 Des 06 10:21 WIB > > > > Oleh Bahtiar HS > > “Pak Herman, gimana nih, Pak?” > > Pak Suherman Rosyidi, dosen Fakultas Ekonomi Unair > yang tetangga saya itu menoleh kepada asal suara. > Dua > orang sekretaris Dekan menegurnya di pintu masuk > ruang > itu. Keduanya perempuan. Seorang, sebut saja Bu A > sudah memiliki 3 orang anak. Dan Bu B sudah menikah > tetapi belum dikaruniai anak. > > “Gimana apanya, Bu?” tanya Pak Herman > pada > mereka. > > “Gimana kok Aa’ Gym menikah lagi, > Pak?” keluh Bu A. “Kenapa mesti > poligami?” > > Pak Herman tersenyum. Kalau ada masalah-masalah > seperti ini, anggota Dewan Ekonomi Syariah itu > memang > biasa menjadi “jujugan”. Tempat bertanya > atau mengadu. Beliau kemudian menghampiri kedua ibu > muda itu. > > “Begini, Bu,” kata Pak Herman. > “Coba > jawab pertanyaan saya dengan jujur dan ikhlas, dari > hati nurani ibu yang paling dalam.” > > “Apa itu, Pak?” sergah Bu B. > > “Tolong pilih satu di antara dua,” kata > Pak Herman berteka-teki. “Kalau ibu disuruh > memilih, antara: merelakan suami ibu menikah lagi > atau > merelakan suami ibu melacur, ibu pilih yang > mana?” > > Kedua wanita itu terperanjat seperti mendapatkan > pertanyaan yang tak pernah didengar sekalipun selama > hidupnya. > > ”Kok pertanyaannya seperti itu, Pak?” > protes Ibu A. > > “Saya tak memilih dua-duanya, Pak!” > tegas > Ibu B. > > “Ok. Ok,” potong Pak Herman. > “Jikalau pertanyaan itu terlalu berat untuk > dijawab, pertanyaannya saya ganti.” > > “Diganti gimana, Pak?” > > “Saya ganti begini,” lanjut Pak Herman. > “Jikalau ada seorang isteri diberikan pilihan > -- > bukan Anda berdua, lho? -- yaitu merelakan suaminya > menikah lagi atau merelakan suaminya melacur, > kira-kira isteri itu milih yang mana?” > > Kedua ibu itu saling berpandangan. Keraguan segera > merayap dalam senyap. Pak Herman sendiri dengan > sabar > menunggu. Dan dalam sepuluh-lima belas detik > kemudian, > seseorang menjawab. > > “Ya, pilih suami menikah lagi, Pak?” > kata > Bu A sambil melirik, mengharap dukungan Bu B di > sebelahnya. “Bukan begitu, Bu?” > > Bu B mengangguk-angguk. “Ya, gimana lagi kalau > pilihannya hanya itu.” > > “Alhamdulillah,” jawab Pak Herman. > “Ibu-ibu ternyata masih bersih.” > > “Masih bersih gimana, Pak?” tanya > keduanya > hampir berbarengan. > > “Ibu-ibu masih bersih,” jelas dosen itu. > “Masih bisa membedakan antara yang benar dan > yang bathil. Antara yang halal dan yang > haram.” > > *** > > “Saya heran sama orang Indonesia , Pak > Herman!” seru Bu Icy dengan logat Amerikanya > yang tak bisa dihilangkan. > > “Heran gimana, Bu?” tanya Pak Herman > pada > temannya yang sesama dosen itu. Sudah berbilang > tahun > wanita itu mengajar di kampus ini sejak ia menikah > dengan orang Indonesia asli. > > “Mengapa mereka menolak poligami yang > nyata-nyata ada dan dibolehkan di dalam > Islam?” > tanyanya sungguh. > > Pak Herman sejenak tersentak. Bagaimanapun yang ada > di > hadapannya itu adalah wanita Barat. Bukan muslimat > lagi. Ia penganut Kristen. “Menurut Ibu, apa > yang menyebabkan mereka seperti itu?” > > “Masalahnya sudah jelas, Pak Herman. Kalian, > orang Indonesia , sudah terkontaminasi dengan apa > yang > datang dari Barat.” > > “Apa itu?” > > “Kapitalisme!” > > “Kapitalisme?” > > “Ya. Sebuah pandangan yang menganggap segala > yang dipunya sebagai ‘milik’. Suami saya > adalah milik saya. Bukan dan tak akan menjadi milik > wanita lain. Tak logis dalam benak mereka untuk > berbagi suami dengan orang lain. Itulah ruh > kapitalisme, Pak.” > > Pak Herman manggut-manggut. Tak dinyana, perempuan > “barat” itu punya pendapat sedemikian. > Ia > memang telah banyak belajar tentang Islam, meski > sayang belum memeluknya hingga sekarang. > > “Sedangkan dalam pandangan Islam, semua yang > ada > ini ‘ kan milik Tuhan?” lanjut wanita > itu. > “Sehingga, berbagi dalam Islam adalah sesuatu > yang common-sense.” > > Pak Herman kemudian bertanya, “Lantas menurut > Ibu, apa masalahnya dengan penolakan > poligami?” > > “Masalahnya, Pak, ketika pintu poligami > ditutup,” kata wanita asing itu, “maka > pintu pelacuran akan terbuka lebar-lebar.” > > *** > > Itulah pengantar perbincangan seputar poligami oleh > Ust. Suherman Rosyidi – kami memanggil beliau > Pak Herman -- di Masjid Rungkut Jaya Ahad pagi ini. > Agaknya fenomena heboh Aa’ Gym yang menikah > lagi > itu turut menghangatkan beranda masjid ini setelah > diguyur hujan semalam. > > “Kalau saya baca press release Aa’ Gym > awal Desember lalu,” kata saya turut > menanggapi, > “sebenarnya ada 4 calon yang diajukan > Aa’ > Gym sebagai isteri kedua. Satu, gadis. Kedua, janda > tanpa anak. Ketiga, janda dengan cukup banyak anak. > Dan keempat, nenek-nenek gampang masuk angin.” > > Hadirin tersenyum. Saya berusaha menahan diri. > > “Aa’ Gym sebenarnya sudah memilih yang > ketiga, janda dengan cukup banyak anak,” kata > saya melanjutkan. “Hanya saja, ia mantan > model. > Sebagaimana banyak laki-laki yang poligami, biasanya > isteri keduanya adalah seorang gadis, lebih muda dan > cantik ketimbang isteri pertama. Coba jika > seandainya > Aa’ Gym memilih calon yang keempat, pasti > tidak > akan terjadi kehebohan seperti ini, Pak!” > > Gerr. Dan Ust. Herman pun tersenyum. “Tetapi, > apa salahnya Aa’ Gym memilih janda dengan > sekian > anak?” tanyanya kepada hadirin seakan ingin > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
