Bung Usep,
Dugaan saya karena anda orang Indonesia, petugas
keamanan Kedubes AS di Manila itu mengira anda anggota
jaringannya Dulmatin dan Umar Patek yang oleh AS
dijanjikan hadiah masing-masing $10 juta dan $ 1 juta
dollar bagi yang bisa memberikan info yang
menghasilkan penangkapan mereka. Jadi barangkali dia
itu mengira anda itu ber-potensi "rejeki". 

Selain itu hendaknya anda tahu orang Indonesia itu
"termasyhur" di Filipina dan karena itu sering
diperlakukan "istimewa". Selain Dulmatin dan Umar
Patek
ada lagi yang namanya Fathur Rakhman al-Ghozi yang
sempat lolos dari penjara tetapi kemudian ditembak
mati di Pulau Mindanao. Selain dia ada lagi Agus Dwi
Karna yang namanya pernah jadi berita setiap hari. 

Dan bersamaan dengan pemberitaan mereka, orang
Filipina juga mengenal nama Riduan Isamuddin alias
Hambali dan Abu Bakar Baasyir. Belum lagi Umar
al-Farouk, Imam Samudra, Amrozi, Mukhlas dan
lain-lainnya. Belum lagi penggorokan tiga siswi kelas
satu SMU dari desa miskin yang sedang jalan kaki ke
sekolah melintasi hutan di Poso. Jadi orang Indonesia
itu "termasyhur", dan kebetulan anda memotret-motret
seenaknya, di depan gedung kedutaan Amrik lagi.
Klop-lah nasib buruk anda. 

Kalau anda hendak mempersoalkan dan menuntut ganti
rugi keuangan dan penderitaan mental dengan nilai uang
sekian ratus juta atau semilyar saya kira pantas, cari
saja pengacara. Tetapi yang juga patut anda maki atas
kesulitan yang menimpa anda adalah nama-nama yang saya
sebut di atas. 

--- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: "Usep Suhud Natapura" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Pelecehan Hak Sipil Warga Indonesia oleh
> Kedutaan Amerika di Manila - Filipina
> 
> Pelecehan Hak Sipil Warga Indonesia oleh Kedutaan
> Amerika di Manila -
> Filipina
> 
> 
> 
> Apa jadinya jika sebuah negara adidaya memanfaatkan
> kekuasaannya untuk
> menginjak hak-hak sipil dan menganggap bahwa hidup
> seorang individu tidak
> lebih penting dari kepentingannya?
> 
> Liburan akhir tahun ini saya isi dengan melakukan
> perjalanan ke Malaysia dan
> Philippine. Saya terbang bersama Air Asia pada hari
> Sabtu, 23 Desember 2006
> dengan tujuan Kuala Lumpur.
> 
> Selasa, 26 Desember, saya melanjutkan perjalanan ke
> Philippine, dengan
> tujuan Manila yang mendarat di Clark Airport. Ini
> adalah kunjungan saya yang
> pertama kali ke Philippine. Air Asia tidak
> menyediakan jasa penerbangan
> langsung Jakarta-Manila. Saya rencanakan, akan
> kembali ke
> Kuala Lumpur tanggal 31 Desember untuk merayakan
> pergantian tahun dengan sejumlah teman.
> 
> Pemesanan semua tiket pesawat dan voucher hotel baik
> di Malaysia maupun di
> Filipina, saya lakukan melalui internet. Sehingga
> semua data akurat tentang
> saya tercantum baik di airline maupun di hotel-hotel
> yang saya pesan.
> 
> Kamis, 28 Desember, saya mengunjungi Malate, sebuah
> kawasan turis yang
> sangat terkenal di Manila. Malate ini terletak di
> tepi Teluk Manila yang
> jika sore hingga larut malam, kawasan ini menjadi
> pasar malam yang sangat
> ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun turis
> asing. Bahkan sejumlah
> panggung hiburan didirikan untuk menghibur para
> pengunjung. Hari itu selain
> keluar masuk kawasan Malate, saya juga melintas
> Roxas Blv untuk melihat-lihat teluk.
> 
> Kamis, 28 Desember itu juga, saya memutuskan pindah
> dari hotel di daerah
> Paranaque yang jauh kemana-mana [masih kawasan Metro
> Manila], ke Malate.
> 
> Photography adalah hobby saya. Kemana-mana selama
> liburan ini, saya membawa
> kamera untuk membuat banyak foto. Saya membawa dua
> kamera sekaligus, satu
> kamera digital dan satu kamera analog. Saya memotret
> apa saja. Jalanan,
> rambu lalu lintas, gedung-gedung, aktivitas orang,
> dll. Tak semua subject
> saya foto dengan serius. Kadang, sambil jalan bahkan
> tanpa melihat sama
> sekali pada subect yang saya bidik. Jika Anda
> memiliki hobi yang sama dengan
> saya, Anda akan maklum dengan apa yang saya lakukan.
> 
> Setelah puas melihat teluk dan membuat beberapa foto
> di sana, saya berjalan
> menyusuri pedestrian. Rencana saya adalah
> mengunjungi Intramuros, sebuah
> kawasan bersejarah penuh bangunan tua di sebelah
> utara Malate. Di depan
> sebuah gedung yang tidak terlalu saya perhatikan,
> saya melihat seorang pria
> tua sedang menuntun anjing. Dengan gaya snapshot
> tanpa melakukan bidikan
> yang serius, saya memotret orang itu dengan
> anjingnya.
> 
> Saya tidak menyadari bahwa gedung yang ternyata
> dijaga ketat itu adalah
> gedung kedutaan Amerika. Seorang tentara yang
> melihat apa yang saya lakukan,
> memanggil saya. Saya kemudian diajak masuk ke
> bangunan depan kedutaan.
> Seorang Amerika bernama Orlando Valasquez melakukan
> interogasi.
> 
> Saya sudah katakan bahwa apa yang saya lakukan
> sangat tidak berkaitan dengan
> kegiatan memata-matai gedung, apalagi kegiatan
> orang-orang di dalamnya.
> Selama tiga jam saya ditanya dengan berbagai
> pertanyaan yang diajukan
> masing-masing dua hingga tiga kali, seperti
> misalnya: sudah berapa kali
> mengunjungi Filipina [sekali], mengapa memilih
> Filipina untuk berlibur
> [what's wrong with Phillippine?], mengapa mampir ke
> KL dulu sebelum ke
> Manila [ask the airline], mengapa mesti check out
> tanggal 31 Desember [o,
> please], apakah ada orang Filipina yang saya kenal
> [Sure, Arroyo the
> Presiden], mengapa saya menyimpan sobekan karcis
> bioskop [come on]?.
> 
> Pria Amerika yang bernama Orlando Valasquez itu juga
> membongkar isi
> handphone, isi dompet, memfoto copy semua dokumen
> seperti KTP, SIM,
> Passport, tiket pesawat, kartu kredit, termasuk juga
> membongkar buku catatan
> dan mengambil
> kartu nama. Dia juga melakukan telepon ke hotel
> dimana saya tinggali, juga
> ke kantor di mana saya bekerja di Jakarta.
> 
> Setelah lebih dari 3 jam itu, saya kemudian dilepas.
> Tanpa ada surat
> penggeledahan, tanpa ada pendampingan dari pihak
> mana pun.  Saya mengira
> urusan sudah selesai ketika sebelum saya pergi,
> orang Amerika yang bernama
> Orlando Valasques itu sempat berujar santai: "Enjoy
> Kuala Lumpur". Saya
> balas dengan ucapan: "Happy new year!" Bahkan, dia
> meyakinkan saya bahwa
> 'kasus' yang saya alami tak berhubungan dengan pihak
> imigrasi manapun. Tapi
> ternyata dia bohong.
> 
> Minggu, 31 Desember, sesuai jadual, saya berencana
> keluar dari Phillippine
> untuk terbang ke KL, melalui Clark Airport.
> 
> Orang Amerika bernama Orlando Valasques telah
> meminta petugas imigrasi
> Phillipine untuk kembali melakkan introgasi terhadap
> saya serta meminta
> film-film [baru/used] dan memory card dari camera
> digital saya. Bahkan
> carrier yang sudah masuk perut pesawat diturunkan
> kembali. Pada kesempatan
> itu, carrier maupun daypack saya tidak diperiksa.
> Tentu saja karena sudah
> melalui tahap scanning.
> 
> Seorang petugas dari NBI yang ikut melakukan
> introgasi, mengatakan bahwa
> keberadaan saya di Filipina, berhubungan
> dengan jaringan Jamaah Islamiah. Sadisnya lagi, saya
> dituduh membawa bom.
> Tentu saja saya kaget dan sempat berang pada petugas
> itu. Saya sempat
> katakan pada officer itu bahwa Orang kedutaan telah
> bohong dan saya tak
> percaya pada orang itu dan pada siapa pun juga.
> 
> Saya minta pemeriksaan dipercepat karena saya tak
> mau ketinggalan pesawat.
> Ketika saya mulai percaya bahwa saya benar-benar
> sedang menghadapi masalah
> besar dan minta ada pendampingan dari KBRI, tepat
> ketika jadual pesawat
> tinggal landas lewat beberapa menit, Orang Amerika
> bernama Orlando Valasques
> menelpon orang imigrasi dan saya dinyatakan bebas.
> Sangat tidak masuk akal.
> Saya dinyatakan boleh pergi setelah pesawat yang
> satu-satunya terbang ke KL
> hari itu telah take off!
> 
> Tak ada satu pun pihak yang bertanggung jawab
> bagaimana saya bisa membeli
> tiket pulang karena tiket yang saya beli sudah
> hangus tak terpakai. Tak ada
> satu pihak pun yang dapat menjelaskan kenapa saya
> tidak diperkenankan naik
> pesawat yang sudah saya pesan. Tak ada satu pihak
> pun yang dapat menjelaskan
> kenapa saya dituduh berkaitan dengan kegiatan JI.
> Tak ada satu pihak pun
> yang dapat menjelaskan kenapa saya dituduh membawa
> bom.
> 
> Saya sama sekali tidak anti Amerika. Jika kemudian
> surat ini menjadi surat
> terbuka, supaya banyak pihak tahu bahwa atas nama
> ketakutan yang berlebihan,
> sebuah institusi super besar seperti Kedutaan
> Amerika merasa bebas melakukan
> pelecehan terhadap warga sipil. Atas nama ambisi
> pribadi untuk mendapat
> reward dari pemerintahnya, officer kedutaan bernama
> bernama Orlando
> Valasquez telah mengacaukan dan bahkan menyeret saya
> dalam 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke