http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007010900565315

      Selasa, 9 Januari 2007 
     
      BURAS 
     
     
     
PP 37/2006 demi Citra! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:



      "RAKYAT makmur!" teriak Temin. "Buktinya, tahun ini rakyat menggaji 
wakilnya di DPRD Rp16 juta sampai Rp36 juta per bulan!"

      "PP 37/2006 yang diteken November tapi berlaku surut sejak 1 Januari 2006 
itu bukan indikator kemampuan rakyat menggaji wakilnya di DPRD!" timpal Temon. 
"Tapi cara eksekutif memanja legislatif untuk menjebak mereka dalam konspirasi 
memeras rakyat!"

      "Jangan sembarangan bicara!" entak Temin. "Buktikan bahwa PP itu jebakan 
konspirasi untuk memeras rakyat!"

      "Mudah!" jawab Temon. "Pertama, PAD mayoritas daerah tingkat dua tak 
cukup untuk menggaji DPRD bahkan sebelum PP itu ada! PAD itu cermin kemampuan 
riil rakyat daerah! Kalau gaji dan tunjangan DPRD ditingkatkan sampai tiga kali 
lipat, kan berarti pungutan daerah terhadap rakyat juga harus digenjot, dan itu 
hanya bisa dengan memeras rakyat! Kedua, selama ini anggaran pembangunan untuk 
publik hanya di kisaran 30 persen dari APBD, dengan peningkatan dramatis 
belanja DPRD itu otomatis porsi untuk rakyat makin diperkecil lagi!"

      "Jadi atas kuweh yang sama bagian DPRD diperbesar, hingga bagian lain 
diperkecil?" timpal Temin. "Persentase dana untuk pembangunan yang selama ini 
sudah amat kecil, akan diperkecil lagi?"

      "Nah, nyambung!" sambut Temon. "Implikasi lebih jauh, dengan dana 
pembangunan untuk rakyat yang kian kecil itu, beban rakyat untuk menanggung 
APBD justru kian besar! Sebab, agar pemerintah tak malu APBD-nya tambah 
kedodoran dengan anggaran baru DPRD itu, tentu akan digenjot pendapatan daerah! 
Sasaran utama untuk itu, rakyat!"

      "Kira-kira kenapa pemerintah pusat membuat PP segila itu?" kejar Temin.

      "Itu justru menunjukkan pemerintah pusat cerdik membaca realitas negara 
ini telah menjadi negara partisan! Sebuah negara yang kedaulatan rakyatnya 
telah dibajak elite partai, sehingga praktis tak ada kekuatan lain yang bisa 
menentukan hitam putihnya negara ini!" tegas Temon. "Contohnya UU tentang 
Pilpres dan Pilkada yang mereka buat, memutlakkan hanya calon dari partai 
politik yang bisa tampil! Calon nonpartai atau independen tak diberi peluang!"

      "Dengan telah diklaim habis partai, berarti kedaulatan rakyat untuk bebas 
menentukan pilihannya di luar kotak-kotak partisan telah dikebiri?" timpal 
Temin.

      "Tampaknya itu yang dilihat pemerintah pusat, hingga langkah konspiratif 
elite perlu untuk menciptakan harmoni di kalangan mereka!" tegas Temon. "Dengan 
harmoni itu, kekritisan legislator pada eksekutif jadi kurang tajam, setidaknya 
ada rasa ewuh pakewuh!"

      "Untuk apa ewuh pakewuh itu?" kejar Temin.

      "Kalau kritik dari legislator tumpul, citra pemerintah jadi lebih 
terjaga!" jelas Temon. "Citra yang prima itu bagi pemerintah tampak amat 
penting, hingga apa pun dilakukan demi menjaga citranya!"

      "Apa citra lebih penting dari realitas hidup rakyat yang pasti lebih 
terseok memikul beban APBD yang kian berat?" tanya Temin.

      "PP 37/2006 menunjukkan citra betul-betul segalanya!" tegas Temon. 
"Termasuk citra kemakmuran yang direpresentasikan kehidupan serbawah para wakil 
rakyat!" 
     

Attachment: bening.gif
Description: GIF image

<<attachment: buras.jpg>>

Kirim email ke