Manneke,

Mungkin ada baiknya diabaikan saja si pengidap skizowaria...eh maksud
saya skizomania. Tampaknya dia juga tidak mendapatkan tanggapan di
beberapa milis.

Kalau diskusinya sampai panas, misalnya membenturkan antara akademisi
dengan yang lainnya, maka akan diarahkan pada pertanyaan: apakah yang
sudah anda lakukan tanpa melibatkan institusi akademis anda? Saya
menangkap kesan arogan di sini. Seolah-olah banyak akademisi atau mereka
yang diserang hanya duduk dan diam di menara gading. Seingat saya Romo
Mangun, seorang intelektual sekaligus rohaniwan, tidak banyak pamer
ketika bekerja untuk kali Code dan Kedung Ombo. Begitu juga almarhum
Herbert Feith, ia tidak berkoar-koar menantang akademisi lain ketika
bekerja di Timor dan tempat lainnya. Sartre dan Bertrand Russell juga
tidak menyindir para dosen di negara lain ketika mocking tribunal untuk
perang Vietnam diprakarsai oleh mereka.

Sekarang malah lari ke topik budaya yang jelas-jelas katanya sendiri
sangat elusive. Filsuf indonesia? Wah mungkin cuma dia kali. Mungkin
perlu ditanya sama dia apakah indonebia itu bisa disebut filsuf?
Gagasannya orisinil dan cemerlang : )






--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Miliser hypersex ini bikin ulah lagi. Masih dengan gayanya yang tak
bermutu itu. Memindahkan sebuah diskusi dari satu milis ke milis lain
(dengan memakai nama samaran yang berbeda-beda), lalu memotong-motong
isi posting seseorang tanpa etika sama sekali, serta memanipulasinya
sedemikian rupa dengan tujuan disinformasi dan penyesatan orang banyak.
Ketika direspons, dia menghilang dengaan sikap yang sangat pengecut,
lalu loncat ke milis lain dan menebar racun di sana.
>
> Inilah manusia sok pintar tapi tak punya kejujuran ataupun integritas.
Budayawan/sosisolog palsu yang senantiasa asyik berkasak-kusuk dan tidak
membawa manfaat apa-apa bagi orang lain di sekitarnya. Jika banyak
manusia Indonesia yang seperti ini, tak heranlah jika kondisi Indonesia
saat ini penuh dengan karut-marut pada stadium gawat.
>
> Untuk kesekian kalinya saya usulkan kepada Anda, jika berani berdikusi
serius tentang krisis budaya di Indonesia, dan jika ingin memindahkan
diskusi dari satu milis ke milis lain, cobalah menyertakan thread
lengkap dari awal, bukan cuma sepotong-sepotong yang disampaikan dengan
cara abusive untuk kepentingan diri sendiri. Jika tak berani melakukan
diskusi yang jujur dan terhormat, ya saya anggap saja Anda ini pengecut
ingusan yang tak tahu malu.
>
> Mari kita lihat, adakah miliser mediacare yang akan menyambut
postingan Anda ini dengan serius. Setelah itu, kita akan lihat juga cara
dan gaya Anda dalam menanggapinya. barang busuk tetaplah busuk,
sekalipun dibungkus dengan kata-kata muluk sekeren apapun.
>
> May CULTURE be with you.
>
> manneke
> PS: By the way, untuk pertanyaan Anda: "Apakah Indonesia memiliki
philosopher?" Jawabannya, "Ya. Dan cuma ada satu. Sayangnya, dia
philosopher gadungan yang megaloman dan skizofrenik. Namanya? kadang
(Hyper)Sekspeare kadang Das Kopiupilan." Cilakalah bangsa ini...
>
>
> -----Original Message-----
>
> > Date: Tue Jan 09 06:52:06 PST 2007
> > From: "Well... I am SeksPeare" [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: [mediacare] Just Checking: Apakah Indonesia Memiliki
Philosopher?
> > To: [email protected]
> >
> > Pertanyaan ini mungkin ada kaitannya dgn thread *Daya Fikir* (di
milis lain)
> >
> > Dijelaskan bahwa ada kultur (ilmiah, institusi) dan ada
&#733;kultur&#733; (non ilmiah, non institusi)
> > Dalam penjelasan tersebut, dikatakan bahwa Gunawan Muhammad, adalah
budayawan (pokok pemikirannya, tidak bersandar pada pendekatan -so
called- ilahiah, tdk sama halnya dgn Aa Gym, yg ditempatkan sebagai
budayawan dalam tanda kutip)...
> >
> > Pertanyaan saya adalah:
> > 1. Mengapa tdk menggunakan saja terminologi *Philisopher* terhadap
Gunawan Muhammad?... Mengapa harus ada dikotomi budayawan *dalam tanda
kutip* dan *tanpa tanda kutip*? (Intellectual Exercise?)
> >
> > Quote 01: Ia bisa saja seorang akademisi, tetapi tak harus selalu
demikian. Goenawan Mohamad bukan akademisi, tetapi jelas budayawan. (End
of quote/Manneke Budiman/FPK)
> >
> > Quote 02: lalu bagaimana dengan AA Gym? Dalam pengertian "budayawan"
superlonggar di awal kuliah saya, ia bisa saja diberi label "budayawan"
(seperti yang dilakukan Kopiracun). Namun, dari sudut pandang ilmu
budaya, AA Gym bukan budayawan (tanpa tanda kutip).
> >
> > 2. Masuk dalam pertanyaan selanjutnya: WHAT IS CULTURE?
> >
> > Bagi yg ogah (malas?) buka referensi, saya bermurah hati untuk
membukakan anda, sbb: (tolong perhatikan highlight)
> > ---------------------------------------------
> > Wikipedia:
> > Culture (from the Latin cultura stemming from colere, meaning "to
cultivate"), generally refers to patterns of human activity and the
symbolic structures that give such activity significance. Different
definitions of "culture" reflect different theretical bases for
understanding, or criteria for evaluating, human activity.
> >
> > Anthropologists most commonly use the term "culture" to refer to the
universal human capacity to classify, codify and communicate their
experiences symbolically. This capacity has long been taken as a
defining feature of the humans. However, primatologists such as Jane
Goodall have identified aspects of culture among human's closest
relatives in the animal kingdom.[1] it can be also said that " it is the
way people live in accordance to beliefs, language, history, or the way
they dress. "
> > ----------------------------------------------
> > Apakah ada dikotomi pembedaan budayawan tanda kutip dan budayawan
dengan tanda kutip?...
> >
> > So, again: WHAT IS CULTURE?...
> > Pertanyaan ini saya lempar ke rekan se *warung kopi* sebagai bahan
kajian untuk *warung kopi institute*. Dgn meminta penjelasan murni hasil
olah fikir anda sendiri.
> >
> > Kopitalistic Verses:
> > 1. Budaya/Kultur adalah interaksi manusia dgn alam, manusia dgn
manusia dan manusia dgn dirinya. (SeksPeare/Apakabar/2005)
> > 1-a. Dalam interaksi itu menghasilkan result berupa faith, believe
system, ataupun menghasilkan filsafat.
> >
> > 2. Budaya (Kultur) adalah terminologi yg dihasilkan oleh pengkajian
akademik (symbolic) untuk menjelaskan sebuah -atau beberapa- dimensi
(mistis-fisis/realistis) yg belum berhasil terumuskan melalui penjelasan
hard-science.
> >
> > Your OWN Version:
> > 1............................................
> > 2............................................
> > dst.
> >
> > Dalam sebuah stadion sepak bola, penonton menilai dan menikmati
hasil aktifitas dari permainan para atlitnya, bukan semata cheerleader
maupun komentatornya. Cheerleader dan komentator hanya berstatus:
Penggembira.
> >
> > Salam Intellectual Exercise
> >
> > Kopitalisme
> > http://kopitalisme.tk
> > http://kopitalisme.blogspot.com
> > Rekan rekan sedang mengumpulkan berbagai artikel yg membicarakan
kemandulan dan impotensi kaum intelektual kita.
>



Kirim email ke