Haaaah ....... Indonesia menjadi teritorial AS? Jangan donk, kembali 
menjadi koloni Belanda saja lagi, soal badai Katrina sih gecel buat 
Belanda, wong laut North Atlantic aja bisa dibendung.

Dijamin di Indonesia kagak ada banjir bandang lagi kalau Belanda 
yang memerintah. Juga ngga bakal ada tuh kapal laut tenggelam karena 
cuaca buruk. Minggu lalu ada storm di Belanda dengan kekuatan 9 
alias kecepatan anginnya mencapai 120 km/jam, tapi semua 
selamat 'tuh sebab Dinas Meteorologi Belanda telah mengeluarkan 
alarm bahaya sehari sebelumnya yang disiarkan ke seluruh Belanda 
oleh media Belanda. Hanya ada beberapa mobil ketiup angin masuk ke 
selokan dan beberapa atap rumah beterbangan. Selebihnya beberapa 
pengendara sepeda lecet-lecet karena dia dan sepedanya terbang 
beberapa meter terbawa angin. Untuk menangani akibat Katrina 'kan AS 
juga menyewa tenaga ahli dari Belanda, anda ngga tahu ya, ihik 
ihik ...... :-).

Salam hangat, Danny Lim, oooo I love my new country more and more 
and more, ehm ehm ....... :-).

--- In [email protected], "Kuroda Takumi" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Bwahahaha, lucu. Saya punya ide yg lebih lucu lagi. Bagaimana kalau
> Indonesia sekalian memproklamirkan diri sebagai Teritori milik AS,
> entah jadi negara bagian (kayaknya ga mungkin soalnya bintang di
> benderanya dah penuh :P) atau persemakmuran (alias jajahan).
> Anak2 muda akan direkrut masuk militer untuk dikirim berjuang dan 
jadi
> martir di negara2 teroris, dan kalau ada bencana seperti badai
> katrina, penduduk daerah bencana akan memperoleh ujian survival 
dari
> pemerintah agar jadi lebih kuat dalam menghadapi bencana ... ^^###
> 
> On 1/15/07, Al-Mahmud Abbas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Pak Danny salah, yang benar memang AS.. karena AS sudah 
memprediksi bahwa kalaupun bantuan diberikan lebih ke Indonesia maka 
oleh Indonesia kemungkinan sebagian toh akan diberikan kepada (untuk 
membantu) 'saudara2nya' di Palestina. Jadi dari pada jalannya muter2 
jangan2 malah habis dikorup lebih baik langsung saja. Mungkin juga 
jangan2 AS sudah bisik2 dengan para tokoh di sini... 
(????!!!!!!!!!!!!!!).. ihik..ihik... lucu kwadrat kan ?.
> >
> > Wassalam.
> >
> > On 1/14/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > > DL - Haaah ..... bantuan AS  ke Palestina lebih banyak 
dibanding bantuan AS ke Indonesia? Mungkin  itu sebabnya AS dicaci-
maki setan oleh muslim Indonesia,  AS bagi-bagi duitnya sedikit sih 
ke Indonesia, he he he. Anyway, lucu  kok tingkah laku muslim 
Indonesia, bolehlah jadi bahan tontonan  banyolan dari luar negeri 
sini, ihik ihik .......... :-).
> > >
> > >
> > > SUARA PEMBARUAN DAILY  ________________________________
> 
> > > The Global Nexus
> > >
> > >
> > > Palestina Lebih Prioritas daripada RI
> > >
> > >
> > >
> > > Christianto Wibisono
> > >
> > > Pada 15 Desember 2006 Or- ganization of Economic Cooperation 
and  Development (OECD) mengumumkan ranking prioritas bantuan luar 
negeri AS ke  Dunia Ketiga.
> > >
> > > Diluar Irak dan Afghanistan, Indonesia masuk sebagai juru 
kunci dari 10  besar. Dan yang mengejutkan, Palestina di nomor 9 
memperoleh bantuan US$ 180  juta. Sedang Indonesia hanya US$ 161 
juta.
> > >
> > > Karena penduduk Indonesia lebih dari 220 juta, maka jelas per 
kapita bantuan  AS ke Palestina jauh berlipat ganda dibanding 
Indonesia.
> > >
> > > Bantuan ke Irak melebihi US$ 10 miliar begitu pula Afghanistan 
US$ 1,4  miliar. Di luar dua negara yang sedang perang itu, maka 
Sudan menduduki ranking  pertama dengan US$ 771 juta, Ethiopia 625 
juta, Mesir 397 juta, Pakistan 362  juta, Yordania 354 juta , 
Kolumbia 334 juta Uganda 242 juta, Serbia/Montenegro  181 juta.
> > >
> > > Setelah Palestina dan Indonesia, maka 8 negara lain ialah 
Haiti US$ 154 juta,  Eritrea dan Congo masing masing 141 juta, Kenya 
138 juta, Afrika Selatan 137  juta, Meksiko 129 juta, Zambia 124 
juta, dan Nigeria 120 juta.
> > >
> > > Angka bantuan itu di luar bantuan militer yang jelas sangat 
besar untuk  Pakistan dan Mesir dalam perang teror maupun dalam 
perimbangan terhadap Israel.
> > >
> > > Perkembangan mutakhir kemelut internal Palestina mengungkapkan 
bahwa Mesir  memberi bantuan kepada kelompok Fatah pimpinan Presiden 
Mahmoud Abbas untuk  menandingi Hamas.
> > >
> > > Sebanyak 2.000 laras senjata laras otomatis dan 22.000 dengan 
dua juta peluru  diserahkan melalui Mesir kepada kelompok Fatah.
> > >
> > > Sementara di Teheran, Wali Kota Mohamad Baqer Qalibaf, 
pensiunan Marsekal  Angkatan Udara, menguasai DPRD Teheran dan hanya 
menyisakan dua kursi untuk klik  pendukung Presiden Ahmadinejad.
> > >
> > > Qalibaf sangat populer karena memperbaiki jalan raya Teheran 
yang berkubang,  membersihkan sampah, dan membangun rekreasi kanak-
kanak di daerah kumuh di  selatan Teheran.
> > >
> > > Ahmadinejad dinilai hanya pintar berpidato mengutuk AS, tapi 
tidak melakukan  tindakan konkret bagi perbaikan ekonomi dan nasib 
penduduk miskin Iran.
> > >
> > > Menghadapi Iran, elite politik Arab Saudi juga terpecah dua. 
Waperdam dan  Menhan Pangeran Sultan termasuk garis keras yang tidak 
ingin melihat Iran  menjadi polisi regional Timur Tengah bersenjata 
nuklir. Sementara kubu Menlu  Saud al Faisal bisa menerima dialog 
dengan Teheran.
> > >
> > > Akibatnya terjadi dualisme politik Arab Saudi yang tercermin 
dalam heboh  pergantian Dubes Arab Saudi di Washington DC. Selama 22 
tahun, Pangeran Bandar  (putra Pangeran Sultan) menjadi dubes 
terlama di Ibukota AS.
> > >
> > > Baru 15 bulan lalu ia digantikan oleh Pangeran Turki bin 
Faisal (saudara dari  Menlu Pangeran Saud) yang ditarik dari Dubes 
di London. Sebelumnya Turki adalah  Kepala Dinas Intelijen Arab 
Saudi, yang mengatur pengungsian keluarga Bin Laden  dari AS , 
segera setelah teror 911.
> > >
> > > Pangeran Bandar tetap mondar mandir ke Washington bahkan Dubes 
Turki bin  Faisal tidak tahu menahu kedatangan apalagi misi Bandar 
ke Ibukota AS.
> > >
> > > Ternyata Bandar melakukan manuver langsung ke Gedung Putih 
untuk tidak  terlalu moderat dalam menghadapi Iran.
> > >
> > > Dubes Turki al Failsal mengundurkan diri dan akan diganti oleh 
diplomat muda  Adel Al Jubier alumnus Georgetown University 
Washington DC. Adel sudah menjadi  jubir dan public relations andal 
untuk Arab Saudi, bahkan sejak era Dubes  Bandar bin Sultan.
> > >
> > >
> > >
> > > Diplomasi Global
> > >
> > > Di tengah percaturan diplomatik global yang serba "selingkuh" 
itu, bagaimana  Indonesia bisa mencuat agar bisa mempunyai leverage 
atau bargaining  position yang kuat dan memperoleh prioritas dalam 
ranking kepentingan global  AS.
> > >
> > > Eduardo Lachica, mantan kolumnis The Wall Street Journal 
adalah  pengagum Susilo Bambang Yudhoyono.
> > >
> > > Ia heran mengapa ide cemerlang Yudhoyono tentang Irak yang 
dilontarkan di  Bogor tidak bergema. Saya menyatakan bahwa orang di 
Indonesia semua sibuk dan  was-was kalau ada insiden dalam kunjungan 
mampir Bush ke Bogor.
> > >
> > > Jadi orang tidak mempunyai gagasan, wawasan, atau wacana untuk 
memanfaatkan  pertemuan itu secara substansial. Kecuali mengamankan 
teater diplomatik itu  secara audio visual.
> > >
> > > Substansi apa yang mestinya diperjuangkan oleh Indonesia dalam 
diplomasi  global yang begitu rumit bila kita terjebak pada sikap 
apriori anti-AS,  anti-Bush, anti-Barat, anti-asing dan segala macam 
retorika yang lebih Hamas  dari Hamas, lebih Hezbollah dari 
Hezbollah, dan mungkin lebih Arab dari Arab  Saudi sendiri.
> > >
> > > Hamas dan Hezbollah pun sekarang harus belajar berdiplomasi 
jika ingin  memasuki medan kekuasaan politik dan tidak bisa lagi 
mengandalkan teorisme atau  kekerasan.
> > >
> > > Fatah di bawah Mahmoud Abbas sekarang malah menjadi mitra yang 
dipercaya AS  dalam melahirkan Palestina yang bersedia 
berkoeksistensi dengan Israel.
> > >
> > > Mesir dan Yordania dengan cerdik berdiplomasi dengan Israel 
dan kemudian  menagih kuitansi bantuan militer ekonomi ke AS, yang 
jumlahnya tercermin dalam  ranking yang diumumkan OECD. Begitu pula 
Pakistan dan India, semuanya berbentuk  kemitraan strategis bernilai 
miliaran dolar.
> > >
> > > Pertanyaan Eduardo Lachica yang gagasannya untuk mengorbitkan 
ide perdamaian  Timur Tengah dari Jakarta tentu sulit saya jawab 
karena publik dan elite di  Jakarta, dalam persaingan domestik 
kadang-kadang tidak memperhitungkan  kepentingan nasional secara 
arif bijaksana.
> > >
> > >
> > >
> > > Lebih Agresif
> > >
> > > Artinya, kalau Riyadh, Kairo, dan Amman berhati-hati dalam 
menyambut  kemenangan Hezbollah yang berarti dominasi Iran di Timur 
Tengah yang semakin  kokoh, maka elite Jakarta tampaknya malah lebih 
agresif dari Arab Saudi, Mesir,  dan Yordania dalam "mengagungkan 
Teheran" sebagai kiblat dan model kekuatan  mbalelo anti-AS.
> > >
> > > Dengan permainan diplomatik seperti itu, tentu saja Jakarta 
sulit "menjual  agenda strategis".
> > >
> > > Penasihat Presiden Dr Syahrir menyatakan tidak akan mungkin 
kekuatan  ekstremis radikal merebut kekuasaan di Indonesia. Kekuatan 
moderat, toleran, dan  pluralis akan tetap dominan, mayoritas, dan 
menentukan politik luar negeri RI.
> > >
> > > Mudah-mudahan optimisme Bung Syahrir benar dan Jakarta bisa 
tegak punya misi,  visi, dan strategi sendiri untuk mengutamakan 
kepentingan nasional Indonesia  ketimbang menjadi "antek" siapapun.
> > >
> > > Mungkin kalau nanti ada waktu Eduardo Lachica yang akan 
berkunjung ke Jakarta  untuk menjual ide Jakarta Plan for Middle 
East Peace Settlement, bisa  bertemu Dr Syahrir dan juga Presiden 
Yudhoyono.
> > >
> > > Tentu saja semua itu harus bermuara konkret supaya Indonesia, 
tidak sekadar  jadi "anak bawang". Melainkan benar benar memperoleh 
posisi dan  intangible maupun tangible benefit yang setara dengan 
posisinya. Lucu  sekali kalau demo di depan Hotel Indonesia memaki 
AS dan membela Palestina.
> > >
> > > Sementara Palestinanya sendiri kebagian bantuan yang jauh 
berlipat ganda dari  RI yang malah cuma jadi footnote dalam daftar 
bantuan AS. Semua hanya  gara-gara kita kurang bisa berdiplomasi, 
tapi ahli dalam demonstrasi hura maki  tanpa manfaat.
> > >
> > >
> > >
> > > Penulis adalah pengamat masalah internasional
> > >
> -- 
> Ezda
> => S2D4 the World
>


Kirim email ke