[RESENSI BUKU] Note: Versi edit resensi ini dimuat Kompas, Minggu, 14 Januari 2007.
Mengenakan Identitas yang Lebih Pantas -------------------------------------- >> Anwar Holid Makna Sebuah Nama Judul asli: The Namesake Penulis: Jhumpa Lahiri Penerjemah: Gita Yuliani K. Penerbit: GPU, 2006 Tebal: 328 hal. ISBN: 979-22-2308-8 SASTRA India berbahasa Inggris (Indian English Literature, IEL) sudah berlangsung sangat lama, dimulai pada akhir 1700-an. Penulis India memberi kontribusi penting bagi perkembangan sastra Inggris dunia, terutama khazanah sastra poskolonial dan diaspora. Subjek keindiaan juga senantiasa menarik; budaya dan bangsa India kerap jadi perhatian penulis Barat, begitu juga penerjemahan karya penulis setempatnya. Penulis keturunan India konsisten menyumbang karya bagi dinamika tersebut---baik langsung dari negeri itu maupun lewat masing-masing negeri pilihannya, yang menyebar ke mana-mana. Mereka silih berganti melahirkan penulis sangat berbakat dan berdedikasi dalam khazanah sastra Inggris dunia, mulai dari Rohinton Mistry, ke Vikram Seth---menulis Suitable Boy yang lebih tebal dari War and Peace (Leo Tolstoy); muncul pula penulis chicklit, misalnya Kasvita Daswani dengan For Matrimonial Purpose. Sejumlah dari mereka kini telah jadi sosok utama sastra dunia, antara lain Anita Desai, Bharati Mukherjee, Ruth Prawer Jhabvala, Meera Syal, Vikram Chandra, Amitav Ghosh. V.S. Naipaul juga mesti disebut. Dia salah satu penulis terbesar di permulaan abad ke-21, persis karena keturunan India, dan kerap menjadikan India, Asia, dan berbagai aspeknya---budaya, agama, politik---sebagai sumber penulisan yang subur. Melampaui itu, Naipaul merupakan contoh eksponen sastra poskolonial par excellence. Mereka semua melanjutkan jalan dan tradisi yang dibuka lebar-lebar oleh Raja Rao, R.K. Narayan, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal di masa lalu. Pengakuan atas sumbangsih itu antara lain tercantum di dalam Good Fiction Guide (Jane Rogers, ed.; OUP, 2002), dengan khusus menghadirkan subject essay tentang sastra India. Rupanya jelas India dinilai melampaui sumbangsih keseluruhan sastra Asia terhadap perkembangan sastra dunia, entah dari Arab, Jepang, atau Cina. Memang terbukti India kini jadi penyumbang utama dan paling penting sastra Asia, karena penulis berbahasa Inggris keturunan India cukup banyak dan reputasinya sulit dianggap sebelah mata. Dinamika itu memberi wawasan kepada khalayak bahwa sastra India tidak berhenti pada kontroversi usang soal Salman Rushdie, melainkan terus mengalirkan karya yang patut diapresiasi. Dinamika itu tambah jelas ketika satu demi satu para penulis itu mendapat penghargaan anugerah sastra prestisius, atau karyanya mendapat kritik dan penerimaan di pasar dunia. Kunci utama peran itu ada pada kefasihan mereka menulis, melampiaskan perasaan dan ungkapan, mengeksplorasi subjek dan intensitas dalam bahasa Inggris; dengan begitu karya dan penulis mudah dikenal khalayak, baik kalangan kritik dan pembaca dunia. MEMANG secara tradisional penulis keturunan India lebih banyak berkarir di Inggris, namun sebagian ada yang perlahan-lahan menoleh ke Amerika Serikat (AS). Peralihan kiblat ini niscaya terkait dengan perkembangan mutakhir ekonomi, budaya, dan politik yang semua nyaris melibatkan Amerika. Salman Rushdie adalah salah satu penulis yang akhirnya memutuskan tinggal di AS, khususnya ketika masa-masa sulit dia ketika difatwa mati oleh Imam Khomeini; sementara Jhumpa Lahiri sudah tinggal di Rhode Island sejak kanak-kanak dibawa merantau orangtuanya. Berbeda dengan Inggris, AS justru jauh lebih familiar dengan etnis dan budaya bawaan keturunan Cina, Arab, atau Vietnam daripada India. Bagi Amerika, India nyaris melulu identik dengan spiritualisme, Hindu, tari, tabla dan sitar. Di dalam Makna Sebuah Nama, Lahiri menjadikan AS mampu mengubah semua yang berbau India tinggal sebagai artifak, sisa-sisa masa lalu yang masih terlalu sulit untuk ditanggalkan dengan sempurna karena terhalang berbagai faktor demi mendapatkan dan mengenakan identitas baru yang lebih cocok sesuai kehendak dan niat seseorang. Lahiri adalah salah satu penulis keturunan India Amerika paling mutakhir yang makin matang berkarya sejak menjelang tahun 2000-an. Dia menerbitkan The Namesake (2004) setelah keberhasilannya yang manis melalui Interpreter of Maladies (1999). The Namesake membuktikan bahwa Lahiri bukan penulis karbitan yang bisa diragukan kualitas dan reputasinya setelah kemenangan mengagetkan meraih hadiah Pulitzer untuk fiksi pada 2000. Kemenangan Lahiri melanjutkan pencapaian pendahulunya, antara lain Anita Desai dan Bharati Mukherjee. Pada 1988 Anita Desai memperoleh anugerah National Book Critics untuk The Middleman and Other Stories, dan kini dianggap merupakan salah satu penulis AS paling penting di akhir abad ke-20. Sementara Mukherjee telah memberi sumbangan penting antara lain lewat Jasmine dan Desirable Daughters; dia menjadi profesor jurusan bahasa Inggris di University of California, Berkeley, dan anggota American Academy of Arts and Sciences. Dengan dua buku, Lahiri tampil sebagai contoh terbaik penulis keturunan India kontemporer di AS. Secara luas Lahiri terus-menerus mengeksplorasi persoalan identitas, diaspora, migrasi, isu poskolonialisme, serta warisan politik dan budaya keturunan India di AS. CERITA di dalam Makna Sebuah Nama berpusat pada Gogol, putra sulung Ashoke dan Ashima, suami-istri yang merantau ke AS karena Ashoke memperoleh beasiswa pascasarjana di MIT. Keduanya berasal dari keluarga terpelajar India, meski dalam banyak aspek kehidupan tetap tradisional. Ashima, misalnya, menikah dengan Ashoke tanpa kenal lebih dulu; dia langsung dilamar oleh keluarga Ashoke persis setelah pandangan pertama. Novel ini merupakan bildungsroman yang sempurna memotret perkembangan kepribadian, sikap dan mental sebagai orang Amerika keturunan India---yang secara negatif dijuluki ABCD, yaitu American Born Confused Desi (orang India kelahiran Amerika yang kebingungan). Cerita dimulai pada 1968 ketika Gogol lahir, selesai pada 2000, ketika dia kembali ke rumah untuk merayakan Natal bersama ibu dan adik setelah cerai dari perkawinan singkatnya. Meski awalnya selalu kangen pulang kampung, menganggap AS terlalu asing dan penuh bahaya, serta tujuan mereka ke sana memang studi, toh keluarga Ashoke perlahan-lahan akhirnya menetap di sana. Ashoke bekerja sebagai asisten profesor jurusan elektro; sementara Ashima tinggal di rumah---mempertahankan seluruh aspek India dan warisan budayanya. Salah satu faktor utama mereka penyebab mereka kesulitan dan kerepotan kembali ke India ialah anak-anak mereka lahir, tumbuh, besar di sana, apalagi karir Ashoke terus membaik dan kesejahteraan keluarga makin terjamin---minus mereka tak bisa berpatisipasi dalam pemilu karena memilih tetap jadi warga negara India. Gogol lahir di tahun pertama kedatangan orangtuanya di AS, disusul Sonia sekitar empat tahun kemudian. Otomatis keluarga ini akhirnya jadi bagian minor sebuah bangsa besar yang majemuk. Di AS mereka beserta sesama perantauan dari India jadi sesuatu yang asing---mulai dari warna kulit, tampilan, baju, aksen, dan berbagai kebiasaan lain. Perasaan senasib membuat mereka membentuk komunitas sesama orang India; dengan begitu terus berharap betah dan bisa mempertahankan identitas dan kemudian mewariskannya pada keturunan di tanah baru. Yang terjadi malah kerap sebaliknya; anak-anak generasi pertama India dianggap aneh karena melakukan pujo, akhirnya lebih memilih beramai-ramai merayakan Natal dan Thanksgiving yang jauh lebih semarak dan mengesankan. Mereka juga lama-lama terbiasa merayakan festival sekular, seperti pesta prom dan ulang tahun. Kondisi sehari-hari ini perlahan-lahan membentuk mereka persis sebagaimana stereotipe remaja AS: bisa melepas keperjakaan/keperawanan setelah mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks pranikah, pacaran dan tinggal serumah di apartemen. Selain perbedaan etnis dan latar belakang keluarga dan budaya, remaja Amerika keturunan India ini selebihnya sama saja. Gogol tumbuh dalam kondisi seperti itu: secara alamiah mengakui Amerika sebagai tanah airnya, menganggap India adalah tempat liburan keluarga yang dia benci karena selain terlalu jauh juga selalu ricuh oleh keguyuban antaranggota keluarga. Latar belakang India kerap membuat Gogol bermasalah. Perihal nama saja membuat dia kebingungan, kenapa dia dinamai 'Gogol' bila nama itu tidak familiar dan bahkan tak terdapat dalam kosakata Bengali. Meski paham kenapa ayahnya memberi nama 'Gogol', dia kesulitan mengaitkan penjelasaan tersebut dalam konteks diri dan keamerikaan yang dialaminya. Kecuali soal identitas yang membuatnya bingung, Gogol tumbuh nyaris sempurna menghabiskan masa remaja dan mahasiwa baik di sekolah dan lingkungan. Meski dalam taraf tertentu terkungkung oleh disiplin dan harapan orangtua, dia toh tetap bisa mencuri-curi kesempatan menikmati dan menyelami masa muda Amerika tahun 1970-an: menggilai The Beatles, memuja Bob Dylan, sesekali mencoba ganja, dan melepas keperjakaan di pesta ulang tahun seorang kawan. Dia mewarisi kecemerlangan intelektualitas Ashoke, dan dengan disiplin keluarga kuliah di Universitas Columbia mengambil jurusan arsitektur, kemudian bekerja di sebuah firma arsitektur terkemuka. Sebagai keturunan imigran minoritas yang belum utuh diterima sebagai bagian dari kemajemukan Amerika, kehidupan Gogol sangat makmur, tercukupi lahir dan batin. Satu-satunya yang membuat dia gelisah adalah kenyataan bawah sadar atas identitas yang kabur dan tegang. Di satu sisi generasi orangtuanya tetap ingin mempertahankan identitas India dengan berbagai cara, sementara dia dan adiknya lebih nyaman menjadi warga AS biasa, yang berbaur dan bergumul dengan seluruh dinamika budaya beserta konsekuensinya. Untuk menenangkan mental dan memantapkan identitas, pertama-tama dia mengubah nama menjadi 'Nikhil', yang masih pilihan ayahnya untuk nama diri. Demi melepaskan bayang-bayang seluruh bawaan keindiaan, dia sejarang mungkin kembali pulang dan lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan, kencan dengan perempuan asli Amerika. Repotnya, baik Ruth (pacar saat kuliah) dan Maxine (pacar ketika kerja), justru selalu ingin tahu darah India dalam diri Gogol, terlebih-lebih keluarga Maxine yang bohemia dan terpesona budaya timur. Meski setia, hubungan dengan kedua perempuan itu selesai sebelum naik pelaminan. Pandangan orang lain terhadap dirinya menghadirkan dimensi baru, yaitu persoalan poskolonialisme dan diaspora. Kenyataan itu malah melontarkan Gogol kembali pada sesuatu yang justru ingin dia lepas; unsur India yang terlalu kabur untuk bisa dikaitkan dengan dirinya justru sudah memberi identitas tanpa ia minta, menyadarkan bahwa bagaimanapun dia, keluarga, etnis, memang lain dan panya karakter tertentu. Dengan harapan kesamaan etnis dan latar belakang bisa mencocokkan pasangan, dia menerima saran ibunya untuk menghubungi Moushumi, mantan teman masa kecilnya yang gagal menikah dengan pemuda Amerika persis setelah calon pengantin itu ziarah ke India dan mengirim undangan. Gogol dan Moushumi mengawali hubungan dengan manis; mereka sama-sama terpelajar, suka seni, berpikiran terbuka. Kecocokan dan optimisme mengantar mereka ke pelaminan. Anehnya, karakter Gogol yang tenang dan sederhana justru kurang memuaskan Moushumi; sampai lama-lama mereka tahu kesamaan itu masih terlalu rapuh untuk bisa diandalkan mampu menghadapi perkawinan yang kompleks. Yang sangat memukul Gogol ialah fakta dia menyaksikan justru perempuan India menyeleweng dari pasangannya---sesuatu yang tak dilakukan Ruth dan Maxine, perempuan asli AS. Sesudah perkawinannya berakhir, Gogol kembali ke rumah, barangkali berniat belajar jadi orang India yang lebih matang, dengan mengkhidmati ayahnya yang dulu menghadiahi kumpulan cerpen karya Nikolai Gogol---sumber nama yang diabadikan pada dirinya. Makna Sebuah Nama mengingatkan kita ada masa ketika unsur etnis seseorang memang mustahil dilepas, justru mesti dihayati dan dimaknai sebaik mungkin. Gogol bukan gagal menjadi 'orang Amerika,' melainkan sulit melepas unsur tersebut untuk dijadikan landasan memahami diri sendiri dan masyarakat tempat dia hidup. Harus diakui bahwa hidup seseorang bisa lebih ditentukan oleh sejarah, politik, dan sosial, alih-alih biologis dan gen. Gogol mengalami kebalikannya; barangkali itu terjadi karena lingkungan masih terlalu asing dengan unsur baru tersebut, masih belum familiar dengan kekhasan yang dibawa oleh etnisnya. Untuk kasus orang India Amerika, menurut pengakuan Jhumpa Lahiri sebenarnya itu wajar. "Ketika buku pertama saya terbit pada 1999, sekitar itulah, di ambang abad baru, istilah 'Indian-American' baru jadi bagian dari kosakata negeri ini. Ketika tumbuh di sini 37 tahun lalu, saya merasa bukan sebagai orang India maupun Amerika," demikian akunya di Newsweek. LAHIRI bisa begitu detil, subtil, sekaligus utuh menghadirkan Gogol beserta orang dan dunia terdekat yang mempengaruhi kehidupannya, terutama Ashoke, Ashima, dan Maxine. Karakterisasi, setting, dan cara bertutur novel ini tampil jadi keunggulan yang memamerkan kekuatan Lahiri, memaksimalkan pencapaian yang sudah terasa di buku pertama; dia menulis dengan keterampilan tinggi (well-crafted), membuat cerita begitu enak diikuti, langsung memikat sejak halaman awal, dan terus bisa dipertahankan hingga halaman akhir. Meski begitu, terasa novel ini kurang greget, karena nyaris tidak menunjukkan klimaks, drama, emosi yang betul-betul mampu menggetarkan pembaca. Bisa jadi karena Lahiri kesulitan menghadirkan subject matter identitas secara mendalam, yang bisa membuat pembaca terguncang oleh keputusan, peristiwa, atau alasan masing-masing karakter. Karena mengetengahkan identitas dan kaum pendatang, Makna Sebuah Nama langsung mampu menarik perhatian kritik dan media ketika terbit, termasuk Michiko Kakutani, kritikus paling ditakuti di dunia. Tulisnya di New York Times, "Lahiri membawa bayang-bayang musik kamar dari kumpulan cerpen pertamanya, menata ulang tema eksil dan identitas tersebut untuk dijadikan karya simfonik, sebuah novel debut yang sama mengasyikkan dan mengesankan sebagaimana karya seorang jago cerita berpengalaman." Mira Nair, sutradara terkemuka keturunan India yang menggarap Moonsoon Wedding dan Kama Sutra, siap merilis film berdasar novel ini pada November 2006 nanti. Sebagai tambahan, GPU pun menerbitan Interpreter of Maladies, lepas dari fakta ada dua versi pirated edition terjemahan buku tersebut. Ditarik ke konteks Indonesia yang juga majemuk, termasuk memiliki banyak keturunan India dan punya sejarah panjang di tanah air, tentu menarik berharap suatu ketika hadir karya sastra yang mengetengahkan kronik keturunan India di Indonesia.[] Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Alamat: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 R: (022) 2037348 | HP: 08156140621 Never underestimate people. They do desire the cut of truth. Jangan meremehkan orang. Mereka sungguh ingin kebenaran sejati. © Natalie Goldberg ---------------------------------------------------------------------- Esai, resensi, artikel, dan lebih banyak tulisan. Kunjungi dan dukung blog sederhana ini: http://halamanganjil.blogspot.com ____________________________________________________________________________________ Sucker-punch spam with award-winning protection. Try the free Yahoo! Mail Beta. http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html
