IIIHIMsight ed. 21 Januari 2007
HIMailinglist : [EMAIL PROTECTED]
HIMtv
Terkadang bukan hanya rating yang bisa disalahkan dalam membuat paket
tayangan sebuah televise, kejelian pihak program internal membaca karakteristik
pemirsa pada jam-jam tertentu juga cukup berpengaruh. Contoh paling gampang
saja : kecenderungan banyaknya program berita andalan dijejalkan pada slot
tayang pukul 5 sore sampai 7 malam. Sebelum jam 5 maupun selepas jam 7 malam
dianggap bukan prime-time tayangan seperti itu. Dulu Seputar Indonesia RCTI
dipatok pukul 18.30 wib, sementara Liputan6 SCTV pada sore hari diplot mulai
pukul 6 sore. Tokh, sekarang waktu sacral untuk kedua tayangan tersebut
justru tergusur oleh program sinetron yang secara rating lebih mendulang
perolehan iklan.
ExtraVaganza pun pernah mengalami kemandegan ketika mulanya dipasang pada jam
9 malam. Tagline Tidak perlu I dont like Monday lagi karena ada ExtraVaganza
kurang mengangkat pamor program komedi ini, justru sempat membuatnya terlempar
ke jam tayang yang lebih malam lagi. Kondisinya mulai membaik setelah ditaruh
di prime-time, bahkan ditambah frekuensinya menjadi 2 kali seminggu plus ada
versi ExtraVaganzABG.
Program talkshow ringan yang lagi booming sekarang Empat Mata mulanya tak
menarik perhatian saat ditaruh pada jam tayang hari minggu pukul 10 malam.
Popularitasnya mulai merangkak ketika ditaruh pada jam 9 malam di hari Senin
dan Rabu, lalu bertambah lagi menjadi sepanjang hari Senin-Jumat dengan
pergeseran lagi jam tayangnya satu jam lebih larut karena pertimbangan
content-nya untuk pemirsa dewasa. Meski demikian, jargon2 semacam kembali ke
laptop, katro, puas
puas
puas
, sana kembali ke pohon yang sudah merakyat
ini bisa jadi salahsatu tolok ukur betapa tayangan ini menjadi mascot andalan
Trans7.
Yang penulis tak mengerti adalah perpindahan jam tayang Newsdotcom dari
hari Senin menjadi Minggu. Formatnya pun bukan lagi siaran langsung, tapi
menjadi rekaman. Lha, kalo bentuknya jadi taping begini , buat apa mas
Effendy Ghazali dulu ngotot cabut dari Republik BBM-nya Indosiar ? Atau mungkin
perubahan format ini ada hubungannya dengan sosok sang wapres Ucup Keliek
yang kontraknya tidak diperpanjang ?
HIMusic
Pergelaran mencari idola penyanyi berikut dari Indonesian Idol dan KDI
segera dimulai lagi. Sedangkan untuk AFI, tampaknya Indosiar masih
terombang-ambing apakah hendak diteruskan, dirombak formatnya, atau malah tidak
dilanjutkan. Oh, ya kata penyanyi penulis beri tanda kutip karena dalam
kenyataannya banyak dari mereka yang justru berkiprah di jalur sinetron.
Hhhmmm
sebuah anomaly ?
Meski demikian penulis cukup kaget juga ketika lagu Kemenangan hati yang
diciptakan Yovie Widiyanto, justru dinyanyikan oleh Dirly dan Ghea, bukan Ihsan
sang Indonesian Idol. Lagu ini juga dijadikan theme song sinetron berjudul
Idola yang juga diperankan oleh runner up dan second runner up Indonesian
Idol 2006. Lho, apakah ini berarti sang juara lomba nyanyi belum tentu cocok
untuk di-push ke publik ? Atau sebenarnya ada yang salah dengan system
audisi/penjurian yang dipakai selama ini ? Jadi kangen nich dengan lomba2
sejenis Asia Bagus yang tanpa polling sms-sms begituan.
Memang dalam dunia audio visual, penampilan dan performance aksi panggung
penyanyi bisa menipu tapi kalau anda tergolong orang yang rajin menyimak radio
dimana hanya kualitas suara dan lagu saja yang dijual tentu pertimbangan apakah
sang penyanyi ini bertampang ganteng atau cantik adalah urusan kesekian. Meski
sikap kompomi dalam batas2 tertentu sebisa mungkin diakomodasi untuk bisa
diterima pasar secara luas.
HIMedia
Check & re-check (and balance). Bukan, penulis bukan hendak membahas program
infotainment di televisi, namun mengupas sekilas tentang adanya etika bagi para
wartawan dalam melakukan peliputan berita. Kasus ini mencuat ketika insan pers
dikecam oleh public, terutama kalangan korban hilangnya Adam Air, dimana ada
beberapa media yang melakukan semacam breaking news bahwa pesawat tersebut
telah ditemukan. Entah darimana mereka mendapatkan narasumbernya yang valid,
namun berita bohong itu sudah terlanjur tersebar. Penulis tidak tahu apakah
media tersebut meminta maaf maupun meralat beritanya setelah itu.
Dalam hal ini, kredibilitas narasumber kadang kurang mendapat apresiasi oleh
media pers. Asal penemu, pakar, pengamat, pejabat, atau orang-orang yang
dianggap bisa berkomentar tentang sesuatu hal bisa saja muncul di media. Contoh
yang kerap penulis lihat di televisi adalah liputan2 di beberapa program
infotainment, dimana sang tokoh yang digosipkan tidak memberi komentar apa2, eh
yang ditanyain sebagai narasumber-nya bisa bermacam-macam, mulai dari
pembantu, supir, tetangga, satpam, pak RT, pengacara, sampai petugas KUA
berdasarkan asumsi katanya
tanpa pengejaran kebenaran faktanya seperti apa
dari sang selebritis tersebut. Dikejar deadline demi eksklusifitas ?
HIMtertainmentSound is provided by :
Retromantic of HardrockFM87.6
Rhytym of love of MustangFM88
Monday Back2back, Wednesday Slow Machine, & Sunday Club 80s of KISFM95.1
One Love of JAKFM101
HIMsight | HIMpersada10 | HIMoments
HIMfs : [EMAIL PROTECTED] | HIMblog! :
http://himfiles.blogs.friendster.com
HIMym : jukeboxlist | HIMailinglist : [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.