http://mediacare.blogspot.com/2007/01/seruan-wartawan-kompas.html
Dilahirkan tahun 1965, Harian Kompas -nama ini diusulkan oleh Presiden Soekarno yang artinya "pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba" sampai saat ini tetap menempatkan mottonya, "AmanatHati Nurani Rakyat" sebagai cakrawala.Harian Kompas ingin tetap berkembang dan mengembangkan diri sebagai institusi pers yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengkotakan latar belakang suku, agama, ras, dan golongan. Sebagai lembaga yang terbuka, kolektif, Harian Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Dengan cakrawala itu pula, Harian Kompas ingin ikut serta dan secara aktif berupaya terlibat dalam proses mencerdaskan bangsa, atau lebih jauh lagi, memuliakan manusia.Sebagai institusi dengan alasan penjadian seperti di atas, maka segenap wartawan Kompas merasa perlu harus tekun, tak pernah berhenti bergulat dengan nilai-nilai dasar Kompas, yang antara lain bersifat menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabatnya; mengutamakan watak baik; profesional; selalu sadar atas tugas mengemban tanggung jawab sosial.Dinamika di dalam, yang selalu berada pada posisi tarik-menarik, tawar-menawar, bernegosiasi antara kepentingan perusahaan beserta seluruh wartawan/karyawannya dengan idealisme institusi ini, adalah hal yang wajar terjadi, pada suatu institusi bisnis. Ketegangan antara kepentingan perusahaan sebagai institusi bisnis di satu pihak, dan idealisme pers yang bertugas mengemban tanggung jawab sosial dilain pihak, merupakan bentuk ketegangan yang ikut mendewasakan siapa saja yang bekerja di surat kabar ini. Selama ini, ketegangan seperti itu diselesaikan dengan semangat kebersamaan, dengan asumsi adanya pengutamaan watak dan niat baik semua pihak, atau bahkan dengan pertama-tama mensyukuri rahmat Tuhan atas peran yang bisa kami mainkan selama ini. Di sini memang terbersit adanya asketisme di antara kami wartawan Kompas. Pilihan hidup sebagai wartawan dalam beberapa hal mengandung aspek vocatio, panggilan, untuk ikut memuliakan kehidupan dan kemanusiaan.Latar belakang di atas perlu kami paparkan, karena kami melihat pada waktu-waktu belakangan ini diluar Kompas telah muncul suatu "petualangan"; oleh satu pihak yang melakukan aksi untuk mendiskreditkan, merongrong, memutar-balikkan nilai-nilai yang diemban oleh Harian Kompas. "Petualangan"; oleh pihak tersebut dilakukan dengan aksi sepihak berupa antara lain kegiatan demonstrasi di seputar kantor Harian Kompas dan beberapa tempat lain; pemasangan spanduk-spandukyang sifatnya mendiskreditkan perusahaan maupun individu; penyampaian informasi-informasi sepihak tentang berbagai kejadian yang telah "diorkestrasi" pihak tersebut untuk memojokkan Harian Kompas ke berbagai pihak seperti lembaga-lembaga swadaya masyarakat, lembaga resmi pemerintah, dan lain-lain; menempatkan berbagai pihak di dalam Harian Kompas dalam posisi antagonistik; dan menyebarkan hasutan dan sifat saling bermusuhan.Untuk mencegah "petualangan" ituberkembang lebih jauh sehingga merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat luas yang ikut memilikiHarian Kompas, maka dengan ini kami, wartawan Kompas, mengeluarkan seruan:1. Kami, wartawan Kompas, tidak merasa diwakili oleh satu pihak, yang tengah berpretensi mewakili kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas, dengan melakukan aksi sepihak berikut cara-cara yangjustru bertentangan dengan segenap nilai yang hendak diinternalisasikan Harian Kompas.2. Karena pihak tersebut mengklaim diri sebagai pengurus dari suatu organisasi di dalam HarianKompas; suatu organisasi yang sifatnya lebih untuk kepentingan di dalam, dan menjadi isu minor dibandingkan kepentingan pembaca/masyarakat secara luas; kami nyatakan klaim itu tidak relevan. Organisasi ini telah dibajak keluar untukmemperjuangkan kepentingan pribadi yang sempit, dengan berkedok untuk kepentingan para wartawan/karyawanHarian Kompas.3. Kami mengimbau semua pihak berhati-hati, karena dalam era globalisasi berikut tersedianya berbagai instrumen dan institusi yang memungkinkan adanya pemberdayaan individu secara optimum ini, tampaknya bukan tidak mungkin muncul apa yang disebut "a super-empowered angry individual"; yang berpotensi menghancurkan cita-cita terbentuknya masyarakat madani, proses demokratisasi, bahkan sivilisasi.Jakarta, 27 Januari 2007Kami, wartawan Kompas:Efix MulyadiM NasirBudi SuwarnaMh Samsul HadiMaria HartiningsihFrans SartonoHamzirwanHermas E PrabowoLuki AuliaPascal S Bin SajuAmir SodikinHariadi SaptonoNawa TunggalDahono FitriantoIda SetyoriniMulyawan KarimFandri YuniartiGunawan SetiadiNur HidayatiSusi IvvatyOsa TriyatnaChris PudjiastutiKenedi NurhanOrin BasukiTiur Santi OktaviaBanu AstonoBre RedanaM SuprihadiIwan OngNinuk Mardiana PambudyHaryo DanardonoTonny D WidiastonoM Clara WrestiFitrisia MBrigitta Isworo LaksmiDanu KusworoJimmy S HariantoLusiana IndriasariMyrna RatnaAgus MulyadiAgus HermawanDiah MarsidiNeli TrianaWindoro AdiIrving NoorYesayas OctavianusYulia SapthianiCaesar AlexeyArbain RambaiPingkan E Dundu -- Posted By radityo to mediacare at 1/30/2007 04:43:00 PM
