Aduh aduh wartawan-wartawan Kompas nan pintar kok terperangkap dengan permainan
politik devide et impera penguasa yang selalu berusaha mengobarkan konflik
horizontal? Jadi tulisan-tulisan Anda semua tentang penyadaran sosial di harian
Anda tidak lahir dari hati yang tulus dan kesadaran intelektual sepenuhnya? Iya
ibu Maria Hartiningsih? Politik praktis ternyata lebih makan hati ya?
Btw, ini 72 nama mewakili 171 nama yang ada di boks redaksi? Termasuk
pimpinan dan wartawan daerah ? Kok tidak ada nama-nama seperti Bpk Jakob,
Bapak Suryopratomo dan nama-nama pengurus PKK di bawah ketuanya Syahnan
Rangkuti? Kok Bapak ini tidak ada suaranya atau tandatangannya dalam daftar ini?
Tidak apalah. Ini negara demokratis Bung, begitu juga di kantor Kompas.
KKG_watch
Nb.
Bt Bung Adhi KSP, kabarnya ada sesuatu saat Anda ditugaskan di Jawa Tengah ?
(he...he... saya pakai gaya wartawan infotainment)
robertadhiksp <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf, Pak Moderator, mengganggu sejenak ya. Ada SERUAN WARTAWAN
KOMPAS yang disiarkan Selasa (30/1) ini.
Adhi Kusumaputra
===================================================================
Seruan Wartawan Kompas
Dilahirkan tahun 1965, Harian Kompas-nama ini diusulkan oleh Presiden
Soekarno yang artinya "pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan
atau hutan rimba"-sampai saat ini tetap menempatkan mottonya, "Amanat
Hati Nurani Rakyat" sebagai cakrawala. Harian Kompas ingin tetap
berkembang dan mengembangkan diri sebagai institusi pers yang
mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengkotakan latar belakang
suku, agama, ras, dan golongan. Sebagai lembaga yang terbuka,
kolektif, Harian Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai
tertinggi, mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai
yang transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Dengan cakrawala
itu pula, Harian Kompas ingin ikut serta dan secara aktif berupaya
terlibat dalam proses mencerdaskan bangsa, atau lebih jauh lagi,
memuliakan manusia.
Sebagai institusi dengan alasan penjadian seperti di atas, maka
segenap wartawan Kompas merasa perlu harus tekun, tak pernah berhenti
bergulat dengan nilai-nilai dasar Kompas, yang antara lain bersifat
menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat
dan martabatnya; mengutamakan watak baik; profesional; selalu sadar
atas tugas mengemban tanggung jawab sosial.
Dinamika di dalam, yang selalu berada pada posisi tarik-menarik,
tawar-menawar, bernegosiasi antara kepentingan perusahaan beserta
seluruh wartawan/karyawannya dengan idealisme institusi ini, adalah
hal yang wajar terjadi, pada suatu institusi bisnis. Ketegangan
antara kepentingan perusahaan sebagai institusi bisnis di satu pihak,
dan idealisme pers yang bertugas mengemban tanggung jawab sosial di
lain pihak, merupakan bentuk ketegangan yang ikut mendewasakan siapa
saja yang bekerja di surat kabar ini. Selama ini, ketegangan seperti
itu diselesaikan dengan semangat kebersamaan, dengan asumsi adanya
pengutamaan watak dan niat baik semua pihak, atau bahkan dengan
pertama-tama mensyukuri rahmat Tuhan atas peran yang bisa kami
mainkan selama ini. Di sini memang terbersit adanya asketisme di
antara kami wartawan Kompas. Pilihan hidup sebagai wartawan dalam
beberapa hal mengandung aspek vocatio, panggilan, untuk ikut
memuliakan kehidupan dan kemanusiaan.
Latar belakang di atas perlu kami paparkan, karena kami melihat pada
waktu-waktu belakangan ini di luar Kompas telah muncul
suatu "petualangan" oleh satu pihak yang melakukan aksi untuk
mendiskreditkan, merongrong, memutar-balikkan nilai-nilai yang
diemban oleh Harian Kompas. "Petualangan" oleh pihak tersebut
dilakukan dengan aksi sepihak berupa antara lain kegiatan demonstrasi
di seputar kantor Harian Kompas dan beberapa tempat lain; pemasangan
spanduk-spanduk yang sifatnya mendiskreditkan perusahaan maupun
individu; penyampaian informasi-informasi sepihak tentang berbagai
kejadian yang telah "diorkestrasi" pihak tersebut untuk memojokkan
Harian Kompas ke berbagai pihak seperti lembaga-lembaga swadaya
masyarakat, lembaga resmi pemerintah, dan lain-lain; menempatkan
berbagai pihak di dalam Harian Kompas dalam posisi antagonistik; dan
menyebarkan hasutan dan sifat saling bermusuhan.
Untuk mencegah "petualangan" itu berkembang lebih jauh sehingga
merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat luas yang ikut memiliki
Harian Kompas, maka dengan ini kami, wartawan Kompas, mengeluarkan
seruan:
1. Kami, wartawan Kompas, tidak merasa diwakili oleh satu pihak, yang
tengah berpretensi mewakili kepentingan para wartawan/karyawan Harian
Kompas, dengan melakukan aksi sepihak berikut cara-cara yang justru
bertentangan dengan segenap nilai yang hendak diinternalisasikan
Harian Kompas.
2. Karena pihak tersebut mengklaim diri sebagai pengurus dari suatu
organisasi di dalam Harian Kompas-suatu organisasi yang sifatnya
lebih untuk kepentingan di dalam, dan menjadi isu minor dibandingkan
kepentingan pembaca/masyarakat secara luas-kami nyatakan klaim itu
tidak relevan. Organisasi ini telah dibajak keluar untuk
memperjuangkan kepentingan pribadi yang sempit, dengan berkedok untuk
kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas.
3. Kami mengimbau semua pihak berhati-hati, karena dalam era
globalisasi berikut tersedianya berbagai instrumen dan institusi yang
memungkinkan adanya pemberdayaan individu secara optimum ini,
tampaknya bukan tidak mungkin muncul apa yang disebut "a super-
empowered angry individual" yang berpotensi menghancurkan cita-cita
terbentuknya masyarakat madani, proses demokratisasi, bahkan
sivilisasi.
Jakarta, 27 Januari 2007
Kami, wartawan Kompas:
1.. Efix Mulyadi
2.. M. Nasir
3.. Budi Suwarna
4.. Mh Samsul Hadi
5.. Maria Hartiningsih
6.. Frans Sartono
7.. Hamzirwan
8.. Hermas E Prabowo
9.. Luki Aulia
10.. Pascal S Bin Saju
11.. Amir Sodikin
12.. Hariadi Saptono
13.. Nawa Tunggal
14.. Dahono Fitrianto
15.. Ida Setyorini
16.. Mulyawan Karim
17.. Fandri Yuniarti
18.. Gunawan Setiadi
19.. Nur Hidayati
20.. Susi Ivvaty
21.. Osa Triyatna
22.. Chris Pudjiastuti
23.. Kenedi Nurhan
24.. Orin Basuki
25.. Tiur Santi Oktavia
26.. Banu Astono
27.. Bre Redana
28.. M Suprihadi
29.. Iwan Ong
30.. Ninuk Mardiana Pambudy
31.. Haryo Danardono
32.. Tonny D Widiastono
33.. M Clara Wresti
34.. Fitrisia M
35.. Brigitta Isworo Laksmi
36.. Danu Kusworo
37.. Jimmy S Harianto
38.. Lusiana Indriasari
39.. Myrna Ratna
40.. Agus Mulyadi
41.. Agus Hermawan
42.. Diah Marsidi
43.. Neli Triana
44.. Windoro Adi
45.. Irving Noor
46.. Yesayas Octavianus
47.. Yulia Sapthiani
48.. Caesar Alexey
49.. Arbain Rambai
50.. Pingkan E Dundu
51.. Pepih Nugraha
52.. Anton Sanjoyo
53.. Abun Sanda
54.. Sri Hartati Samhadi
55.. Dirman Thoha
56.. Jannes Eudes Wawa
57.. Putu Fajar Arcana
58.. M Yuniadhi Agung
59.. Dedi Muhtadi
60.. Bambang Wahyu
61.. Elly Roosita
62.. Ambrosius Harto
63.. Ardhian Novianto
64.. Agnes Sweta Pandia
65.. Muhammad Bakir
66.. Yunas Santhani Azis
67.. Anwar Hudijono
68.. Buyung Wijaya Kusuma
69.. Gatot Widakdo
70.. Muhammad Syaifullah
71.. Wisnu Nugroho
72.. Adhi Kusuma Putra
---------------------------------
Kini dengan simpanan sebanyak 1GB
http://my.mail.yahoo.com/