Maaf, Pak Moderator, mengganggu sejenak ya. Ada SERUAN WARTAWAN KOMPAS yang disiarkan Selasa (30/1) ini.
Adhi Kusumaputra =================================================================== Seruan Wartawan Kompas Dilahirkan tahun 1965, Harian Kompas-nama ini diusulkan oleh Presiden Soekarno yang artinya "pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba"-sampai saat ini tetap menempatkan mottonya, "Amanat Hati Nurani Rakyat" sebagai cakrawala. Harian Kompas ingin tetap berkembang dan mengembangkan diri sebagai institusi pers yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengkotakan latar belakang suku, agama, ras, dan golongan. Sebagai lembaga yang terbuka, kolektif, Harian Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Dengan cakrawala itu pula, Harian Kompas ingin ikut serta dan secara aktif berupaya terlibat dalam proses mencerdaskan bangsa, atau lebih jauh lagi, memuliakan manusia. Sebagai institusi dengan alasan penjadian seperti di atas, maka segenap wartawan Kompas merasa perlu harus tekun, tak pernah berhenti bergulat dengan nilai-nilai dasar Kompas, yang antara lain bersifat menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabatnya; mengutamakan watak baik; profesional; selalu sadar atas tugas mengemban tanggung jawab sosial. Dinamika di dalam, yang selalu berada pada posisi tarik-menarik, tawar-menawar, bernegosiasi antara kepentingan perusahaan beserta seluruh wartawan/karyawannya dengan idealisme institusi ini, adalah hal yang wajar terjadi, pada suatu institusi bisnis. Ketegangan antara kepentingan perusahaan sebagai institusi bisnis di satu pihak, dan idealisme pers yang bertugas mengemban tanggung jawab sosial di lain pihak, merupakan bentuk ketegangan yang ikut mendewasakan siapa saja yang bekerja di surat kabar ini. Selama ini, ketegangan seperti itu diselesaikan dengan semangat kebersamaan, dengan asumsi adanya pengutamaan watak dan niat baik semua pihak, atau bahkan dengan pertama-tama mensyukuri rahmat Tuhan atas peran yang bisa kami mainkan selama ini. Di sini memang terbersit adanya asketisme di antara kami wartawan Kompas. Pilihan hidup sebagai wartawan dalam beberapa hal mengandung aspek vocatio, panggilan, untuk ikut memuliakan kehidupan dan kemanusiaan. Latar belakang di atas perlu kami paparkan, karena kami melihat pada waktu-waktu belakangan ini di luar Kompas telah muncul suatu "petualangan" oleh satu pihak yang melakukan aksi untuk mendiskreditkan, merongrong, memutar-balikkan nilai-nilai yang diemban oleh Harian Kompas. "Petualangan" oleh pihak tersebut dilakukan dengan aksi sepihak berupa antara lain kegiatan demonstrasi di seputar kantor Harian Kompas dan beberapa tempat lain; pemasangan spanduk-spanduk yang sifatnya mendiskreditkan perusahaan maupun individu; penyampaian informasi-informasi sepihak tentang berbagai kejadian yang telah "diorkestrasi" pihak tersebut untuk memojokkan Harian Kompas ke berbagai pihak seperti lembaga-lembaga swadaya masyarakat, lembaga resmi pemerintah, dan lain-lain; menempatkan berbagai pihak di dalam Harian Kompas dalam posisi antagonistik; dan menyebarkan hasutan dan sifat saling bermusuhan. Untuk mencegah "petualangan" itu berkembang lebih jauh sehingga merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat luas yang ikut memiliki Harian Kompas, maka dengan ini kami, wartawan Kompas, mengeluarkan seruan: 1. Kami, wartawan Kompas, tidak merasa diwakili oleh satu pihak, yang tengah berpretensi mewakili kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas, dengan melakukan aksi sepihak berikut cara-cara yang justru bertentangan dengan segenap nilai yang hendak diinternalisasikan Harian Kompas. 2. Karena pihak tersebut mengklaim diri sebagai pengurus dari suatu organisasi di dalam Harian Kompas-suatu organisasi yang sifatnya lebih untuk kepentingan di dalam, dan menjadi isu minor dibandingkan kepentingan pembaca/masyarakat secara luas-kami nyatakan klaim itu tidak relevan. Organisasi ini telah dibajak keluar untuk memperjuangkan kepentingan pribadi yang sempit, dengan berkedok untuk kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas. 3. Kami mengimbau semua pihak berhati-hati, karena dalam era globalisasi berikut tersedianya berbagai instrumen dan institusi yang memungkinkan adanya pemberdayaan individu secara optimum ini, tampaknya bukan tidak mungkin muncul apa yang disebut "a super- empowered angry individual" yang berpotensi menghancurkan cita-cita terbentuknya masyarakat madani, proses demokratisasi, bahkan sivilisasi. Jakarta, 27 Januari 2007 Kami, wartawan Kompas: 1.. Efix Mulyadi 2.. M. Nasir 3.. Budi Suwarna 4.. Mh Samsul Hadi 5.. Maria Hartiningsih 6.. Frans Sartono 7.. Hamzirwan 8.. Hermas E Prabowo 9.. Luki Aulia 10.. Pascal S Bin Saju 11.. Amir Sodikin 12.. Hariadi Saptono 13.. Nawa Tunggal 14.. Dahono Fitrianto 15.. Ida Setyorini 16.. Mulyawan Karim 17.. Fandri Yuniarti 18.. Gunawan Setiadi 19.. Nur Hidayati 20.. Susi Ivvaty 21.. Osa Triyatna 22.. Chris Pudjiastuti 23.. Kenedi Nurhan 24.. Orin Basuki 25.. Tiur Santi Oktavia 26.. Banu Astono 27.. Bre Redana 28.. M Suprihadi 29.. Iwan Ong 30.. Ninuk Mardiana Pambudy 31.. Haryo Danardono 32.. Tonny D Widiastono 33.. M Clara Wresti 34.. Fitrisia M 35.. Brigitta Isworo Laksmi 36.. Danu Kusworo 37.. Jimmy S Harianto 38.. Lusiana Indriasari 39.. Myrna Ratna 40.. Agus Mulyadi 41.. Agus Hermawan 42.. Diah Marsidi 43.. Neli Triana 44.. Windoro Adi 45.. Irving Noor 46.. Yesayas Octavianus 47.. Yulia Sapthiani 48.. Caesar Alexey 49.. Arbain Rambai 50.. Pingkan E Dundu 51.. Pepih Nugraha 52.. Anton Sanjoyo 53.. Abun Sanda 54.. Sri Hartati Samhadi 55.. Dirman Thoha 56.. Jannes Eudes Wawa 57.. Putu Fajar Arcana 58.. M Yuniadhi Agung 59.. Dedi Muhtadi 60.. Bambang Wahyu 61.. Elly Roosita 62.. Ambrosius Harto 63.. Ardhian Novianto 64.. Agnes Sweta Pandia 65.. Muhammad Bakir 66.. Yunas Santhani Azis 67.. Anwar Hudijono 68.. Buyung Wijaya Kusuma 69.. Gatot Widakdo 70.. Muhammad Syaifullah 71.. Wisnu Nugroho 72.. Adhi Kusuma Putra
