Refleksi: Adakah diantara pembaca yang bisa membuka arkif  di Belanda mau pun 
di Indonesia untuk menambah tulisan ini? Katanya di Belanda ada kelopmpok 
pelurusan sejarah, bagaimana komentar kalian ?


http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/06/0904.htm


Pertemuan Drees-Sjahrir 1949
Oleh H. ROSIHAN ANWAR  
JANUARI 1949 terjadi hal-hal yang menunjukkan sulitnya perjuangan mencapai 
kemerdekaan dan kedaulatan. Pimpinan pemerintah Republik Indonesia berada dalam 
tahanan militer Belanda di Prapat dan di Bangka. Pada bulan itu pula PM Belanda 
Dr. Willem Drees berkunjung ke Jakarta. Tanggal 19 Desember 1948 Jenderal Spoor 
memimpin aksi militer kedua. Dalam waktu sekejap Yogya diduduki. Presiden 
Soekarno, Wakil Presiden Hatta, Penasehat Presiden Sjahrir, Deputi Menteri Luar 
Negeri H. Agus Salim, Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat 
(KNIP) Mr Assaat, Menteri Pendidikan Mr Ali Sastroamidjojo, Sekretaris Negara 
Mr Pringgodigdo, Komodor Udara Suryadarma ditawan dan dibuang ke Prapat di 
Sumatra Utara dan Pulau Bangka.

Wakil Mahkota Agung dan mantan PM Belanda Dr. Louis Beel berpendirian bahwa 
Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Tapi Dewan Keamanan PBB tidak 
berpendapat demikian. RI yang November 1946 berunding dengan Belanda di 
Linggajati dan diakui berkuasa de facto di Jawa dan Sumatra tidak hilang begitu 
saja. PM Belanda Drees melihat gengsi internasional para pemimpin republik yang 
ditahan oleh militer Belanda malahan meningkat. Dewan Keamanan menyerukan 
supaya Soekarno-Hatta dibebaskan dan dikembalikan ke Yogya, kemudian usaha 
penyelesaian konflik Indonesia-Belanda dilanjutkan di bawah supervisi Dewan 
Keamanan PBB. Dreees mengunjungi Jakarta buat kedua kalinya. Yang pertama kali 
tahun 1947, ketika dia bertemu dengan PM Sjahrir.

Petang hari, 18 Januari 1949 dalam hujan gerimis Sjahrir tiba di lapangan 
terbang Kemayoran Jakarta dari Medan. Sejak 19 Desember 1948 dia ditahan di 
sebuah rumah di Prapat bersama Soekarno dan H. Agus Salim, dan kemudian 
dibebaskan, balik ke Jakarta untuk bertemu dengan PM Drees pada malam itu juga. 
Di Kemayoran Sjahrir disambut oleh Dr P.J. Koets Direktur kabinet Gubernur 
Jenderal Belanda dan oleh sejumlah wartawan luar dan dalam negeri. Saya hadir 
sebagai Pemred Pedoman. Berjalan di samping anak angkatnya Lily (kelak Ny. Lily 
Sutantio) Sjahrir tidak memberikan keterangan kepada pers yang menunggu. No 
comment, kata eks PM Republik Indonesia (1945-47).

Sebelum bertemu Drees di Istana, Sjahrir bicara dengan Prof. Dr. Supomo, 
anggota delegasi perundingan republik. Dia memberikan jaminan kepada Supomo 
tidak akan memulai perundingan dengan Frees atau orang-orang federal (Anak 
Agung dkk.), sebelum para pemimpin RI yang ditahan telah dibebaskan, dan 
sebelum dipulihkan posisi mereka selaku pemerintah RI.

Gagal dengan Hatta

Ketika itu saya tidak punya informasi tentang isi pembicaraan Drees-Sjahrir. 
Tapi baru-baru ini Prof. Dr. Bambang Hidayat dari Observatorium Bosscha Lembang 
memberi saya buku Vier Jaar Nachtmerrie (Empat Tahun Mimpi Buruk), karangan 
Mans Daalder (2004). Di dalam buku itu terdapat isi pembicaraan Drees-Sjahrir. 
Terlebih dahulu Sjahrir menegaskan dia datang "sebagai perorangan di luar 
kalangan pemerintahan republik". Ia pernah sesaat berpikir untuk tidak lagi 
mengurus masalah Indonesia, akan tetapi akhirnya berpendapat bahwa masalah itu 
sekarang begitu penting hingga dia tidak bisa dan tidak boleh menjauhkan diri.

Drees yang didampingi oleh Michiels Verduynen, Dubes Belanda di London, 
menegaskan, kepentingan yang mereka berikan terhadap perundingan 
antar-Indonesia (federal dengan republikein). Ia menjelaskan jadwal penyerahan 
kedaulatan yang telah disampaikan oleh Belanda kepada PBB. Sjahrir berkata 
"Tidak satu pun dari kedua pihak memperoleh keuntungan, apabila mereka tetap 
seratus persen tinggal berdiri berhadap-hadapan". Dia tidak ingin dalam 
pembicaraan ini menyalahkan salah satu dari kedua pihak. Akan tetapi dia tidak 
bersedia mengadakan kewajiban ikatan tanpa persetujuan dari kabinet Hatta yang 
republikein (hal. 306).

Drees ingin bicara dengan Hatta. Pegawai tinggi A.W.C. Giabel pergi ke Bangka 
untuk mengatur pertemuan. Hatta menghargai kontak dengan Drees, tapi dia tidak 
pergi ke Jakarta, karena kunjungan Wapres RI ke ibukota Indonesia bisa 
ditafsirkan sebagai penyerahan diri . Kesan demikian harus dihindarkan, karena 
kartu RI di Dewan Keamanan PBB sedang dalam keadaan bagus. Giebel menawarkan 
kepada Hatta untuk terbang dengan pesawat militer ke Jakarta dan kembali dengan 
cara serupa ke Bangka. Hatta menolak, karena kunjungannya kepada Drees tidak 
dapat dirahasiakan. Hatta di jalanan akan segera dikenal orang di mana-mana. 
Tapi dia mau bertemu di mana saja, kecuali di Jakarta, Giebel masih berusaha 
mengatur pertemuan Singapura. Itu pun gagal. Drees balik ke Negeri Belanda 
tanggal 20 Januari 1949. Drees tidak berhasil dalam misinya ke Indonesia.

Sjahrir tidak kembali ke Prapat. Soekarno tidak senang. Sjahrir dianggap 
"mengkhianati perjuangan". Suasana di Prapat sudah agak lama tidak baik. 
Sjahrir mengecam Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada pengawal Belanda. 
Sjahrir menyuruh Soekarno tutup mulut. Soekarno lagi di kamar mandi 
bernyanyi-nyanyi lagu "One day we were young....." Soekarno jengkel karena pada 
hematnya ketiadaan respek Sjahrir terhadap presiden. Begitulah ceritanya dari 
bulan Januari tahun 1949.*** 

Penulis, wartawan senior Indonesia

Kirim email ke