RIAU POS
Wapres Usul Keluarga di Jawa Dibatasi Satu Anak
Rabu 07 Februari 2007
JAKARTA (RP)- Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menilai jumlah penduduk
di Pulau Jawa sudah sangat padat. Untuk itu, keluarga yang tinggal di Jawa
harus dibatasi hanya memiliki satu anak saja.
''Menurut saya, karena lahan sempit maka penduduk berdesakan. Kalau
banjir habis semua. Maka kalau perlu memiliki anak hanya satu,'' ujar Kalla
ketika membuka Rapat Kerja Program Keluarga Berencana Nasional di Kantor Wakil
Presiden, kemarin.
Sebaliknya, Wapres mengusulkan jumlah penduduk di luar Jawa justru harus
ditambah memiliki banyak anak. Khususnya di daerah yang jumlah penduduknya
masih sangat sedikit seperti Kalimantan dan Sulawesi, satu keluarga boleh
memiliki tiga anak. "Bahkan, agar sejahtera, penduduk Papua bisa memiliki lima
anak," katanya.
Program keluarga berencana, ujar Kalla, tidak bertujuan mengurangi
jumlah penduduk. Karena itu program KB tidak bisa diseragamkan dengan cukup dua
anak saja karena situasinya berbeda. "Tujuan kita bukan angka tapi
kesejahteraan. Formula jumlah anak yang sesuai harus berdasarkan daya dukung
ekonomi, lahan, pendidikan, dan masyarakat," terangnya.
Kalla menuturkan, ada negara yang jumlah penduduknya kecil sehingga
sejahtera seperti Singapura. Namun, ada pula negara yang jumlah penduduknya
sangat besar namun juga bisa sejahtera, seperti Cina. "Jadi, Indonesia yang
penduduknya 200 juta juga bisa sejahtera," tegasnya.
Wapres Jusuf Kalla menuturkan, Cina sempat berfikir menurunkan jumlah
penduduk dengan menerapkan kewajiban untuk memiliki satu anak saja. Namun,
aturan itu lantas direvisi karena pemerintah Cina menilai jumlah penduduk yang
besar adalah aset dan modal dasar ekonomi.
"Demikian pula Singapura. Mereka sempat berpikir akan menurunkan jumlah
kelahiran warganya sampai negatif. Namun, mereka ternyata terkejut karena itu
justru berbahaya," terangnya.
Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
Sugiri Syarief mengaku Indonesia terancam mengalami ledakan jumlah penduduk
dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu disebabkan saat ini baru 66 persen
pasangan usia subur yang mengikuti program keluarga berencana (KB).
"Dalam lima tahun terakhir ini peserta KB hanya meningkat 0,5 persen per
tahun. Jika ini dibiarkan, saya khawatir terjadi ledakan jumlah penduduk yang
akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan nasional, utamanya pengentasan
kemiskinan," jelasnya.
Jika peserta KB hanya meningkat 1 persen setiap tahun, kata Sugiri,
jumlah penduduk Indonesia pada 2015 akan mencapai 237,8 juta jiwa. Bila peserta
KB konstan 0,5 persen, jumlah penduduk pada 2015 akan mencapai 255,5 juta.
"Namun bila peserta KB justru menurun 0,5 persen, jumlah penduduk pada 2015
akan mencapai 264,4 juta jiwa," terangnya.(noe/jpnn)
<<attachment: kall.jpg>>
