mestinya JK baca Agricultural Involution-nya Geertz lebih dulu supaya memahami
soal demografi di Jawa.
Trus.....walau pun beda aliran dengan Geertz, bolehlah dibaca Nancy Sheper
"Death Without Weeping", belajar ttg kekerasan sehari-hari yang dialami
masyarakat miskin kota di Brazil, 1992 (mirip sich dengan Indonesia), supaya
tahu mengapa masyarakat miskin punya kecenderungan punya banyak anak.
nah dugaan saya yang akan protes mestilah PKS...khan dia bikin politik banyak
anak.....
timoer
Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
RIAU POS
Wapres Usul Keluarga di Jawa Dibatasi Satu Anak
Rabu 07 Februari 2007 JAKARTA (RP)- Wakil Presiden
Muhammad Jusuf Kalla menilai jumlah penduduk di Pulau Jawa sudah sangat
padat. Untuk itu, keluarga yang tinggal di Jawa harus dibatasi hanya
memiliki satu anak saja.
Menurut saya, karena lahan sempit maka penduduk berdesakan. Kalau
banjir habis semua. Maka kalau perlu memiliki anak hanya satu, ujar
Kalla ketika membuka Rapat Kerja Program Keluarga Berencana Nasional di
Kantor Wakil Presiden, kemarin.
Sebaliknya, Wapres mengusulkan jumlah penduduk di luar Jawa justru
harus ditambah memiliki banyak anak. Khususnya di daerah yang jumlah
penduduknya masih sangat sedikit seperti Kalimantan dan Sulawesi, satu
keluarga boleh memiliki tiga anak. Bahkan, agar sejahtera, penduduk
Papua bisa memiliki lima anak, katanya.
Program keluarga berencana, ujar Kalla, tidak bertujuan mengurangi
jumlah penduduk. Karena itu program KB tidak bisa diseragamkan dengan
cukup dua anak saja karena situasinya berbeda. Tujuan kita bukan angka
tapi kesejahteraan. Formula jumlah anak yang sesuai harus berdasarkan
daya dukung ekonomi, lahan, pendidikan, dan masyarakat,
terangnya.
Kalla menuturkan, ada negara yang jumlah penduduknya kecil sehingga
sejahtera seperti Singapura. Namun, ada pula negara yang jumlah
penduduknya sangat besar namun juga bisa sejahtera, seperti Cina. Jadi,
Indonesia yang penduduknya 200 juta juga bisa sejahtera, tegasnya.
Wapres Jusuf Kalla menuturkan, Cina sempat berfikir menurunkan jumlah
penduduk dengan menerapkan kewajiban untuk memiliki satu anak saja.
Namun, aturan itu lantas direvisi karena pemerintah Cina menilai jumlah
penduduk yang besar adalah aset dan modal dasar ekonomi.
Demikian pula Singapura. Mereka sempat berpikir akan menurunkan jumlah
kelahiran warganya sampai negatif. Namun, mereka ternyata terkejut
karena itu justru berbahaya, terangnya.
Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
Sugiri Syarief mengaku Indonesia terancam mengalami ledakan jumlah
penduduk dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu disebabkan saat ini baru
66 persen pasangan usia subur yang mengikuti program keluarga berencana
(KB).
Dalam lima tahun terakhir ini peserta KB hanya meningkat 0,5 persen
per tahun. Jika ini dibiarkan, saya khawatir terjadi ledakan jumlah
penduduk yang akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan nasional,
utamanya pengentasan kemiskinan, jelasnya.
Jika peserta KB hanya meningkat 1 persen setiap tahun, kata Sugiri,
jumlah penduduk Indonesia pada 2015 akan mencapai 237,8 juta jiwa. Bila
peserta KB konstan 0,5 persen, jumlah penduduk pada 2015 akan mencapai
255,5 juta. Namun bila peserta KB justru menurun 0,5 persen, jumlah
penduduk pada 2015 akan mencapai 264,4 juta jiwa, terangnya.(noe/jpnn)
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.