Saya memilih berdiam melihat penanganan kasus Poso oleh kepolisian Apakah yang polisi lakukan bisa meredam 'bara' di satu kelompok atau justru menyiram bensin.
Yang jelas, kasus2 pasca Malino tak bisa dipisahkan dari kasus2 pra Malino. Anda tokh sudah bisa baca sikap saya dari postingan beberapa waktu lalu tentang Poso, yang sayangnya kemudian hilang dari milis. Saya tidak sampai hati menuduh moderator menghapus postingan tentang Poso On 2/3/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Email Rahmad Budi yang singkat di bawah ini menurut saya mengandung dua makna yang cukup mendalam: 1. Kasus Poso sensitif, jadi kita semua mesti menahan diri mengomentarinya. Saya harap Kapolri bisa streng, menangkap semua pihak yang melanggar hukum dan mengajukannya ke pengadilan. 2. Pernyataan "belum pernah ke Poso tidak boleh mengomentari Poso" membuat orang yang belum pernah ke Belanda tidak boleh lagi mengomentari Belanda rasis, yang belum pernah ke AS tidak boleh lagi mengomentari AS fasis, dan yang belum pernah ke Palestina tidak boleh lagi berdemo membela Palestina, apalagi sampai sejuta orang berbarengan, bikin macet jalan Thamrin. Bukan begitu Rahmad Budi? Salam hangat, Danny Lim, Nederland --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "rahmad budi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > belum pernah ke Poso > nggak nonton videonya > lalu berkomentar > > > > On 2/2/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Haaaah ........ Wido sampai sekarang masih senang berpikir picik > > demi kelompoknya saja, bukan demi bangsa dan negara Indonesia? Waduh > > waduh waduh ..... sia-sialah pengorbanan ogut menjadi dosen Wido > > selama beberapa bulan tempo hari. > > > > Wido, Wido, kapan bisa eling sih nih deh donk tuh bah :-(. Ibu > > Pertiwi membutuhkan rakyat yang nasionalis silaturakhmis, bukan > > arabis gontok-gontokis. Haiyaaa ...... cilaka butulis nih Wido :- (. > > > > Salam hangat, Danny Lim, Nederland > > > > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com><mediacare%40yahoog roups.com>, Wielsma > > Baramuli <wedekabe@> > > wrote: > > > > > > Penyebab terjadinya konflik dan lestarinya konflik di Indonesia > > karena di Indonesia banyak di huni orang-orang seperti Wido, yang > > suka menghalalkan segala cara, bahkan suka menggadaikan kebenaran > > demi membela kepentingan kelompok. Thanks Budiman untuk responsnya. > > > > > > BUD'S <bsugih@> wrote: Yang dimaksud video tersebut > > dapat dilihat di situs ini : http://www.youtube.com/watch?v=8Bo- > > ZRb1Edg > > > > > > Kelihatanya video tersebut adalah adalah hasil editan dari > > beberapa kasus di Indonesia, misalnya kasus Sampit yang terjadi > > pemegalan kepala ( makanya banyak kepala yang dipegal di video > > ini ) , poso dan Ambon ( kapal pesiar ), dll. coba deh perhatikan > > senjata yang mereka bawa serta pakaian yang mereka pakai, kita bisa > > menduga itu kejadian didaerah mana. > > > > > > " mungkin polisi itu jijik mempersilahkannya masuk ke mobil atau > > bisa juga ia takut melindungi pemuda itu sementara puluhan pemuda > > Kristen Radikal sedang memukulinya. " Ngak ada tuh didalam Video > > > > > > Jangan2 Video tersebut sengaja dibuat oleh orang tertentu dengan > > tujuan tertentu pula. cobadeh dengar bahasa pengantar yang > > dipergunakan. > > > > > > Salam, Budiman > > > > > > ----- Original Message ----- > > > From: Wido Q Supraha > > > To: [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com><mediacare%40yahoog roups.com> > > > Cc: [EMAIL PROTECTED] <thulabi%40yahoogroups.com><thulabi%40yahoogro ups.com> ; > > PENGAJIAN-KANTOR@ > > > Sent: Wednesday, January 31, 2007 1:30 PM > > > Subject: [mediacare] Ketidakadilan MEDIA dalam pemberitaan POSO > > > > > > Saksi Poso Berbicara Di Jakarta > > > (laporan Syarifuddin Ambalawi) > > > > > > Hanya selang 2 hari setelah sweeping Brimob terhadap 16 muslim > > Poso yang termasuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) yang > > menyebabkan tewasnya belasan penduduk sipil muslim Poso 22 Jan 2007 > > lalu, Ust. Ahmad kemudian diutus oleh Ust. Adnan Arsal, tokoh agama > > Islam Poso setempat, untuk ke Jakarta melaporkan fakta sebenarnya. > > Kamis, 25 Jan 2007, Ust. Ahmad didampingi beberapa tokoh Forum Umat > > Islam, termasuk Ust. Abu Bakar Ba'asyir dari Majelis Mujahidin > > Indonesia dan Habib Rizieq dari Front Pembela Islam, mendatangi > > Komnas HAM untuk menyampaikan fakta. > > > > > > Rekaman Video Yang Menjijikkan > > > Rekaman video kekejaman 'Kristen Radikal' pada masa sebelum > > kesepakatan Malino dipersaksikan. Tampak belasan mayat anak kecil > > Muslim sedang dikumpulkan, diantaranya ada anak balita yang 1/3 > > tempurung kepala bagian atasnya lepas terbacok rata (kemudian > > disambungkan lagi), usus terburai dan anak kecil lainnya yang > > punggung atau bahunya terbelah lebar dan dalam bekas bacokan. Disisi > > lain tampak pula mayat-mayat orang dewasa termasuk para wanita > > dewasa. Mayat seorang ibu terlihat pergelangan tangannya putus rata > > dibacok dengan senjata yang sangat tajam yang menyebabkan bekas > > bacokannya sangat 'rata'. > > > Suatu rekaman video penutup akhirnya diputarkan yang menyebabkan > > teriakan ledakan marah para pemuda ormas Islam yang ikut hadir > > disertai teriakan histeris para wartawan yang ikut menyaksikan. > > Dalam rekaman ini tampak seorang pemuda muslim Poso sedang dikeroyok > > oleh sekelompok pemuda Kristen Radikal (istilah yang dikemukakan > > Habib Rizieq untuk membedakannya dengan umat Kristen umum). Sebuah > > golok telah menyabet kulit kepala pemuda tersebut hingga terkelupas > > selebar dan setebal kue serabi, sehingga terlihat daging berwarna > > putih dan kelupasan kulit kepala yang masih menggantung di kepalanya > > terumbai-umbai ketika ia bergerak kesana kemari. Pemuda muslim ini > > terlihat masih bisa berdiri dan teriak-teriak minta tolong pada > > polisi bersenjata lengkap yang ada disekitarnya namun tak berdaya > > atau tak berani atau tak mau bertindak tegas. Beberapa pemuda > > Kristen Radikal terlihat masih terus memukulnya dengan kayu, > > sementara seorang pemuda lainnya menombak dada kiri pemuda malang > > > tersebut dengan sebilah bambu runcing. Pemuda tersebut melepas > > tombak bambu itu dengan tangannya, lalu dengan kepala yang > > berlumuran darah, kulit kepala terkelupas, baju penuh darah, ia > > berjalan terhuyung menuju mobil polisi yang ada 3 meter > > disampingnya. Sesaat terlihat kelupasan kulit kepala pemuda tersebut > > masih melambai tergantung diatas telinganya akibat gerakan tubuhnya. > > Seorang polisi yang ada dalam mobil tersebut mengusirnya ketika > > pemuda malang itu minta perlindungan, mungkin polisi itu jijik > > mempersilahkannya masuk ke mobil atau bisa juga ia takut melindungi > > pemuda itu sementara puluhan pemuda Kristen Radikal sedang > > memukulinya. Walau akhirnya pemuda malang tersebut bisa diselamatkan > > ke sebuah mobil patroli bak terbuka polisi, namun dari sekitar 20 - > > 30 polisi yang ada di lokasi hanya 1-2 orang yang terlihat berusaha > > melerai, namun dengan cara seadanya. > > > Andi Baso, tokoh penandatangan Perjanjian Malino, yang ikut hadir > > menjelaskan bahwa itu masih belum apa-apa dibanding laporan yang ia > > terima dimana beberapa wanita dewasa di suatu desa di Poso diperkosa > > para Kristen Radikal dan beberapa diantaranya kemaluannya dimasukkan > > botol dengan paksa, ditendang kemaluannya, dan lalu sebagian mati > > ditempat. Kabar lain mengatakan Tibo pernah menyembelih seorang anak > > kecil dan meminum darahnya yang sedang mengalir dari lehernya > > langsung ke mulutnya. > > > > > > Kecemburuan Sosial Sebagai Sumbu Perang Antar Umat Beragama Poso > > > Menurut Andi Baso, pemicu awal perang Poso adalah kecemburuan > > sosial dari umat Kristen terhadap kemajuan umat Islam di Poso. Warga > > Kristen Poso sudah biasa menenggak minuman keras sehingga bangun > > telat, ke ladang telat, kerja telat, akhirnya ekonomi memburuk. > > Sedang warga muslim, ditambah pengaruh transmigran muslim dari Jawa, > > yang selalu bangun subuh untuk sholat subuh, lalu berangkat kerja > > sejak subuh, lantas lebih cepat maju. Akibat kemajuan ekonomi umat > > Islam, lantas lebih banyak mesjid dibangun, lalu uang lebih banyak > > tersedia untuk beli pengeras suara. Kemajuan rumah ibadah dan > > pengeras suara ini merupakan friksi awal yang memulai kecemburuan > > sosial. Secara logika dalam situasi seperti ini provokasi dari luar > > lebih mudah meledakkan umat Kristen, sebaliknya tidak ada artinya > > provokasi bagi umat Islam yang tidak memiliki kecemburuan sosial. > > > > > > . > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Expecting? Get great news right away with email Auto-Check. > > > Try the Yahoo! Mail Beta. > > > > > > > > > > > > > -- > > > Rahmad Budi H > Republika > Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel > 0856 711 2387 >
-- Rahmad Budi H Republika Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel 0856 711 2387
