Pendapat yang sejuk.
   
  Marilah kita serahkan kepada pemerintah untuk menyelesaikan dengan tuntas 
pergolakan2 yang telah terjadi di NKRI.
   
  Marilah kita berharap supaya pemerintah diberikan kebijaksanaan untuk 
melindungi SEMUA rakyat tanpa memandang ras, agama, dll. dll.
   
  Marilah kita berharap supaya pemerintah menghukum SEMUA yang terbukti 
bersalah.
   
  Semoga tidak ada oknum/kelompok dari rakyat manapun juga yang merasa bahwa 
mereka patut 'mendirikan keadilan' yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah.
   
  Semoga pemerintah Indonesia didalam mengeluarkan peraturan2, undang2, dll, 
melakukannya berdasarkan deklarasi HAM yang dicetuskan oleh PBB th. 1948.
   
   
  salam,
   
  amartien
   
  "In all things it is better to hope than to despair" - Johann Wolfgang von 
Goethe
   
  

sholla taufiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Jelaskan Oleh Bung Wido itu bisa berbentuk profokasi, saya sendiri 
juga melihat tiga orang yang mengatasnamakan diri "Korban Poso" itu. sejak 
mereka ke Komnas HAM, kemudian mengadakan acara di Masjid AL-Azhar Kebayoran 
Baru. dan beberapa orasi dan gerakan pendukung mereka (saudar kita)ini. 
Adalah selalu megatasnamankan Islam. dan selalu dengan kata-kata dan gambar 
video yang persisi pula. 

seperti Ahmad Suhardi, pembicara dari perwakilan Korban Poso itu seakan dengan 
mimik dan wajah memelas keprihatinan atas segala bentuk kerusushan di Poso 
selalu diwarnai dengna menyebut "naudzu billah min dzalika." 

kemudian, Andi Baso, ketika dia berbicara tidak begitu apa yang diberitakan 
oleh bung Wido,  kenapa  mereka  membawa etnis Jawa (saya sendiri orang jawa 
asli), kemudian ada  kecemburuan sosial, dan selalu memojokkan saudara kita 
yang lain, Nashrani. Bukankah kita diciptakan berbeda, biark kita bisa 
mengambil hikmah dari ini? "la'allakum tatafakkarun..."

jika saudara kita dari Poso mengaku sebagai muslim sejati, kenapa ucapan mereka 
diwarnai kebencian, kenapa kebencian dibalas dengan kebencian, terus apa 
bedanya Islam dengan Agama yang lain. bukankah ini malah mengotori nama Islam 
itu sendiri?

saya sendiri melihat rekaman video yang diputar itu, namun dalam bathin saya 
apakah video ini asli (bukan tidak percaya). apa pasal, sebab siapakah yang 
bisa mengukur nilai kejujuran itu sendiri. apakah yang dilakukan Tim Pengacara 
Muslim beserta Habib Riziq dan Abu Bakar Baasyir itu benar-benar atas nama 
kemashlahatan ummat?

saya sementara ini sepakat apa yang di katakan Panglima Laskar Jihad I, Habib 
Ja'far. dalam pembicaraanya di sebuah Radio swasta di Jakarta, dia justeru 
menantang (mempertanyakan)  perjuangan yang dilakukan  oleh  Abu Bakar Ba'asyir 
itu sendiri. sebab bagaimanapun dia dulu adalah orang dalam Laskar Jihad 
sendiri yang tahu bagaimana seluk beluk dapur diadalamnya.

kemudian, dalam obrolan itu, juga di amini oleh pak Ansyad Mbai, Ketua 
Koordinator Deks Pembarantasan  Terorisme. bahwa  kejadian di Poso 
tersangakanya adalah JI. hal ini jelas ada bukti kuat dan pengakuan dari 
kelompok mereka sendiri yang tertangkap maupun yang menyerahkan diri.

jadi, bukan saatnya kita  selalu menebarkan atas  Agama Islam yang sebenarnya  
Suci ini untuk kepentingan kelompok, maupun pribadi  dengan mengatasnamakan 
ummat!

Ingatlah, Gerakan Islam seperti ini tidak populer lagi di Indonesia, jangan 
lagi menebar Islam di Indonesia dengan Sampah-sampah dari Timur Tengah 
(wahabi). hal ini bisa kita tilik Ormas Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas 
Islam terbesar dan Muhammadiyah.

di NU sendiri kaya dengan wacana perbedaan yang dikemas secara klasik namun 
tetap modern dalam Indoneis kini dan Muhammadiyah.  jadi  saya berharap  tidak 
usah-lah lagi menebar kebencian danonar di Indonesia.

terakhir, janganlah anggap kelompok atau sosok,bahkan diri sendiri merasa 
paling BENAR. ini sangat berbahaya, dan bisa meimnbulkan sikap Ta'asshub 
(fanatik) yang berdampak negatif bagi kedamaian di Indonesia. 

wallau a'lamu bishshowab. 


(NN- belajar di UIN Jakarta, Kosentrasi pada muqaranah mdzahib fil fiqh) 







Laurens_Gawing <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      
  Salam,
  Sejujurnya iya....faktor langgengnya konflik Poso ya..orang kayak yang saudar 
sebutkan itu........
  Masyarakat di Poso dan sekitar Poso sebenarnya...dah bosan dengan konflik 
ini, coba lihat beberapa kabupaten di sekitar Poso seperti Donggala gak ada 
masyarakat disana yang macem2.apa lagi bakar,bunuh sana-sini. Yang suka 
ngeributin Poso ya orang2 luar yang sebenarnya ingin Poso hancur..salah satunya 
ya Bung Wido ini........
  Sudahlah....bung wido...orang di Poso ingin damai....TAU..!!!!!!
   
  Laurens
   
  

Wielsma Baramuli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Penyebab terjadinya konflik dan lestarinya konflik di Indonesia karena di 
Indonesia banyak di huni orang-orang seperti Wido, yang suka menghalalkan 
segala cara, bahkan suka menggadaikan kebenaran demi membela kepentingan 
kelompok. Thanks Budiman untuk responsnya.

BUD'S <[EMAIL PROTECTED]> wrote:       Yang dimaksud video tersebut dapat 
dilihat di situs ini : http://www.youtube.com/watch?v=8Bo-ZRb1Edg

Kelihatanya video tersebut adalah adalah hasil editan dari beberapa kasus di 
Indonesia, misalnya kasus Sampit yang terjadi pemegalan kepala ( makanya banyak 
kepala yang dipegal di video ini ) , poso dan Ambon ( kapal pesiar ), dll. coba 
deh perhatikan senjata yang mereka bawa serta pakaian yang mereka pakai, kita 
bisa menduga itu kejadian didaerah mana. 

" mungkin polisi itu jijik mempersilahkannya masuk ke mobil atau bisa juga ia 
takut melindungi pemuda itu sementara puluhan pemuda Kristen Radikal sedang 
memukulinya. " Ngak ada tuh didalam Video

Jangan2 Video tersebut sengaja dibuat oleh orang tertentu dengan tujuan 
tertentu pula. cobadeh dengar bahasa pengantar yang dipergunakan.

Salam, Budiman

----- Original Message ----- 
From: Wido Q Supraha 
To: [email protected] 
Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, January 31, 2007 1:30 PM
Subject: [mediacare] Ketidakadilan MEDIA dalam pemberitaan POSO

Saksi Poso Berbicara Di Jakarta
(laporan Syarifuddin Ambalawi)

Hanya selang 2 hari setelah sweeping Brimob terhadap 16 muslim Poso yang 
termasuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) yang menyebabkan tewasnya belasan 
penduduk sipil muslim Poso 22 Jan 2007 lalu, Ust. Ahmad kemudian diutus oleh 
Ust. Adnan Arsal, tokoh agama Islam Poso setempat, untuk ke Jakarta melaporkan 
fakta sebenarnya. Kamis, 25 Jan 2007, Ust. Ahmad didampingi beberapa tokoh 
Forum Umat Islam, termasuk Ust. Abu Bakar Ba'asyir dari Majelis Mujahidin 
Indonesia dan Habib Rizieq dari Front Pembela Islam, mendatangi Komnas HAM 
untuk menyampaikan fakta.

Rekaman Video Yang Menjijikkan
Rekaman video kekejaman 'Kristen Radikal' pada masa sebelum kesepakatan Malino 
dipersaksikan. Tampak belasan mayat anak kecil Muslim sedang dikumpulkan, 
diantaranya ada anak balita yang 1/3 tempurung kepala bagian atasnya lepas 
terbacok rata (kemudian disambungkan lagi), usus terburai dan anak kecil 
lainnya yang punggung atau bahunya terbelah lebar dan dalam bekas bacokan. 
Disisi lain tampak pula mayat-mayat orang dewasa termasuk para wanita dewasa. 
Mayat seorang ibu terlihat pergelangan tangannya putus rata dibacok dengan 
senjata yang sangat tajam yang menyebabkan bekas bacokannya sangat 'rata'. 
Suatu rekaman video penutup akhirnya diputarkan yang menyebabkan teriakan 
ledakan marah para pemuda ormas Islam yang ikut hadir disertai teriakan 
histeris para wartawan yang ikut menyaksikan. Dalam rekaman ini tampak seorang 
pemuda muslim Poso sedang dikeroyok oleh sekelompok pemuda Kristen Radikal 
(istilah yang dikemukakan Habib Rizieq untuk membedakannya dengan umat Kristen 
umum). Sebuah golok telah menyabet kulit kepala pemuda tersebut hingga 
terkelupas selebar dan setebal kue serabi, sehingga terlihat daging berwarna 
putih dan kelupasan kulit kepala yang masih menggantung di kepalanya 
terumbai-umbai ketika ia bergerak kesana kemari. Pemuda muslim ini terlihat 
masih bisa berdiri dan teriak-teriak minta tolong pada polisi bersenjata 
lengkap yang ada disekitarnya namun tak berdaya atau tak berani atau tak mau 
bertindak tegas. Beberapa pemuda Kristen Radikal terlihat masih terus 
memukulnya dengan kayu, sementara seorang pemuda lainnya menombak dada kiri 
pemuda malang
tersebut dengan sebilah bambu runcing. Pemuda tersebut melepas tombak bambu itu 
dengan tangannya, lalu dengan kepala yang berlumuran darah, kulit kepala 
terkelupas, baju penuh darah, ia berjalan terhuyung menuju mobil polisi yang 
ada 3 meter disampingnya. Sesaat terlihat kelupasan kulit kepala pemuda 
tersebut masih melambai tergantung diatas telinganya akibat gerakan tubuhnya. 
Seorang polisi yang ada dalam mobil tersebut mengusirnya ketika pemuda malang 
itu minta perlindungan, mungkin polisi itu jijik mempersilahkannya masuk ke 
mobil atau bisa juga ia takut melindungi pemuda itu sementara puluhan pemuda 
Kristen Radikal sedang memukulinya. Walau akhirnya pemuda malang tersebut bisa 
diselamatkan ke sebuah mobil patroli bak terbuka polisi, namun dari sekitar 20 
- 30 polisi yang ada di lokasi hanya 1-2 orang yang terlihat berusaha melerai, 
namun dengan cara seadanya. 
Andi Baso, tokoh penandatangan Perjanjian Malino, yang ikut hadir menjelaskan 
bahwa itu masih belum apa-apa dibanding laporan yang ia terima dimana beberapa 
wanita dewasa di suatu desa di Poso diperkosa para Kristen Radikal dan beberapa 
diantaranya kemaluannya dimasukkan botol dengan paksa, ditendang kemaluannya, 
dan lalu sebagian mati ditempat. Kabar lain mengatakan Tibo pernah menyembelih 
seorang anak kecil dan meminum darahnya yang sedang mengalir dari lehernya 
langsung ke mulutnya. 

Kecemburuan Sosial Sebagai Sumbu Perang Antar Umat Beragama Poso
Menurut Andi Baso, pemicu awal perang Poso adalah kecemburuan sosial dari umat 
Kristen terhadap kemajuan umat Islam di Poso. Warga Kristen Poso sudah biasa 
menenggak minuman keras sehingga bangun telat, ke ladang telat, kerja telat, 
akhirnya ekonomi memburuk. Sedang warga muslim, ditambah pengaruh transmigran 
muslim dari Jawa, yang selalu bangun subuh untuk sholat subuh, lalu berangkat 
kerja sejak subuh, lantas lebih cepat maju. Akibat kemajuan ekonomi umat Islam, 
lantas lebih banyak mesjid dibangun, lalu uang lebih banyak tersedia untuk beli 
pengeras suara. Kemajuan rumah ibadah dan pengeras suara ini merupakan friksi 
awal yang memulai kecemburuan sosial. Secara logika dalam situasi seperti ini 
provokasi dari luar lebih mudah meledakkan umat Kristen, sebaliknya tidak ada 
artinya provokasi bagi umat Islam yang tidak memiliki kecemburuan sosial.

. 




    
---------------------------------
  Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.   




  
  
---------------------------------
  Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.  


    
---------------------------------
  Any questions? Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.  

         

Kirim email ke