DL - Tentu saja posko banjir BUKAN ajang kampanye politik. Parpol yang 
menancapkan benderanya di posko banjir telah mendegradasikan dirinya dari 
parpol menjadi posko banjir. Parpol seperti itu sudah jelas tidak punya level 
parpol, tapi level posko banjir. Tindakan NU membentuk/membantu posko banjir 
dengan memakai bendera NU, bukan bendera PKB, saya acungkan dua jempol tangan. 
Sekaligus menghimbau PKB di parlemen lagar ebih keras mengontrol pemerintah 
pusat/daerah menanggulangi problematik banjir. Gubernur DKI mendatang tidak 
bisa tidak HARUS tokoh yang mengerti problematik air.


SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Posko Banjir Bukan Ajang Kampanye Parpol
[JAKARTA] Pemberian bantuan dalam penanganan bencana saat ini tampaknya banyak 
yang tak tulus lagi. Berbagai bendera p;artai politik yang dipasang di posko 
yang didirikan di sekitar lokasi bencana lebih mirip arena kampanye. 
Pemberitaan di media massa yang dibesar-besarkan juga menunjukkan adanya 
kepentingan tertentu dibalik bantuan tersebut. 

"PBNU hanya dapat menghimbau agar bantuan yang diberikan kepada para korban 
jangan didasarkan pada kepentingan politik jangka pendek partai politik. 
Sebagai ormas keagamaan kami ingin menolong masyarakat yang terkena banjir, tak 
ingin mencari popularitas. Kami menunjukkan identitas NU secukupnya saja," 
tandas Koordinator Penangulangan Bencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), 
Avianto Muhtadi dalam keterangan media di Jakarta, Rabu (7/2). 

Harus diakui, dalam bencana yang terjadi belakangan ini, banyak partai politik 
atau ormas yang memberikan bantuan kepada masyarakat, tapi dalam misi mereka, 
selalu diiringi dengan berbagai bendera besar-besar di posko atau menyebarkan 
selebaran tentang keberadaan organisasi mereka. 

Kadang bantuan sifatnya hanya seremonial, melakukan serah terima bantuan dengan 
mengundang wartawan, lalu tak ada bekasnya lagi. 

Dikatakan, berdasarkan pengalamannya di lapangan dalam penanganan banjir di 
Jakarta beberapa tahun belakangan ini, fenomena tersebut masih kental terlihat. 
Salah satu aktivis dari parpol yang dikenal cukup intens memberikan bantuan 
menanyakan kepadanya "Selebarannya mana mas?". Demikian pula, saat mo- bil PBNU 
datang, selalu ditanyakan oleh posko la- in bantuan apa saja yang diberikan. 

Dalam membantu masyarakat, tim dari PBNU juga tak pandang bulu, siapapun 
mereka, apapun agamanya akan dibantu. Bantuan langsung diberikan kepada korban 
banjir yang belum terjangkau oleh relawan lain. Dengan sigap, relawan NU dan 
banser masuk ke gang-gang yang belum dimasuki relawan lainnya, padahal sangat 
memerlukan bantuan. 

"Selama ini, posko lebih banyak didirikan di jalan besar yang mudah diakses, 
padahal banyak korban banjir yang ada di gang-gang yang susah diakses. Mereka 
tak mau jauh-jauh dari rumah untuk menjaga har-ta yang mereka miliki," katanya. 

Anggota Banser pun rela menerjang banjir dan untuk menggendong orang tua yang 
sakit akibat keterbatasan perahu karet yang tersedia. Menurut Avianto, dari 30 
perahu karet milik pemerintah, 16 buah bocor ketika digunakan dalam evakuasi. 

"Kita usahakan dimasa mendatang kita bisa membeli perahu. Ini sangat penting 
untuk memban- tu kelancaran proses evakuasi korban banjir," tambahnya. 


Salat Ghoib 

PBNU akan menyelenggarakan salat ghoib dan tahlilan di Musholla An Nahdlah, 
Kamis malam Jumat besok (9/2). "Kita mendoakan mereka agar dosanya diampuni dan 
amalnya diterima oleh Allah SWT. Mereka adalah para saudara kita yang harus 
kita perhatikan, meskipun sudah meninggal," tutur Ketua LDNU KH Nuril Huda. 

Para korban banjir yang meninggal ini disebabkan oleh tersengat listrik, hanyut 
dan tenggelam. Kor-ban terbanyak berasal dari Jakarta Timur mencapai 16 orang 
sementara lainnya dari Bekasi, Tangerang dan wilayah Jakarta lainnya kecuali 
Jakarta Selatan yang tidak ada korban meninggal. 

Acara akan dimulai dengan sholat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan 
sholat ghoib baru kemudian tahlilan. 

"Kita juga berdoa agar Indonesia bisa tertimpa dari berbagai bencana yang tak 
henti-hentinya melanda. Ini sangat penting karena manusia tak memiliki 
kemampuan apa-apa tanpa bantuan dari Allah," imbuhnya. [E-5] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 8/2/07 

Kirim email ke