IMO, jatuh cinta itu mungkin suatu hal yang tidak bisa diplot, sama
siapa saja, kapan, kenapa, dst.
Dalam kasusnya Ade, mungkin (mungkin ya) ybs jatuh cinta lagi dan
memilih mendapatkan cinta keduanya ini walau harus menyakiti cinta
pertama. 

Soal takdir atau tidak, itu tergantung cara pandang. Kalau orang
menyerah dan memilih dikuasai penuh oleh perasaannya, maka dia bisa
bilang "ini takdir". Kalau orang menang terhadap perasaannya (tepatnya
terhadap tindakannya) maka dia bisa bilang seperti yang dikatakan sdr.
Agung: "takdir adalah pilihan"...  "dan saya memilih bahwa cinta tidak
harus memiliki" (cieee.. klise ya.. tp benar juga kan?).

Perasaan mungkin sulit dilawan, tapi bisa dikuasai.. dan yang jelas
manusia harus mampu mengontrol tindakan. Kalau ngga, tentunya kita
udah ngegamparin semua orang yang menyinggung perasaan kita, termasuk
boss kita :D 

Jatuh cinta juga masalah perasaan. Ada yang lagsung klepek klepek...
ada yang bisa kelihatan dingin2 saja... Tapi tindakan: apakah saya
akan berusaha memiliki semua orang yang saya cintai, atau saya memilih
satu komitmen saja, itu pilihan. Pasti pilihan yang tidak mudah, kalau
sudah klepek klepek. Tapi soal takdir? Takdir adalah pilihan :)

"Kebetulan" yang jatuh cinta lagi adalah sang suami (muslim) yang
merasa bisa mendapat pembenaran dari agama (walau sebelumnya
diyakininya esensi agamanya adalah monogami *smile*... yah namanya
"kepepet").

"Kebetulan" yang jatuh cinta lagi memilih ingin memiliki cinta
keduanya ini walau sadar akibatnya si cinta pertama sakit dan bisa
saja lepas plus anak2 mungkin tersakiti juga (lagi2 adalah pilihan..).

"Kebetulan" yang jatuh cinta lagi ini "terlanjur" jadi public figure,
terlanjur pula sudah menulis dan berkoar ttg monogami dan cinta
keluarga monogami, terlanjur pula dicap sebagai feminist laki2.

IMHO, sebagai pribadi, Ade punya hak melakukan yang dia mau, toh
resikonya dia yang tanggung. Sama seperti kita2. Jatuh cinta,
monogami, poligami, selingkuh, solitaire, selibat, konsisten,
inkosisten, dsb... itu sebenarnya berhubungan dg nilai diri kita
dimata Tuhan dan pasangan kita. Ranah privat. 

Sebagai tokoh publik, mau tidak mau, dia harus menerima semua celaan,
kritik, kecaman, dll. Ranah publik. 

Disini saya setuju yang Ade bilang: pilihan yang berat. Yah namanya
juga pilihan ya... :)


salam,

fau
yangseringberbuatsalah


--- In [email protected], retnadi aini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> wadhuh, wadhuh, ternyata pernyataan bang ade jadi
> berkembang luas sekali ya...
> 
> sebelumnya, terima kasih ya bang ade utk pernyataannya
> yg sangat mengejutkan buat kami semua..
> tentu saja, tak hanya mengejutkan, pernyataan itu
> tentu juga mengecewakan bagi sebagian besar dr kami..
> 


Kirim email ke