REKLAMASI MAY DAY *Pemaknaan ulang proletariat merujuk pada perluasan insurgensi yang tidak lagi dibatasi oleh tembok pabrik, tapi juga mencakup mereka yang secara langsung atau tidak langsung merupakan bagian dari ekonomi uang, dan yang didominasi oleh rezim akumulasi kapital. *
Abad keduapuluh satu di Indonesia, kita masih saja mendapati proyeksi dari pergerakan anti-kapitalis sebagai suatu gerakan buruh kerah biru, buruh industrial. May Day sebagai suatu peringatan internasional terhadap perjuangan anti-kapitalis juga tidak terlepas dari imaji yang didominasi oleh imaji buruh industrial. Perjuangan anti-kapitalis menjadi sekedar perjuangan yang melibatkan antagonisme dan konflik antar subyek buruh dan majikan dalam lingkup tembok pabrik. Sementara itu, dominasi kapitalisme sendiri telah bertransformasi demikian jauh dari batasan-batasan tembok pabrik, mesin-mesin industri dan buruh industrial–suatu imaji perjuangan anti-kapitalis dari abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Dominasi kapitalisme dalam beragam bentuknya telah memasuki beragam ruang dan mensubordinasikan beragam subyek–suatu hubungan dominasi dan subordinasi yang tidak bisa lagi dimaknai dengan analisa anti-kapitalis yang hanya tertarik untuk mengunyah-ngunyah doktrin-doktrin masa lampau. Memaknai ulang perjuangan anti-kapitalis adalah mengembangkan suatu analisa dominasi kapitalis yang kontekstual pada zamannya. Saat ini kita mendapati rantai dan jejaring eksploitasi kapitalisme, dari wilayah di pelosok-pelosok yang paling terpencil, (tentunya) di pabrik-pabrik sampai di wilayah-wilayah metropolis; ruang-ruang yang didominasi yang mensubordinasikan beragam subyek—masyarakat *indigenous *yang dipatenkan gennya, pekerja perkebunan, petani subsisten, ibu rumah tangga, pelajar, pengangguran, kaum miskin kota yang berada pada sektor informal, juga pekerja kerah putih. Eksploitasi kapitalis terus menerus memperluas reproduksi nilai lebih dan pengakumulasian modal–melalui perluasan sistem kerja [i]<http://www.blogdrive.com/manage/blog_entries?bid=361090#_edn1> pada subyek-subyek dan perluasan dominasi pada ruang-ruang dan sumberdaya. Rantai reproduksi kapital yang sedemikian luas cakupannya telah menghasilkan eksplotasi pada manusia yang bukan lagi terbatas pada bentuk yang fisik dan material, tapi juga mencakup dehumanisasi melalui perusakan mental dan spiritual. Di sini kita berbicara tentang lingkup dehumanisasi yang luas—alienasi sebagian besar masyarakat dunia yang masih miskin [ii]<http://www.blogdrive.com/manage/blog_entries?bid=361090#_edn2> (dari kebutuhan-kebutuhan mendasarnya), pereduksian hidup menjadi kerja, alienasi sosial (hilangnya kekerabatan dan komunitas), alienasi manusia dari lingkungan dan alam (penghancuran ekologis), alienasi manusia terhadap kemampuannya untuk mengendalikan dan menentukan hal-hal yang menyangkut eksistensinya (pereduksian hidup menjadi mekanisme perintah untuk mengkonsumsi dan bekerja). Monster kapitalis yang eksis saat ini merupakan kapitalisme lanjut—yang merupakan konstruksi sistem ekonomi dan pengambil kebijakan yang melibatkan rezim di tingkatan global (beragam badan multilateral dan korporasi multinasional) dan satelit-satelit lokalnya (negara sebagai institusi yang melakukan pengaturan dan kapitalis lokal yang beroperasi dalam ruang-ruang terbatas yang disebut nasion). Sistem ekonomi kapitalis global yang disebut sebagai ekonomi neoliberal ini telah memungkinkan kapitalisme untuk memperluas cakupannya terhadap pasar, tenaga kerja dan sumberdaya, melampaui batas-batas geografis—perluasan rantai dan jejaring eksploitasi. Hubungan eksploitatif yang didasari pada pemetaan global dunia berdasarkan pendistribusian modal, pasar, tenaga kerja, teknologi, barang dan jasa—telah berkembang melampaui imajinasi para teknokrat neo liberal. Pasar Bebas telah memungkinkan konsentrasi kekayaan dan dominasi politik oleh segelintir pihak dalam taraf yang tidak terbayangkan sebelumnya [iii]<http://www.blogdrive.com/manage/blog_entries?bid=361090#_edn3>. Di tengah arus kapitalisme dalam tahap yang lanjut ini, perjuangan anti-kapitalisme berada dalam suatu tranformasi, yang tidak lagi mungkin hanya bersandar pada puing-puing reruntuhan, memori, heroisme dan glorifikasi gerakan-gerakan yang telah menempati relung-relungnya dalam arsip sejarah. May Day sebagai simbolisasi dari perjuangan anti-kapitalis internasional/global harus mereklamasi makna dan semangat perjuangannya untuk merengkuh perluasan subyek yang tersubordinasi dan subyek-subyek yang melakukan insurgensi. Perjuangan yang tidak lagi dibatasi oleh tembok pabrik dan buruh industrial, tapi juga mencakup beragam ruang dan populasi yang didominasi oleh rezim akumulasi kapital. *Jaringan Otonomis (Jakarta), Jaringan Autonomous Kota (Salatiga), Apokalips (Bandung), Affinitas (Jogjakarta)* ------------------------------ [i] Kapitalisme merupakan suatu sistem yang terobsesi dengan kerja, dimana perkembangan kapitalisme selalu menuntut perluasan kerja. Perluasan kerja yang awalnya merupakan suatu mekanisme untuk meningkatkan produksi; saat ini semakin diperluas pada kerja untuk menigkatkan konsumsi (perluasan bidang kerja periklanan dan pemasaran). Dominasi kerja ini juga secara jelas tersirat dalam konsep pengelolaan tenaga kerja kapitalis, dimana waktu yang tidak dipenuhi oleh kerja direduksi menjadi sekedar waktu pemulihan (rekreasi), suatu tenggang waktu yang diatur sebelum subyek perkerja kembali pada aktivitas kerjanya. Perluasan kerja juga telah melampaui pabrik dan kantor, di mana seluruh aspek kehidupan bagi sebagian besar masyarakat dunia telah didominasi oleh kerja dalam rantai reproduksi kapital--yang bahkan telah menginvasi relung-relung sosial dimana aktivitas manusia tidak bersinggungan langsung dengan ekonomi uang--contohnya adalah kehidupan domestik yang berfungsi untuk mengelola tenaga kerja dan mereproduksi tenaga kerja baru. [ii], [iii] Data PBB menunjukkan bahwa kekayaan 200 orang terkaya di dunia adalah lebih dari kekayaan gabungan 41% penduduk dunia. Pada tahun 1998, belanja konsumsi 20% populasi dunia yang tinggal di negara-negara maju, mencapai 86% dari belanja konsumsi dunia. Sementara belanja konsumsi bagi 20% penduduk termiskin di dunia adalah 1,3 % dari belanja konsumsi dunia, proporsi yang lebih buruk dari kondisi 30 tahun lalu (sebesar 2,3%). Sementara itu, dalam konstelasi hegemoni politik kapitalisme global, kita menemui tatanan hirarkis di mana badan-badan multilateral, korporasi transnasional dan pakta-pakta perdagangan bebas (yang kesemuanya merupakan institusi elitis) memberikan posisi subordinat pada negara-negara nasion (khususnya negara dunia ketiga), yang saat ini secara esensial merupakan organisasi-organisasi lokal yang menjalankan mediasi politik, mendisplinkan populasi lokal dan melakukan redistribusi pendapatan dalam teritori masing-masing yang terbatas. http://m1-2007.blogdrive.com/
