Tidak semua perempuan yang mendukung poligami disebabkan karena dia pelaku 
poligami atau produk dari keluarga poligami, justru banyaknya perempuan yang 
mendukung poligami disebabkan oleh paham teologis yang dia anut atau yang dia 
percaya.

Khususnya dalam Islam, kitab sucinya masih ditafsirkan dalam budaya patriakis 
sehingga hasil penafsiranya bisa dipastikan dalam bentuk yang bias gender. 
Karena tafsir yang bias gender seperti itulah sehingga kaum perempuan di 
tempatkan sebagai manusia kelas 2 atau manusia setenagh jadi-jadian, perempuan 
dijadikan manusia yang hanya menjadi pelengkap bagi laki-laki.

Kalau kita telaah akar budaya bangsa kita sendiri sebenarnya kedudukan 
perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan. Kita lihat contohnya bagaimana relasi 
hubungan suami dan istri, mereka bisa bersama-sama tampil di wilayah publik dan 
memiliki fungsi sosial yang sama. Jadi jangan heran kalau dalam budaya kita 
sebenarnya perempuan bisa tambil menjadi pemimpin seperti misalnya Ratu 
majapahit, kerajaan Campa dan juga kerajaan Aceh dll.

Justru keterpurukan perempuan di Indonesia setelah masuknya budaya arab yang 
turut serta dalam perkembangan Islam di tanah air. Islam memang datang dari 
arab, dengan begitu tidak bisa Islam yang datang dari arab tidak bisa lepas 
dari kungkungan warna dan karakter budaya arab yang memang patriakis.

Ketika Islam datang pada budaya Arab, justru semangat Islam adalah membebaskan 
"keterjajahan perempuan" tapi ironisnya ketika Islam dengan karakter budaya 
arab ini di terima oleh bangsa Indonesia justru menempatkan prempuan sebagai 
kaum yang terjajah oleh laki-laki.

Jadi saya pikir yang paling mempengaruhi adanya budaya poligami adalah 
"kesalahan dalam memahami penafsiran teologis khususnya agama Islam"

yang kedua adalah adanya gaya hidup matrialistis yang datang melalui berbagai 
media dan mempengaruhi cara pandang masyarakat kita sedangkan kondisi ekonomi 
sebagian besar masyarakat kita sedang terpuruk dalam kemiskinan. Banyak kaum 
yang termajinalkan akhirnya menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan gaya 
hidup yang di angan-angankan dan dengan kondisi kemiskinan dalam masyarakat 
kita prilaku menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi menjadi permisif.

marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                   
Terbukti sampai sekarang tidak ada follow up-nya, berarti upaya 
 Husna kurang mendapat dukungan dari perempuan Indonesia sendiri, 
 alias mereka nrimo saja.
 ============================================
 sebagian kecil nerimo tapi bagian yang lebih besar lagi malah 
 mendukung. mengapa mendukung? banyak wanita2 yang ber-cita2 jadi 
 istri kedua , ketiga dst. asal suaminya itu kaya daripada hidup 
 bersama pemuda yang masih kere. 
 
 salahnya juga terletak pada budaya masyarakat indonesia sendiri 
 terutama masyarakat di pulau Jawa (Jawa dan Sunda) yang menilai 
 harga wanita itu dari kekayaan suaminya. istri yang kesekian bahkan 
 gundik2 orang kaya lebih dihargai, dihormati, di-sanjung2, di-
 elu2kan (bukan di kamu2kan maksudku), dibanggakan sebagai teman dll. 
 dari pada istri pertama/satu2nya pemuda kere.
 
 ini juga sulit disalahkan perempuannya sebab banyak juga (contohnya 
 aa gym) sebagai pemuda kere mengawini teh ninih, sama2 bekerja giat 
 tau2 sudah kaya kawin lagi. 
 
 jadi nomor satu disalahkan itu masyarakatnya.
 kedua salah laki2 buaya binalnya
 ketiga salah bini keduanya yang mata duitan
 keempat salah bini pertamanya yang tidak punya harga diri
 ini saya salahkan sebab membuat lelaki jadi tidak merasa bersalah 
 poligami. 
 
 jadi kalau ada wanita yang mendukung poligami ya pasti kalau dia itu 
 ber-cita2 atau sudah jadi istri kedua atau ibunya itu adalah istri 
 kedua. kemungkinan Debbie Sumual masuk salah satunya.
 
 MJ
 






 
---------------------------------
Never Miss an Email
Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!

Kirim email ke