Artikel yg sangat berguna,

Hai saudaraku bangsa Indonesia, janganlah engkau selalu dikejar-kejar 
rasa ketakutan yg berlebihan, sebaliknya hadapilah permasalahan dengan 
pembenahan diri dengan perelngkapan yg lebih mapan. Belajarlah dari yang 
lebih pintar dan berusahalah mengalahkannya. (Ini sayangnya bukan ayat 
suci!)

Saya sangat kagum pada kebijakan (katakanlah kelicikan Israel) si 
pelanduk yg kecil ini. Pelanduk ini lahir 3 thn. setelah si Dinosauri 
Indonesia, tepatnya 18 Mei 1948. Si baby Kancil itu harus bertarung 
dengan malaria dan TBC di Padang Gurun Sinai di Palestina. Orangtua dan 
nenek moyangnya dibantai habis oleh Hitler di seluruh Eropa. Pada saat 
yang bersamaan si baby Dinasouri sedang berenang-renang di kolam susu 
(menurut Kus Plus) dan dibuai lambaian nyiur disekitarnya yang 
membisikkan Tanah Airku Indonesia.

Dasar si Penaduk telah terlatih dengan kekerasan dan keganasan, pada 
tgl.9 Agustus 65 iapun berhasil memperanakkan SINGAPUR (begitukan?) 
Sebaliknya beberapa bulan kemudian si Dinosauri yg biasa bermanja-manja 
saling menerjang satu dengan yg lain, sampai 7 Jenderalnya dibantai 
abis, Presidennya disingkirkan.

Pada abad ke 21 si penaduk kecil dan anaknya telah berhasil menguasai 
seluruh jagad (Amerika dan Inggris, bekas penjajahnya). Anak-anak si 
Dinasauri malah meninggalkan kolam susunya bawa minggat ke Singapur (5% 
penduduk terkaya Singapur adalah orang Indonesia) dan yang kere juga 
mengais di Singapur.

Saudaraku yang kucintai, hendaknya kita bertanya, bagaimana caranya 
mengimbangi kelicikan si Pelanduk.

Faktanya, anda ingin menikmati kemakmuran bukan? Bukankah Allah 
menciptakan jagat raya yang indah ini bagi kepentingan manusia? Siapakah 
yg sudah bisa menikmatinya? Israel yang masih lebih muda dan jauh lebih 
kerdil dari SDM dari Indonesia, mampu mempengaruhi Amerika+Inggris 
negara Raksasa itu. Apa yg kita lakukan dengan otot Dinosauri kita?

Anak tetangga saya di kampung yang bekerja di Singapur, entahlah apa 
kerjanya disana, telah berhasil membangun rumah yg terindah di 
lingkungannya. Kalau benar Singapur adalah bagian dari Israel, bukankah 
ini salah satu bukti bahwa Israel dapat memakmurkan negara sahabatnya 
(kaki tangannya?). Nah daripada memerangi atau melawannya dengan bom 
rakitan, kenapa ngak pilih seperti Singapur? Bersahabat dengan mereka?

Baru minggu lalu saya tiba dari Israel. Ketika kami meninggalkan batas 
Utara, yaitu lembah Hermon menuju batas selatan Laut merah (hanya 600 
Km.) pikiran saya melayang ke Indonesia. Di daerah Galilea, kami makan 
di sebuah restoran Kibut En Gev di tepi Danau. Para peyanan memberikan 
serviette kertas bertuliskan beberapa kata yang umum digunakan di 
restoran seperti Selamat Makan, mintah tambah dll. Dalam kertas itu 
hanya diwakili 6 bahasa di dunia ini (Ibrani, Inggris, Francis, Spanyol, 
Jerman dan Indonesia).

Ketika kami sedang menyaksikan sebuah penemuan Arkheology, kami 
berpapasan dengan satu keluarga besar (kurang lebih 30 orang dari 3 
generasi) Jahudi. Katanya mereka sedang merayakan ulangtahun dua orang 
uncles mereka. Dengan ragu-ragu saya mengajak mereka foto bersama. 
Ternyata permintaan saya disambut hangat. Si Bapa yg menggendong 
anaknya, memanggil seluruh anggota keluarga berkumpul dan berfose dengan 
kami.

Mereka sangat gembira mendengar bahwa saya adalah orang Indonesia dan 
team saya berasal dari berbagai negara. Salah seorang tante mereka 
berkata: Indonesia memiliki pulau terindah di dunia, sayang aku tidak 
bisa menikmatinya, katanya. Salah seorang diantara mereka adalah Pilot 
dan seorang Pramugara. Merekapun nimbrung dan berkata: ya kami hanya 
bisa melihat Indonesia yg indah itu dari udara.

Dalam perjalanan selanjutnya di sebelah kiri saya adalah lembah Sungai 
Jordan (teritoria Jordania) yang menghijau, sebelah kakanan saya adalah 
padang gurun Sinai. Namun sungguh menakjubkan. Ditengah padang gurun 
tersebut berhektar-hektar kebun jeruk dan lemon yg sedang menguning 
bahkan di Kibut-kibut padang pasir itu mereka (Israel) berhasil 
memproduksi susu dan keju.

Kami bertanya, bagaimana caranya sampai mereka bisa memproduksi keju yg 
enak di sana. Mereka (hanya 2 keluarga muda dan 4 muda/mudi voluntir) 
menceritakan bahwa mereka telah lebih dahulu belajar di Francis.

Nah, coba anak Indonesia yg sudah belajar di Francis, masih mau ngak 
tinggal di padang gurun dan memeras sendiri susu sapinya, apalagi jadi 
bau dan kotor mengolah susu jadi keju lalu menjual kejunya dipinggir 
jalan buat turis?

Mereka makmur karena mereka berusaha, marilah kita juga berusaha 
memakmurkan bangsa kita yg terus-menerus ketimpa celaka ini.

Rakyat mereka yg tersebar di seluruh jagad ingin kembali ke padang gurun 
sana, sebaliknya masyarakat Indonesia jadi budakpun dinegara lain asal 
bisa meninggalkan Kolam Susunya sudah merasa beruntung.

SIAPAKAH YANG SALAH?????

bagya nugraha wrote:
>
>
>
> */jurnal jurnal <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:
>
>     Date: Sat, 3 Mar 2007 01:42:33 -0800 (PST)
>     From: Subject: Singapura sebagai Kepanjangan Tangan ISRAEL
>     To:
>     Akhie,
>     Saya mendapat kiriman ini di bawah ini. Sejak lama saya
>     menyebutnya bahwa Singapura belajar dari Israel. Tokoh utama yang
>     membangun pemikiran strategis Singapura antara lain Alex Moseiss.
>     Selamat membaca, pasti berguna.
>     Salam, 
>     ICHSANUDDIN NOORSY
>      
>      
>      
>      
>      
>     Bismillahirrahmanir rahim
>     *Ada Apa Dengannya?*
>     Oleh : Fauzi Nugroho
>      
>     Beberapa waktu lalu, saat sedang istirahat, saya coba mencari tahu
>     mengenai keberadaan masjid untuk shalat Jum'at. Melalui seorang
>     sekuriti akhirnya saya dapatkan informasi tersebut. "Bapak dari
>     Indonesia... ., ya...?" tanyanya. "Iya" jawab saya. Kami pun
>     terlibat pembicaraan yang cukup lama, dan pada akhirnya saya
>     mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah orang asli Indonesia
>     asal Madura. Sejak tahun 1995, bapak dua anak itu meninggalkan
>     Bangkalan dan mengais rejeki di negeri itu sebagai sekuriti pada
>     kantor manajemen gedung /Monetary Authority Singapore/ (MAS).
>     Gajinya lumayan hampir mencapai Sin$2.000. Terbilang mewah jika
>     dibelanjakan di tanah air, tapi cukupan untuk hidup disana. Ia
>     memiliki KTP Singapura, dan menjadi warganegara Negeri Singa
>     Merlion bukan karena tidak nasionalis dalihnya, tetapi lebih
>     karena tuntutan perut serta memenuhi kebutuhan istri dan dua orang
>     anak yang harus ditanggungnya. Ketika di hotel, pun saya temui dua
>     orang asal Palembang dan Betawi yang sehari-harinya bekerja
>     sebagai /Bellboy/ di hotel tersebut. Ternyata, hampir di banyak
>     tempat di negeri itu, kita akan mudah menemukan orang-orang
>     Indonesia yang bekerja disana, mulai dari pekerja kasar hingga
>     jabatan eksekutif. Jika dari aspek penyerapan tenaga kerja,
>     bertetangga dengan negara yang luasnya hanya 0,09% dari luas
>     wilayah DKI Jakarta tentu menjadi suatu yang menguntungkan. Namun
>     untuk hal lain, mungkin nanti dulu, begitu pandangan sebagian
>     orang Indonesia. Kekhawatiran banyak pihak mencuat manakala
>     pemberitaan seputar Singapura seakan terus memenuhi lembaran media
>     masa. Mulai dari masalah ekonomi, telekomunikasi, teritorial,
>     intelijen, bahkan ancaman kedaulatan bangsa dan negara. Lalu ada
>     apa dengannya?. Hal yang paling gres antara lain, adalah
>     mencuatnya kembali isu /buy back/ saham Indosat dan kepemilikannya
>     pada perusahaan telekomunikasi; kepemilikan bank, dan penggerusan
>     pasir untuk reklamasi pantai Singapura.
>     Merdeka pada 9 Agustus 1965, nama aslinya Sing Kung-Woh-Kwok. Lalu
>     pada September 1965, di markas PBB di New York dilakukan
>     presentasi negara baru. Berdirilah sebuah negara kecil, yaitu
>     Singapura, negara yang benar-benar tak bisa menggantungkan
>     kehidupannya dari kekayaan alam. Adalah Sir Thomas Stamford
>     Raffles pada awal tahun 1819 mulai merintis kehidupan di negeri
>     yang pada zaman Kerajaan Singosari disebut Tumasik. Letaknya yang
>     strategis, membuat Raffles menyewanya dari seorang pangeran
>     Melayu. Tahun terus berjalan dan zaman berganti. Pada tahun 1942
>     tentara Jepang mengalahkan sekutu di beberapa wilayah Asia,
>     termasuk Indonesia, Malaysia, Kalimantan Utara (kini Brunei) dan
>     juga Singapura. Suatu peristiwa yang tak pernah disangka jika
>     Inggris kalah oleh Dai Nippon. Lalu Jepang mengganti namanya
>     dengan Syonan, yang artinya Cahaya dari Selatan. Tak lama Jepang
>     kalah dalam Perang Dunia II, kemudian Inggris merebutnya kembali.
>     Saat lahirnya negara itu, bersamaan dengan situasi politik
>     Indonesia yang sedang bergejolak dengan masalah PKI, pun masalah
>     dalam negeri Malaysia yang tengah bergolak. Diam-diam situasi itu
>     telah dimanfaatkan Israel, melalui Mordechai Kidron, duta besarnya
>     di Bangkok, sejak tahun 1962 ia telah mendekati Lee Kuan Yew
>     (LKY). Berselang setelah pemisahan Singapura dari Malaysia, Kidron
>     bersama Hezi Carmel, seorang pejabat Mossad menyampaikan proposal
>     Israel bagi pembentukan militer Singapura. Jualan mereka, Israel
>     adalah negara kecil yang dikepung oleh negara-negara Muslim di
>     Timur Tengah, tapi memiliki kekuatan militer yang kecil tapi kuat
>     dan dinamik. Tokoh penting lainnya yang berperan melakukan
>     pembangunan militer Singapura adalah Yitzhak Rabin, kepala staff
>     pemerintahan Israel kala itu dan menjadi Perdana Menteri pada masa
>     berikutnya. Mereka ingin Singapura memiliki kekuatan militer yang
>     belum pernah ada di Asia Tenggara, dengan anggaran 7,27 milyar
>     dolar setahun atau 25% dari APBN-nya, dan menjadikan satelit bagi
>     kepentingan mereka di kawasan ini.
>     /There is no free lunch/. Balas jasa yang diberikan oleh
>     Singapura, antara lain suara abstain pada sidang umum PBB tahun
>     1967 saat negara-negara Arab mensponsori resolusi untuk menveto
>     Israel. Pada tahun Oktober 1968, LKY menyetujui pembukaan
>     perwakilan dagang Israel, dan tahun berikutnya pada Mei 1969,
>     secara resmi Lee memberikan izin untuk membuka kedutaannya di
>     Singapura. Setelahnya, kerjasama tak hanya terbatas dalam bidang
>     militer dan pertahanan, tapi juga ekonomi dan politik. Kekuatan
>     Israel di Singapura telah pula merangsek ke negara-negara Muslim
>     seperti Malaysia, Brunei dan Indonesia. Termasuk pembelian Indosat
>     dan beberapa bank besar di Indonesia oleh Singapura. Secara
>     seloroh usaha aneksasi tersebut telah menjadikan Indonesia
>     provinsi ke sekian dari Israel Raya, ujar seorang pengamat.
>     Singapura menjadikan Israel sebagai /role model/ di bidang
>     keamanan dan Swiss sebagai model di bidang ekonomi. Hal tersebut
>     tercermin dari amandemen /Trustees Bill/ (TB) oleh parlemen
>     Singapura tahun 2004, dan keinginan Prof S Jayakumar, /Deputy
>     Prime Minister and Minister for Law/, yang menghendaki Singapura
>     sebagai /Financial Center/ dan /Wealth Management Center/ di
>     dunia. Bersama Amerika, dan Israel, Singapura melakukan /simbiosis
>     mutualisme/, bergandeng tangan saling menguntungkan, saling
>     memberi manfaat dan memanfaatkan. Lalu adakah ancaman bagi
>     negara-negara di kawasan ini termasuk Indonesia?. Di masa-masa
>     kemerdekaan Indonesia, Singapura bukan sesuatu yang asing dalam
>     dunia intelijen internasional, terutama intelijen Amerika dan
>     Inggris. Lewat Singapura beberapa rencana menghalangi Indonesia
>     merdeka pernah dirilis oleh Inggris. Kekayaan alam dan kekuatan
>     muslimnya membuat pihak Barat merasa gerah, bila bangsa ini besar
>     dan maju. Sehingga kontrol ekonomi dan instabilitas adalah media
>     yang digunakan untuk menghambat kemajuan itu.
>     Salah satu yang menonjol adalah PRRI (Pemerintah Revolusioner
>     Republik Indonesia) di Sumatera pada tahun 1958, serta munculnya
>     embrio-embrio pemberontakan. Ada Dewan Gajah, Dewan Garuda, Dewan
>     Banteng dan seterusnya. Sehingga dalam buku, /Rebels in Paradise/:
>     /Indonesia Civil War/ (James Mossman, 1961), "Bukan rahasia lagi
>     bahwa Inggris dan Amerika Serikat selalu berhubungan dengan kaum
>     pemberontak, melakukan kontak lewat agennya di Singapura.." .
>     Tentang keterlibatan Singapura, Audrey R. Kahin dan George
>     McTurnan Kahin dalam /Subversion as Foreign Policy, The Secret
>     Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia/ menyebut Singapura
>     sebagai sentral kendali di Asia Tenggara. "Singapura juga salah
>     satu pusat pengendalian kekuasaan regional baik dengan intelijen
>     maupun dengan pemasokan senjata dan serdadu." (Nurdi, 2006). Tidak
>     heran jika: Singapura bernafsu memborong bank-bank di Indonesia
>     untuk dimiliki melalui Temasek; enggan menandatangi perjanjian
>     ekstradisi; melindungi uang pengusaha hitam yang ditaruh di negeri
>     itu; membeli perusahaan semacam Indosat atau Telkom melalui
>     SingTel; membeli pasir secara ilegal untuk reklamasi pantainya;
>     mengimingi-imingi pengusaha dengan pajak yang lebih rendah untuk
>     mengalihkan usahanya kesana, dan seterusnya. Ia berani karena
>     Singapura tidak sendiri, ia ada yang mem-/backingi/-nya, dan
>     mereka adalah /Imperialist/. Untuk itu Al Qur'an telah
>     mengingatkan kita semua, "/Maka datanglah sesudah mereka generasi
>     (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda
>     dunia yang rendah ini/, dan berkata: "Kami akan diberi ampun".
>     /Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak
>     itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga)/." (QS. Al
>     A'raaf, 7:169).
>     Nabi Musa a.s tentu sedih melihat pewaris Taurat-nya seperti itu,
>     mereka tidak menjalani agama monotheisnya. Agama hanya menjadi
>     topeng, padahal banyak Yahudi maupun Nasrani (Injil) yang baik dan
>     memberi manfaat untuk sesama manusia. Sebagian mereka pun bernafsu
>     memadamkan cahaya agama-Nya, seolah keyakinan bisa digadaikan
>     dengan materi, kenikmatan duniawi maupun kedudukan. Seakan jika
>     bangsa dan negara ini telah dibuatnya susah dan menderita, lalu
>     berbondong-bondong saudara-saudara kami murtad mengikuti keinginan
>     mereka. Saya percaya bahwa sebagian dari kita mungkin akan berkata
>     terlalu murah menukar akhirat dengan dunia, atau menukar
>     /Imperialis/ sebagai penolong dan menggadaikan Tuhan.
>     "/Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu
>     hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya
>     petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya
>     jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang
>     kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong
>     bagimu./". (QS. Al Baqarah, 2:120). Kami pun yakin, bila mereka
>     datang dengan maksud jahat dan menginjak-injak harkat dan martabat
>     bangsa ini yang juga makhluk-Nya. Demi Allah, Dia akan membela
>     hamba-hamba- Nya yang tertindas oleh kesewenang-wenangny a,
>     "/karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana
>     (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa
>     selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka
>     nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah
>     berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu
>     tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali
>     tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu/.".
>     (QS. Fathir, 35:43).
>     Kami pun sadar, bahwa perubahan itu tidak turun dari langit,
>     bangsa ini harus bangun, menggeliat dari ketertiduran dan
>     keterlelapan kenikmatan sebagian warganya, "/Sesungguhnya Allah
>     tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
>     keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah
>     menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang
>     dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
>     selain Dia/.". (QS. Ar Ra'd 13:11). Tulisan ini tidak bermaksud
>     memprovokasi, tetapi hanya mengingatkan sebagai wujud kecintaan
>     penulis kepada bangsa dan negara ini. Bangsa ini besar, dan tidak
>     ingin seperti Dinosuarus. Ia pernah ada dan besar, namun punah dan
>     hanya menjadi legenda, serta dongeng anak-anak manusia menjelang
>     tidur. Mudah-mudahan goresan yang agak sedikit panjang dari
>     biasanya ini, dapat menggugah kesadaran kita semua bahwa telah
>     lama bangsa ini termarjinalkan harkat dan martabatnya. Dan hal itu
>     tidak seharusnya terjadi, jika saja kita berkomitmen kuat
>     menjadikan 3-BI sebagai tujuan, yaitu /Belalah Indonesia/,
>     /Belalalah Insannya/, dan /Belalah Islam/, serta melindungi dan
>     memberi rasa nyaman kepada semua manusia di dunia apapun agama,
>     suku, dan rasnya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir
>     bathin kepada kita semua mengarungi bahtera yang penuh riak dan
>     gelombang ini, dan mengantarkannya pada pantai harapan sejahtera
>     duniawi dan ukhrowi. Amin (fn).
>     ------------------------------------------------------------------------
>     Check out the all-new Yahoo! Mail beta
>     
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=43257/*http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta>
>     - Fire up a more powerful email and get things done faster.
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> Bored stiff? 
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=49935/*http://games.yahoo.com> Loosen up...
> Download and play hundreds of games for free 
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=49935/*http://games.yahoo.com> on Yahoo! 
> Games.
>  

Kirim email ke