Islam Melarang Kebebasan Berpendapat !!! Dasar ajaran Islam adalah melarang umatnya berpendapat karena Allah sajalah yang memiliki pendapat dimana umatnya hanya menjalaninya sebagai kewajiban. Memang umat Islam secara terpimpin dibolehkan untuk mengeluarkan pendapat hanya terbatas kepada cara2 bagaimana mengimplementasikan kewajiban2 dari pendapat2 Allah itu sendiri.
Misalnya, ada umat Islam berpendapat bahwa shalat harus pakai sajadah, tapi umat lain bilang bahwa tanpa sajadah juga shalatnya syah. Demikianlah pendapat umat hanya terbatas dalam cara2 mengimplementasikan perintah Allah maupun pendapat2 Allah yang bukan merupakan pendapat pribadi umat yang bebas tanpa batasan. Tapi kalo ada pendapat umat yang menganggap Allah itu tidak ada hanya merupakan angan2 masa lalu, maka pendapat ini harus diharamkan karena dosa, bahkan umat yang berpendapat seperti ini harus dibunuh karena merusak akidah islam. Kebebasan berpendapat yang dibabatasi, tidak pernah dinamakan kebebasan berpendapat. KEBEBASAN BERPENDAPAT ARTINYA PENDAPAT YANG BEBAS. Perdefinisi, arti "bebas" itu adalah "tidak terbatas". Lawan kata "bebas" adalah "tidak bebas". Istilah kata "tidak bebas" adalah "terbatas" atau "dibatasi". Disinilah prinsip dasar latihan "critical thinking" yang mencakup penggunaan bahasa yang benar bukan memutar balik arti kata itu sendiri seperti banyak dilakukan para ulama semua agama2. > OmPopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya mengundang kepala sekolah dan seorang guru di workshop Saya > menunjukkan, betapa ketrampilan public speaking adalah basic skill > yang penting. bahwa sekarang, sekolah2 dimungkinkan untuk mengambil > porsi dalam membangun struktur pendidikan dengan membuat kurikulum > mereka sendiri di sekolahnya masing-masing. target Saya, kurikulum > public speaking di sekolah2 dasar. > Sekolah2 diikut sertakan dalam membuat kurikulum sekolah sudah lama dilakukan di Indonesia, sejak mulai merdeka pun sudah demikian aturannya. Hal ini berkaitan dengan demokrasi bukan terkait dengan ajaran Islam ataupun komunis. Islam dan Komunis tidak memberi celah ajaran lain untuk merusak standarisasi ideology mereka. Yang harus diperhatikan bukan hanya public speaking melainkan isinya ucapan apa yang dilontarkan dalam public speaking tersebut. Oleh karena itu public speaking hanyalah kelanjutan daripada pendidikan menggiring pemikiran public itu sendiri bukan se-mata2 ditujukan kepada kemampuan si anak dalam mengimplementasikan public speaking itu sendiri. > Dikampus ma'had Al-Hikmah didaerah Bangka, Mampang Prapatan sudah > diadakan public speaking day juga entah karena brosur Saya atau > kebetulan saja. Tugas2 Dai memang menggiring dan memasung pendapat umatnya melalui public speaking yang dinamakan DAKWAH. Hal ini dilakukan disemua pesantren maupun lainnya yang sama sekali bukan karena brosur anda, mungkin justru anda yang baru saja memahaminya. Di Amerika, tidak ada public speaking diajarkan disekolah karena masalah public speaking hanyalah praktek yang mencakup pelajaran2 gabungan yang selalu dilakukan dalam kelas yang istilahnya "presentation". Setiap mata pelajaran selalu mewajibkan seorang murid untuk mempresentasikannya dimuka kelas dimana murid2 lain dianggap sebagai audience-nya. Khusus untuk teknis mempersiapkan public speaking seperti yang anda maksudkan, merupakan bagian dari mata pelajaran "speech 101, speech 102, dan speech 103". Mata pelajaran speech ini tidak diajarkan dalam SD tetapi sebagai mata pelajaran wajib di SMA maupun College. Mata pelajaran speech tidaklah bediri sendiri tetapi merupakan salah satu saja dari beberapa mata pelajaran wajib yaitu, "Critical thinking, Logika, dan Bahasa". Jadi sia2 kalo cuma public speaking dipraktekan oleh anak2 kalo tidak juga sekaligus dididik penggunaan bahasa dan grammar yang baik, susunan logis dari isi kata2 dan kalimat yang jelas, maupun cara berpikir kritis yang dasarnya pro & con. Dari apa yang saya jelaskan diatas, cukup jelas bahwa ideologi Islam maupun Komunis melarang berpikir kritis pro & con dan melarang berpikir bebas. Kesemua pendidikan yang mengajarkan public speaking pada dasarnya memang merangsang berpikir bebas, merangsang kreativitas seseorang, termasuk disini para dai dalam berdakwah. Demikianlah, perpecahan Islam menjadi ribuan sekte dizaman sekarang ini hanyalah merupakan satu contoh dari kemampuan orang2 berbakat yang bisa berpikiran kritis menyalahkan yang sudah jadi standard sebelumnya untuk menyebarkan pemikiran2 baru yang bergtentangan dengan yang lama. Nabi dari Pakistan, Ghulam Ahmad juga seorang speaker yang menonjol yang berhasil mendirikan Islam Jemaah Ahmadiah yang di Indonesia dilarang, dibakar mesjidnya, dan dijarah umatnya oleh fatwa MUI. Dengan Demokrasi dan HAM yang disponsori oleh USA, maka dunia kita akan melahirkan jutaan nabi2 baru seperti Ghulam Ahmad. Seperti yang anda katakan diatas, bahwa setiap sekolah berhak ikut serta menciptakan kurikulumnya sendiri, hal ini juga berlaku pada umat beragama dengan masing2 ulamanya: Setiap ulama berhak menciptakan ajaran agamanya sendiri, tuhannya sendiri, aliran agamanya sendiri, dlsb, dlsb. Jadi dalam hal ini tak perlu diherankan mengapa Demokrasi dan HAM mendorong adanya kebebasan berpikir dan melarang menghukum siapapun juga karena berbeda pendapatnya. Dari kebebasan inilah pendapat2 yang bertentangan dilindungi dan tidak bisa dihukum meskipun pendapatnya dianggap menghina Islam atau menghina Kristen. Kalo ada speaker dibolehkan bilang Islam adalah agama Kasih Sayang, maka speaker lainnya kenapa tidak boleh bilang bahwa Islam adalah agama terorist biadab. Mana yang benar dari kedua pernyataan pro & con ini cukup diserahkan kepada realitas yang bisa disaksikan seluruh masyarakat. Yang penting, tidak boleh dipancung kalo pendapat itu bertentangan dengan kepercayaan anda. Dengan pendidikan public speaking kita memupuk kebebasan berpendapat, dan dalam kebebasan berpendapat maka juga berlaku kebebasan berpikir, dan dalam kebebasan berpikir, semua orang bebas menerima wahyu-nya masing2. Salah satu bentuk kebebasan berpikir adalah nabi Lia yang menerima wahyu kemudian menyebarkan wahyunya yang berakhir dipenjara, dalam hal ini maka kebebasan berpendapat harus dipasung oleh dominasi agama yang mayoritas bukan oleh Allah. Apakah Allah itu merupakan dominasi umat beragama???? Ny. Muslim binti Muskitawati.
