Waduh, ini ternyata Maria toh? Saya juga minta maaf kalo gitu. Soal pendekatan genetik yang sangat deterministik itu, itu adalah warisan Darwin dari akhir abad ke 19. Sekarang, bahkan paea ahli biologi evolusi pun tak percaya bahwa gen berperan dengan cara sedeterministik itu. Ilmunya berkembang terus, karena banyaknya temuan setiap tahunnya tentang tubuh manusia.
Kita katakan saja bahwa penentu perilaku manusia adalah hasil dari negosiasi antara gen sebagai pemberi potensi, otak sebagai pengolah informasi, tubuh sebagai pelaksana, dan lingkungan sebagai pemantik. Semuanya memainkan faktor penting, dan tindakan yang diambil salah satu pihak tersebut sudah bisa mempengaruhi tindakan pihak-pihak lain. Hasilnya dalam bentuk perilaku tak pernah dapat diprediksi secara tepat. Jadi, tak perlu khawatir dengan evolusi dan teori genetikanya. Tak sangka kita jumpa di mediacare. Salam, manneke -----Original Message----- > Date: Wed Mar 14 19:47:20 PDT 2007 > From: "GAYa NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Sorry, Manneke - Re: [mediacare] Re: Serem > To: [email protected] > > Wah sorry Manneke, berarti aku orangnya ge-eran hehehehe.... > > salah satu yang membatalkan niatku masuk dunia kedukteran dan banting setir > ke dunia psikologi adalah kecenderungan melihat masalah, bahkan masalah > sosial dapat diselesaikan dari gen, otak dan DNA. Kenapa seseorang jadi > kejam, karena ada gen-nya, sudah tertanam dalam otak. Saya hanya punya > kecenderungan berusaha melihat manusia sebisa mungkin tidak hanya dari gen, > otak dan DNA saja (meski dalam ilmu psikologi ada ilmu klinis yang juga > melihat otak sebagai inti dasar perilaku). > > Anyway, aku tetap saja senang bahwa email saya ditanggapi, minimal saya tidak > sedang ngomong sendirian, terima kasih sekali lagi... > > maria > GAYa NUSANTARA > Mojo Kidul I # 11A > Surabaya 60285 > East Java-Indonesia > > Phone/fax: + 62 31 591 4668 > > > ----- Original Message ----- > From: manneke > To: [email protected] > Sent: Wednesday, March 14, 2007 2:05 PM > Subject: [mediacare] Re: Serem > > > > Hmm...tampaknya Anda salah paham. Saya bukan mengomentari tulisan Anda, > melainkan posting di paling bawah dari Sdr. Ati Gustiati, yang Anda tanggapi. > Yang saya lakukan adalah melanjutkan rantai tanggapan yang sudah Anda mulai. > > Dalam tulisan itu disebut bahwa ada narasumber bernama Taufik Nasihun, > Dekan FK Universitas Islam Sultan Agung. Tapi, lepas dari itu semua, apa sih > hubungannya dengan gen, otak dan DNA? > > manneke > > -----Original Message----- > > > Date: Tue Mar 13 20:50:17 PDT 2007 > > From: "GAYa NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: Re: [mediacare] Re: Serem > > To: [email protected] > > > > Perlu dipertanyakan juga zaman edan itu yang seperti apa? Menurut saya > kalau menyikapi segala sesuatu dengan kacamata yang mempertahankan > nilai-nilai dan norma yang perlu di up-date dan tidak bisa terbuka pada > perubahan lingkungan, mungkin kita bukan masuk zaman edan, namun zaman purba. > > > > Saya senang ada yang memberikan reaksi pada pemikiran saya, meski > bersebrangan. Jadi saya nggak cuma onani pikiran (maaf kalau istilahnya nggak > enak untuk sebagian orang, karena saya belum menemukan kata yang mampu > mengekspresikan sama dengan kata itu), ada yang mau merespon. > > > > Kalaupun pemikiran saya dianggap edan, saya merasa tidak, karena saya > tidak menyarankan anak kecil dibekali kondom, namun perempuan yang sudah > mengalami menstruasi perlu tidak sekedar dibekali pengetahuan bagaimana > membersihkan diri saja dan konsekuensi dari perilaku seksnya, namun juga > perlu tahu apa haknya atas tubuhnya. Bahwa seks itu sendiri adalah kenikmatan > tidak bisa dipungkiri, lalu buat pada dibohongi apalagi ditakut-takuti, > perempuan tidak perlu takut dengan hasratnya, namun dia harus tahu kenapa > hasrat itu muncul dan bagaimana itu berhubungan dengan menstruasinya. Kalau > dia sudah paham, maka dia sudah bisa berdiskusi untuk mengetahui hak atas > tubuhnya, bagaimana dia ingin menghargai tubuhnya, dengan siapakah dia akan > berbagi kenikmatan seksnya serta semua konsekuensinya termasuk aborsi dan > segala konsekuensinya, bahwa dia pun punya hak atas kenikmatan itu dan kenapa > seks yang lebih aman dengan menggunakan kondom itu penting bagi keselamatan > nyawa dan tubuh d! ia! > serta hak tawar dalam menikmati tubuh serta seksualitasnya. Bukan dengan > memberangus kenyamanan tubuh perempuan dan menjadikannya polisi moral dirinya > dan laki-laki sekitarnya, kalo begini sih bagi saya seperti Taliban versi > baru saja. > > > > nb: mungkin anda salah dengan orang lain, kebetulan saya belum pernah > masuk fakultas kedokteran, karena saya (meski menghormati profesi dokter) > tidak tertarik menyelesaikan masalah hanya dari seni gen, otak dan DNA, it's > just not me. ;0) > > > > GAYa NUSANTARA > > Mojo Kidul I # 11A > > Surabaya 60285 > > East Java-Indonesia > > > > Phone/fax: + 62 31 591 4668
