Terima kasih Endiarto,

Sebagai ilustrasi, buku "Indonesië" yang saya terjemahkan itu amat 
tipis, besar halamannya kira-kira 3/4 A4 dan jumlah halamannya cuma 
70, namun berisi topik-topik lengkap seperti:

Bab I: Jaman kolonial, proklamasi kemerdekaan, Orde Baru sampai 
jaman Reformasi sekarang.
Bab II: KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), Islam, Konflik Maluku, SBY 
dan TNI
Bab III: Pertanian, beras dan air, Krisis Moneter, Tradisi bangsa.
Bab IV: Dari desa ke metropolitan, WNI, Mencari jati diri.
Bab V: Penggundulan hutan, Mistik/perdukunan.

Bayangkan, topik begitu banyak di atas ditulis oleh Dirk Vlasblom 
hanya dalam 70 halaman saja, kertas ukuran 3/4 A4, maka hanya 
intinya yang ditekankan. Salah satu inti cerita yang terbersit 
adalah "bakat gontok-gontokan" orang Indonesia yang diwarisi dari 
leluhur mereka sendiri sejak ribuan tahun y.l. Jadi bila orang 
Indonesia kini sukar keluar dari "budaya gontok-gontokan"-nya itu, 
tidak usah terlalu kuciwa lah yau.

Buku "Indonesië" itu merupakan "Landenreeks" (seri negara-negara) 
yang diterbitkan oleh Koninklijke Instituut voor de Tropen (KIT). 
Ada sekitar 65 buku telah diterbitkan oleh KIT, a.l. tentang 
Afghanistan, Argentina, China, Mesir, Irak, Korea, Malaysia, Arab 
Saudi, Sri Lanka, Thailand, Turki, Vietnam, Afrika Selatan. Buku-
buku di atas ini bisa saya pinjam di perpustakaan desa, di desa saya 
di Wassenaar. Penduduk Wassenaar cuma 26.000 orang namun 
perpustakaannya menyimpan puluhan ribu judul buku berthema seluruh 
dunia. Seluruh remaja Belanda s/d usia 18 tahun mendapat Kartu 
Perpustakaan gratis dari pemerintah, orang dewasa seperti saya 
membayar abonemen 56 euro per tahun boleh pinjam 8 buku per 3 
minggu. Seluruh desa di Belanda memiliki perpustakaan komplit 
seperti di desa saya ini. Desa-desa yang lebih kecil dari desa saya 
memiliki perpustakaan bersama, misalnya 1 gedung perpustakaan untuk 
3 desa super kecil.

Indonesia hendak menyaingi Belanda? Mungkin bisa, tapi mesti 
melengkapi seluruh desa di Indonesia dengan perpustakaan komplit 
seperti di Belanda sini. Itu sebabnya mengapa 20%% dari dana APBN RI 
harus dipakai untuk pendidikan. Tapi yah, kas negara RI sudah 
kosong 'kan, duitnya sudah habis dipakai untuk menyubsidi BBM dan 
dikorupsi.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland


--- In [email protected], Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
>       Selain mengkritisi "aspek gontok-gontokan" ada yang 
terlewatkan, Pak.
>    
>   Orang-orang Kubilai Khan datang ketika sudah ada Kerajaan 
Singosari (skg di wilayah Kab Malang) yang pada waktu itu diperintah 
oleh Raja Kartanegara (pada kira-kira 1289). Pimpinan utusan Mongol 
yang bernama Meng Chi itu dianggap kurang ajar oleh Sang Raja 
Singosari dan, konon, langsung dipotong daun telinganya. Inilah yang 
membuat Kubilai Khan marah.
>    
>   Kubilai Khan pun mengirimkan marinirnya lagi ke Jawa 
untuk "menghukum" Singosari. Tapi Singosari sudah runtuh akibat 
serangan kerajaan Kediri. Alih-alih menyerang Singosari, tentara 
Mongol itupun ditipu oleh Raden Wijaya (menantu Kertanegara) bahwa 
Kediri merupakan penerus Singosari. Maka, Raden Wijaya pun 
memanfaatkan pasukan Mongol untuk menyerang Kediri. Kerajaan Kediri 
memang akhirnya kalah dan setelah itupun marinir-marinir Mongol  itu 
diserang pula oleh Raden Wijaya bersama panglima-panglimanya, 
seperti Ranggalawe, Lembu Sora dan Mpu Nambi. Paukan Mongolpun jadi 
kocar kacir dan beberapa kapalnya ditenggelamkan di Tuban.
>    
>   Akhirnya, Raden Wijaya inilah yang mendirikan Majapahit. Beliau 
mendirikan kerajaan di alas Tarik yang sekarang terletak di wilayah 
Mojokerto.
>    
>   Perlu diingat, raja-raja kerajaan Mataram Islam sebenarnya juga 
keturunan Majapahit. Raden Patah pendiri Demak adalah keturunan Raja 
Majapahit. 
>    
>   Setelah Demak runtuh, timbul dulu kerajaan Pajang yang 
diperintah Hadi Wijaya alias Mas karebet alias Jaka Tingkir yang 
juga keturunan  Raja Brawijaya V (Raja Majapahit).
>    
>   Baru setelah Pajang runtuh, lahir Mataram (Islam) yang didirikan 
oleh Sutawijaya alias Panembahan Senopati (anak kandung Ki Gede 
Pemanahan dan merupakan anak angkat Mas Karebet). Ki Gede Pemanahan 
pun adalah keturunan Majapahit. 
>    
>   Ki Gede Pemanahan membangun Mataram di atas alas Mentaok yang 
dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijaya. Alas Mentaok inilah yang 
sekarang menjadi Yogyakarta.
>    
>   Salam,
>    
>    
>   -----------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------   
>    
>    
>   Sejarah Indonesia   Posted by: "Danny Lim" [EMAIL PROTECTED]   
kincir_angin   Wed Mar 14, 2007 6:37 pm (PST)   SEJARAH INDONESIA
> (Dari buku "Indonesië" oleh Dirk Vlasblom)
> 
> Penghuni pertama wilayah yang sekarang menjadi Republik Indonesia 
adalah ras Melanesia yang berkulit hitam dan berambut kriting. Ras 
Melanesia dulu itu menduduki juga wilayah India yang sekarang, 
sampai ke wilayah Philipina yang sekarang. Kemudian sekitar 4000 
tahun sebelum masehi, masuklah ras Astronesia yang berkulit kuning, 
yang dulu itu menghuni wilayah China dan Taiwan yang sekarang. 
Akibat kedatangan ras Astronesia, ras Melanesia di wilayah yang 
sekarang menjadi Indonesia, tersingkir ke wilayah Papua yang 
sekarang. Sebagian ras Melanesia berasimilasi dengan ras Astronesia 
menjadi ras baru yang berkulit sawo matang. Ras campuran Melanesia-
Astronesi a itu berdagang rempah-rempah dengan China dan Taiwan, 
asal ras Astronesia, dan berdagang rempah-rempah dengan India, asal 
ras Melanesia. Baik ras Melanesia di India mau pun ras Astronesia di 
China jago berdagang, jadi tak heran bila ras asimilasi Melanesia-
Astronesi a di Indonesia juga piawai dalam berdagang.
> 
> Ras Melanesia menganut animisme sedangkan ras Astronesia menganut 
Hindu dan Budha. Sekitar abad ke tiga setelah masehi, agama Hindu 
dan Budha tumbuh subur di wilayah yang sekarang menjadi Republik 
Indonesia. Kerajaan top pertama adalah kerajaan Sriwijaya yang Budha 
dan berpusat di Sumatra Selatan. Enam abad lamanya kerajaan 
Sriwijaya berjaya di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia itu. Di 
abad ke sembilan, lahirlah di wilayah yang menjadi pulau Jawa yang 
sekarang, kerajaan Mataram yang juga Budha. Dinasti Syailendra dari 
Mataram memerintahkan pembangunan Borobudur. Saat Mataram diperintah 
oleh raja Airlangga, kerajaan Mataram terlibat pertempuran dengan 
kerajaan Sriwijaya, meski pun dua kerajaan itu sama-sama Budha. 
(Cikal-bakal budaya gontok-gontokan Indonesia dimulai oleh Sriwijaya 
dan Mataram? - DL). Dua kerajaan itu menjadi lemah akibat peperangan 
dan akhirnya punah sendiri. Di saat vakum itu masuklah pasukan 
Mongolia/China di bawah komando Kublai Khan ke Indonesia,
>  namun bangsa Mongolia/China itu hanya datang untuk minta upeti 
dari kerajaan-kerajaan yang (masih) ada di Indonesia ketika itu. 
Dari reruntuhan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Mataram itu lahirlah 
kerajaan baru yang lebih akbar, yaitu kerajaan Majapahit yang Hindu. 
Kerajaan Majapahit diduga merupakan kerajaan terbesar yang pernah 
ada di jaman prehistoris Indonesia. Namun tidak terjadi perang 
antara pasukan Kublai Khan dengan pasukan Majapahit, sebaliknya 
terjadi kerjasama dagang erat yang saling menguntungkan. Ekspor 
rempah-rempah Majapahit pun meluas sampai ke Eropa.
> 
> Di bawah raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal Gajah Mada, 
kerajaan Majapahit yang Hindu itu menguasai Sumatra, Jawa, Bali dan 
Kalimantan. Beberapa sejarahwan berkata wilayah Majapahit mencakup 
juga Philipina, Maluku dan Papua. Kebesaran kerajaan Majapahit 
ditulis oleh Empu Prapanca dalam bukunya Negarakertagama. Kerajaan 
Majapahit bukan cuma jago berdagang, juga kebudayaan tumbuh 
cemerlang. Bendera kerajaan Majapahit adalah Dwiwarna, yaitu Merah-
Putih. Warna bendera itu pula yang kini menjadi warna bendera 
Republik Indonesia. Kerajaan Majapahit yang Hindu kemudian runtuh 
akibat kedatangan pedagang Islam dari Gujarat dan Persia. 
Perkembangan agama Islam di Indonesia terjadi dari abad ke tiga 
belas sampai abad ke tujuh belas, di saat agama Islam telah berusia 
seribu tahun sejak diperkenalkan pertama kalinya oleh Mohamad. 
Daerah Indonesia yang pertama dijejak oleh Islam adalah Aceh. 
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Demak di Jawa, 
yang menggantikan
>  kemashuran kerajaan Majapahit. Orang-orang Majapahit yang Hindu 
pun mengungsi ke Bali. Setelah Demak, satu persatu kerajaan-kerajaan 
kecil di Indonesia menjadi Islam, seperti kerajaan Banten di Jawa 
dan kerajaan Makassar di Sulawesi.
> 
> Seperti telah diceritakan di atas, di jaman Majapahit perdagangan 
rempah-rempah mampu menembus pasaran Eropa. Perdagangan itu pula 
yang membawa orang-orang Eropa datang ke Indonesia untuk mencari 
rempah-rempah di lumbungnya langsung. Bangsa Eropa pertama yang 
menjejakkan kakinya di wilayah Indonesia adalah bangsa Spanyol dan 
Portugis. Lain dengan bangsa Mongolia/China yang hanya menarik upeti 
sekaligus berdagang dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, bangsa 
Spanyol/Portugis datang sekaligus untuk menjajah. Wilayah yang 
pertama dikuasai oleh bangsa Spanyol/Portigis adalah Malakka, 
kemudian Maluku. (Metode devide-et-impera rupanya ditemukan pertama 
kalinya di Maluku itu - DL). Ketika itu sultan Ternate dan sultan 
Tidore saling berkelahi sendiri, membuat dua sultan itu mudah diadu-
domba oleh bangsa Spanyol/Portugis. Akibat termakan adu domba, 
akhirnya kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore dua-duanya 
berhasil dikuasai oleh Spanyol/Portugis.
> 
> Orang Inggeris dan Belanda belakangan menyusul Spanyol/Portugis ke 
Indonesia, ikut-ikutan mengadu untung di sana. Belanda datang ke 
Indonesia diwakili oleh VOC di tahun 1602. Pasukan VOC berhasil 
melumpuhkan Portugis di Maluku dan VOC pun menduduki Maluku. 
Kesultanan Ternate berhasil melepaskan diri dari jajahan 
Spanyol/Portugis, kemudian bersama tentara VOC berhantam menaklukkan 
Tidore. Namun akhirnya baik Ternate mau pun Tidore dijajah oleh VOC. 
(Makanya sesama bangsa sendiri jangan suka gontok-gontokan, yang 
untung selalu pihak asing, haiyaaa ....... - DL). Kerajaan Demak 
yang Islam di Jawa pun menjadi lemah karena keturunan raja Demak 
berhantam sendiri rebutan tahta. Dari puing-puing Kerajaan Demak 
kemudian muncul dua kerajaan, satu di Surabaya dan satunya di 
Yogyakarta. Yang di Yogyakarta memakai nama kerajaan Mataram, nama 
yang sama dengan nama kerajaan Budha/Hindu di jaman baheula yang 
berperang melawan kerajaan Sriwijaya. Karenanya para ahli sejarah 
sering juga
>  memakai nama "Old Mataram" untuk Mataram yang Budha/Hindu, 
dan "New Mataram" untuk Mataram yang Islam.
> 
> VOC sendiri menancapkan kakinya di kota Jayakarta di Banten, yang 
kemudian diganti namanya menjadi Batavia oleh Jan Pieterzoon Coen. 
Dalam pertempuran perebutan kekuasaan antara VOC dan pasukan 
Inggeris di Batavia, VOC berhasil mengungguli pasukan Inggeris. 
Sementara itu kerajaan New Mataram makin kuat di bawah Sultan Agung, 
maka ketika kerajaan rival di Surabaya berhasil ditaklukkan dan 
seluruh Jawa jatuh di bawah kekuasaan kerajaan Mataram, mata Sultan 
Agung seperti kelilipan ketika melihat VOC masih enak-enakan 
bercokol di Batavia. Namun kekuatan kerajaan Mataram tak mampu 
menaklukkan VOC. VOC sendiri sebetulnya tidak mau berperang dengan 
kerajaan Mataram, maka VOC mencoba membaiki Sultan Agung dengan 
mengirim duta besarnya ke Yogyakarta membawa banyak kado-kado. (Kata 
orang-orang, VOC membawa upeti noni-noni cantik langsing berkulit 
kuning langsat ke kerajaan Mataram, membuat mata sultan Agung yang 
tadinya kelilipan menjadi membelalak tidak kelilipan lagi, ihik 
ihik -
>  DL). Kerajaan New Mataram kemudian terseok-seok jalannya akibat 
ketidak-mampuan Amangkurat I (putra sultan Agung) yang menggantikan 
ayahnya, ditambah munculnya perlawanan dari sesama kerajaan Islam, 
Madura, yang dipimpin oleh raja Trunojoyo. Kerajaan New Mataram 
minta tolong VOC menghantam kerajaan Madura ('tuh 'kan, gontok-
gontokan sendiri hobbynya orang Indonesia ini - DL). VOC bersedia 
membantu Mataram namun minta konsesi yang mencekik kerajaan Mataram. 
Sementara itu peran pendatang China di Jawa pun makin besar, bekerja 
sama dengan VOC. VOC yang tadinya membantu kerajaan New Mataram 
kemudian pelan-pelan menggerogoti New Mataram. Upaya VOC sukses, di 
tahun 1757 kerajaan New Mataram pun dipecah dua menjadi kesultanan 
Surakarta dan kesultanan Yogyakarta, plus Mangkunegaran. VOC sendiri 
belakangan terseok-seok akibat digerecoki terus-terusan oleh 
Inggeris, dan di Eropa sendiri Belanda diserbu oleh Perancis, 
ditambah korupsi di tubuh VOC membuat VOC failit di tahun 1796.
>  Semua asset VOC menjadi milik kerajaan Belanda.
> 
> DL - sampai di sini kepala ogut keleyengan nih menerjemahkan 
buku "Indonesië" ini. Kapan-kapan sambungannya akan ogut kerjakan 
bila masih ada moed ya. Namun sampai di sini saja kita sudah dapat 
menarik pelajaran, bahwa bangsa yang gemar perang/gontok- gontokan 
sendiri bakalan menjadi santapan empuk luar negeri. Anehnya, bangsa 
Indonesia sampai tahun 2007 ini pun masih tetap saja hobby gontok-
gontokan sendiri, kalau ngga soal agama, ya soal suku bangsa atau 
soal parpol atau soal lainnya. Lha perayaan agama Hindu Ogoh-Ogoh di 
Bali mesti dikawal 7400 polisi, dan Kebaktian Natal di Jakarta 
setiap tahun harus dikawal belasan ribu polisi plus barisan pemuda 
plus metal detector, apa ngga gawat 'tuh? ......... :-(.
> 
> 
>               
> ---------------------------------
>  Découvrez une nouvelle façon d'obtenir des réponses à toutes vos 
questions ! Profitez des connaissances, des opinions et des 
expériences des internautes sur Yahoo! Questions/Réponses.
>


Kirim email ke