(Quote: .......Bayangkan, topik begitu banyak di atas ditulis oleh Dirk
Vlasblom
hanya dalam 70 halaman saja, kertas ukuran 3/4 A4, maka hanya
intinya yang ditekankan. Salah satu inti cerita yang terbersit
adalah "bakat gontok-gontokan" orang Indonesia yang diwarisi dari
leluhur mereka sendiri sejak ribuan tahun y.l. Jadi bila orang
Indonesia kini sukar keluar dari "budaya gontok-gontokan" -nya itu,
tidak usah terlalu kuciwa lah yau.............end of quote)
IMHO, Kalau masalah gontok-gontokan sih Pak sebenarnya di manapun ada. Hanya
saja ketika di suatu tempat/ negara masih banyak terjadi gontok-gontokan,
penyebabnya sangat kompleks. Bukan sekedar warisan nenek moyang, warisan Mbahe
Sangkil atau apa..........
Saya yakin, di Belanda pun dari dulu sampai sekarang masih ada "unsur
gontok-gontokan". Perbedaan kepentingan, status sosial, perbedaan peran dan
berbagai perbedaan lain sering menjadi sumber "gontok-gontokan" baik yang
nampak jelas maupun yang tak nampak di permukaan.
Rasanya bisa saja "gontok-gontokan" di Belanda ini dijadikan obyek riset
kawan-kawan yang ambil S-3 Psikologi Sosial, Sosiologi atau Sejarah di Belanda
atas beasiswa Stuned.....he,he,he
Salam,
---------------------------------
Découvrez une nouvelle façon d'obtenir des réponses à toutes vos questions !
Profitez des connaissances, des opinions et des expériences des internautes sur
Yahoo! Questions/Réponses.