Perda dibuat untuk mengatur hubungan pemerintah daerah dengan warganya. Kalau
kemudian ada warna agamanya itu karena kekhasan daerah. Tapi intinya peraturan
dibuat untuk ketertiban, kenyamanan, keamanan dan kesejahteraan warganya.
Karena itu peraturan daerah dengan warna agama apa pun semestinya tidak boleh
menindas. Lebih-lebih kelompok minoritas. Kalau itu terjadi maka jargon
Kekuasaan mendorong perilaku korup dan menindas menjadi semakin benar. Tidak
peduli agama mana pun. Tentu saja ini tidak dikehendaki. Kalau saya silakan
bikin Perda warna agama apa pun, tapi lindungi juga hak warga lainnya agar
dapat hidup nyaman, tenang, aman, dan lancar mencari rezeki.
Salam
SGP
Roy Hamandika <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Milisers,
Saya pengen tahu tanggapan FPI dan organisasi sejenis serta para penggiat
penegakan syariah tentang hal ini. Terus terang pasti akan sulit bagi
pemerintah pusat untuk memveto ranperda tsb. Pemda Manokwari pasti akan
menjadikan aceh sebagai contoh. Kalau di Aceh, pemda boleh mengadopsi ajaran
syariah sebab mereka mayoritas disana, maka Manokwari, Papua dan Papua Barat
juga bisa membuat pemda yg mengadopsi ajaran Kristen karena mereka juga
mayoritas disana.
Sudah bisa diperdiksi bahwa anggota laskar FPI, laskar Jundullah dsb akan di
selundupkan ke Manokwari kelak untuk membela umat muslim. Hal serupa telah
terjadi di Poso dan Ambon ( Koran kompas edisi hari ini, tgl 23 maret memuat
berita tentang pelaku teroris poso yg ditangkap di temanggung ).
Kalau Manokwari dan Papua kelak sudah membara oleh kerusuhan, maka dengan
mudah persolan papua di internasionalisasi dan bukan tidak mungkin Papua akan
benar-2 lepas dari Indonesia kelak seperti halnya Timor Timur. Seperti halnya
Timtim, penduduk papua juga mayoritas non muslim sehingga jelas berbeda dengan
mayoritas rakyat Indonesia yg muslim. Kalau hal-2 seperti ini tidak dicegah
sejak dini dan pemerintah pusat terkesan menutup mata tentang banyaknya perda
syariah yg diterapkan diberbagai daerah, maka berakhirnya NKRI hanya tinggal
tunggu waktu saja.
Meskipun saya kristen, saya sih tidak mendukung ranperda Manokwari tersebut
tapi saya menginginkan pemerintah pusat berbuat adil. Kalau ranperda Manokwari
dilarang maka perda-2 bernuansa syariah dibanyak daerah juga harus dilarang.
Salam/Roy
Donald USE Taralia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kita dukung apa tidak nih?
DT
Manokwari Godok Raperda Berbasis Injil
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=287214&kat_id=3
JAKARTA -- Pemerintah dan DPRD Kab Manokwari, Provinsi Irian Jaya Barat,
sedang memfinalisasi rancangan peraturan daerah (raperda) pembinaan mental dan
spiritual berbasis Injil. Raperda yang dimunculkan kali pertama pada 7 Maret
2007 itu dinilai merugikan pengembangan agama lain di daerah tersebut.
Julukan Manokwari sebagai Kota Injil, kata Wakil Ketua DPRD Manokwari, Amos H
May, baru sebatas wacana. Usulan raperda itu hanyalah pokok pikiran yang
diusung unsur gereja dan sejumlah pakar. ''Bentuknya baru berupa pokok pikiran,
bukan raperda karena tidak diusulkan eksekutif dan legislatif,'' ujar Amos saat
dihubungi, Kamis (22/3).
Namun, dia mengakui jika usul tersebut sudah masuk ke eksekutif. Walau, ada
sejumlah pasal yang bertentangan dengan peraturan di atasnya, terutama terkait
cara peribadatan. ''Hal bertentangan ini perlu dikaji, sehingga jika
diberlakukan tidak menimbulkan konflik SARA,'' kata Amos.
Dia menjanjikan, peraturan yang dibuat tidak akan menimbulkan perpecahan
karena pada dasarnya setiap orang menginginkan kotanya baik. Sebagai awalan,
minuman keras dan prostitusi akan dilarang. ''Peraturan ini untuk mewanti-wanti
masyarakat supaya mengubah perilakunya.''
Di antara isi pasal raperda itu adalah melarang pemakaian busana Muslimah di
tempat umum, melarang pembangunan masjid di tempat yang sudah ada gereja.
Dibolehkan dibangun masjid atau mushala, asalkan disetujui tiga kelompok
masyarakat (terdiri atas 150 orang) dan pemerintah setempat terlebih dulu.
Raperda juga melarang azan, dan membolehkan pemasangan simbol salib di
seluruh gedung perkantoran dan tempat umum. ''Kami khawatir, raperda ini
memunculkan kekerasan,'' kata Junaidi, warga Manokwari yang juga aktivis GP
Anshor, belum lama ini di Jakarta.
Kerusuhan yang memecah kerukunan umat beragama di Ambon dan Poso, bisa
terjadi di Manokwari jika Pemda dan DPRD setempat bersikukuh mengesahkan
raperda itu. Kondisi demografis di Manokwari mirip dengan Ambon dan Poso.
Menurut Junaidi, selisih penduduk non-Muslim dan Muslim di Manokwari tidak
terpaut jauh. Sedangkan komposisi anggota DPRD, dari 25 anggota dewan, empat di
antaranya Muslim.
Sejauh ini, situasi masih damai dan tenang. ''Warga juga tak menghendaki
raperda yang membuat hidup rukun kami jadi bermusuhan,'' kata Junaidi. Dari
perspektif hukum, kata mantan ketua YLBHI, Munarman, raperda itu rancu dan
diskriminatif terhadap raperda antimaksiat yang pernah diusulkan di beberapa
daerah, tapi ditentang oleh LSM sekular. Bahkan, raperda antimaksiat itu dicap
sebagai bentuk radikalisme.
''Padahal, raperda itu tak pernah melarang penganut agama selain Islam pergi
ke tempat ibadah, atau menggelar ibadahnya,'' jelas Munarman. Raperda sejenis
di Manokwari, menurut Ketua Harian KAHMI, Asri Harahap, menjadi bibit munculnya
perpecahan. Semestinya, raperda ini tak diterbitkan karena hanya
mengistimewakan satu agama saja. ''Butuh kearifan dari pemimpin daerah untuk
tidak meletupkan perpecahan di tengah bencana yang bertubi-tubi menimpa bangsa
Indonesia. Kami menyesalkannya,'' kata dia. tid/ren
Pasal Diskriminatif Reperda Manokwari
Butir 14 Ketentuan Umum: Injil sebagai kabar baik
Pasal 25: Pembinaan mental memperhatikan budaya lokal yang menganut agama
Kristen
Pasal 26: Pemerintah dapat memasang simbol agama di tempat umum dan
perkantoran
Pasal 30: Melarang pembangunan rumah ibadah agama lain jika sudah ada gereja
Pasal 37: Melarang busana yang menonjolkan simbol agama di tempat umum
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food Drink Q&A.
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.