Arif, saya tidak memihak siapapun disini, saya melihat dari dua sisi dengan
hak2 nya, si pengusaha ber hak melarang karyawan beribadah dalam jam kerja
karena itu memang regulasi perusahaan, kalau karyawan tidak menyetujui regulasi
corp. gampang, angkat kaki dan cari corporate lain yg menyediakan fasilitas
ibadah dalam waktu2 tertentu, spt waktu sholat equal dengan waktu cigarete
break misalnya, inilah sulitnya bila ekonomi, business atau politik dicampur
adukan dnegan agama Arif, munkgin inilah yg membuat negara2 lain jauh lebih
maju karena mereka tidak mencampur adukan agama dgn pekerjaan, tapi saya ngerti
indonesia memang lain, semua diatasi dengan kekerasan, misalnya kalau si halim
ini mencak2 sampai setengah jam krn karyawan pengen sholat, si karyawan
seharusnya tidak segera menghubungi para ulama yg sudah jelas cara penanganan
nya akan berbuntut anarkis, come on, dont kid your self, biasanya kelompok
extreem ini sangat dramatik, carilah waktu yg baik dan berkomunikasi
dengan Halim, jelaskan secara hormat sebagai karyawan dengan director nya
bahwa saat2 sholat sangat penting bagi mereka walau cuman 10 menit, si halim
tidak ada alasan lain utk menolak krn jam2 sholat adalah hak penuh jam
istirahat karyawan anyway (12 lunch time utk zuhur, 4 pm cigarete break or
coffee break utk sholat isya, atau jam 6 pm jam makan malam berarti sholat
mahgrib kan ?) bila dialog hak sholat dlm jam2 istirahat msh tidak dihormati
oleh pihak perusahaan, karyawan bisa mengambil perlindungan hak nya melalu
jalur hukum atau berdialog dgn para tokoh agama.
Saya hanya menyarankan cara2 utk mencegah terjadinya gerakan anarkis, karena
yg rugi masyrakat juga, si halim org berduit, tinggal cabut corp. ke wilayah
lain, nang hadong parsoalan kan? kita gak perlu menteror, kalau memang si halim
tidak bersedia juga memberi peluang staff nya buat sholat, suruh dia pindah ke
tempat lain yg populasi nya org2 kristen, karena Tasik malaya itu hampir 85%
islam, so mustahil menerapkan regulasi2 begini disana.
Si halim ber hak mempunyai regulasi yg mesti dihormati karyawan, karena kita
bekerja utk dia, perusahaan dia ladang makan keluarga kita, what you gonna do ?
tidak suka aturan2 dia ya keluar.
Karyawan juga ber hak dengan jam2 istirahatnya yg sudah ditentukan
perserikatan buruh, dalam jam2 istriahat karyawan ber hak menggunakan nya utk
kegiatan apa saja, sholat kek, ngegosip kek, tidur siang kek, kedua pihak
mempunyai hak perogatif ( HAM) yg patut di hormati, dan bila dirasakan ada
ketidak adilan tangani secara professional, bila tidak ada kesepakatan juga
baru cari jalan dialog dgn tokoh2 masyrakat bila menyewa pengacara terlalu
mahal dan belum tentu bisa mentuntaskan case nya dgn baik karen keburu di sogok
duluan.
bagaimana tanggapan mu dengan TKI kita di negara2 lain yg sampai mati
disiksa? apakah kalian punya suara disana? apakah ulama2 kita punya nyali
mengobrak abrik arab atau malaysia atau darul salam ?
yeah, I dont think so.......
Dalam negri kita sudah carut marut dengan peraturan2 yg semrawut kawan2,
atasilah setiap kesalahan2 kecil dengan sikap bermusyawarah adil dan beradab,
bukankah itu sila pancasila ? manusia spt halim munkgin perlu diajari betapa
arti sholat bagi org2 muslim, mudah2an dia bisa mengerti walau dalam business
agama itu bukan prioritas.
salam hangat
omie lubis
arif fuadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hehe mbak Ati, mestinya kembali ke substansi masalah bahwa ini menyangkut
hak asasi manusia, yaitu menjalankan ibadah sesuai agama yang dianut. Memang,
betul, sebuah organisasi atau lembaga bisnis apapun punya aturan atau regulasi
yang mengatur hak dan kewajiban seorang karyawan. Tapi lihat, dalam kasus itu
disebutkan rapat dari jam 8 sampai jam 14 belum selesai. Normalnya, dalam
sebuah perusahaan istirahat ya dari jam 12-13. Atau mungkin perusahaan ini yang
nggak normal, sehingga memberlakukan kerja rodi (kali). Soal pelaporan kepada
tokoh masyarakat atau tokoh agama, itu juga menyangkut hak seseorang. Bisa
jadai karena selama ini tidak percaya dengan perangkat hukum, ya nggak ada
salahnya lapor ke tokoh agama. Dan jangan salah Mbak Ati, kejadian ini bukan
satu atau dua kali, tapi sudah beberapa kali....
Wasss...
ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
yay yay yay.....kenapa enggak diselesaikan lewat jalur hukum ?, case nya disini
apa sih? dilarang beribadah ? maksudnya gak boleh sembahyang gitu? kalau
sembahyang dlm waktu istirahat karyawan kan bisa dong, kalau memang jadwal
kerja..ya mana bisa, kita kerja diperusahaan ya hrs ikutin regulasi perusahaan
dong, pengaduan2 soal hukum kok ke tokoh masyarakat ? alias tokoh agama?
....Director Halim mungkin kesel karyawan sembahyang pada jam2 kerja, bukan
berarti melarang beribadah sesuai dengan agama si karyawan, gak masuk akal
masak ada Director ngelarang hal2 begini, saya juga kalau punya perusahaan jam2
kerja dipake ibadah kesel lah....business is business, ibadah ya ibadah, jangan
dicampur baur, enak aja emang nya revenue perusahaan bisa dikeruk dari ibadah?
sorry bukan nya saya malah memperkeruh suasana "SARA" ini, kesel aja dgn cara2
org kita mengatasi masalah2 begini apalagi tokoh2 masyrakat yg menteror sampai
toko2 pada tutup, I am sick of this shit !
Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED] net
-----------------------------------------------
TASIKMALAYA - Kota Tasikmalaya mencekam. Sejumlah toko memilih tutup menjelang
pukul 14.00. Gara-garanya, tebersit kabar bahwa tokoh agama se-Tasikmalaya
bakal berunjuk rasa.
Sasarannya adalah diler mobil Dahana Berlian. Penyebabnya, direktur diler
tersebut, Khairul Halim, diberitakan melarang karyawatinya beribadah sesuai
agamanya.
Berita bernuansa SARA tersebut berawal dari kedatangan beberapa karyawati diler
tadi ke rumah Khaeruman Azam, tokoh agama Tasikmalaya. Dewi, salah seorang
karyawati itu, mengadu karena dilarang beribadah oleh Halim di tengah rapat
perusahaan.
Menanggapi pengaduan tersebut, Azam bersikap hati-hati. Dia menyumpah tujuh
karyawati yang mengadu padanya. Tujuannya, agar mereka menceritakan kejadian
apa adanya tanpa ditambahi atau dikurangi.
"Setelah disumpah, mereka menceritakan kejadian pada 3 Maret itu," tambah Azam.
Saat itu, para karyawati tengah mengikuti rapat bersama Halim mulai pukul 08.00.
Ketika sampai pukul 14.00 rapat tidak juga selesai, mereka minta izin untuk
beribadah sesuai agamanya. Bukannya mendapat izin, mereka malah dimarahi.
Yang membuat mereka tidak terima, Halim melontarkan ungkapan-ungkapan yang
mendiskreditkan agama para karyawati tersebut. "Hampir setengah jam bos itu
marah," kata Azam menirukan pengakuan para karyawati itu.
Untuk menegaskan pengaduan tersebut, Azam minta para karyawati itu membuat
laporan tertulis. Bersama tokoh-tokoh lain, Azam membahas pengaduan tersebut.
Pada saat yang sama, Halim datang untuk memberikan klarifikasi. Berita yang
berkembang, Halim berniat menyuap para tokoh agama tadi agar tidak lagi
mempermasalahkan kasus itu.
Berita tersebut dibantah Tubagus Miftah Fauzi, tokoh lain yang ikut dalam
pertemuan itu. Fauzi menjelaskan bahwa Halim datang dengan mengajak seseorang
yang disebutnya sebagai saksi kejadian di dalam rapat itu.
Namun, belakangan diketahui bahwa orang yang diajak Halim tadi ternyata tidak
hadir dalam rapat yang akhirnya bermasalah tersebut. "Itu menunjukkan bahwa dia
(Halim) memang tidak memiliki iktikad baik untuk menyelesaikan masalah tadi,"
tambah Fauzi. Berdasar fakta-fakta itu, para tokoh akhirnya sepakat untuk
bersikap tegas terhadap kasus tersebut.(rzr/dir)
<< :: Kembali
----------------------------------------------
Best View : 1024 x 768 with IE 5.5 or above
©Copyright 2006, Jawa Pos dotcom colo'RADNET.
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.