Wah menarik ya pandangannya bu Roslina. Ini pelajaran bagus buat saya yg baru
dikaruniai seorang bayi.
Anyway, mengkhawatirkan kehadiran Playboy, sejujurnya tidak akan menyelesaikan
masalah pengasuhan anak. Jauh sebelum Playboy mudah ditemukan di negeri ini,
media2 yang memamerkan buah dada wanita, dan seterusnya, juga tak kalah
banyaknya, dan mudah didapat. Di dalamnya, foto-foto perempuan yang nyaris
telanjang itu ditampilkan dengan imbuhan kalimat-kalimat yang jorok. Tapi, itu
tidak dihebohkan orang. Sehingga, tidak dianggap beresiko bagi anak-anak.
Aneh ya. Padahal, coba hitung berapa banyak halaman yang 'syur' di Playboy, dan
berapa kali terbit Playboy dalam satu tahun. Bandingkan dengan media2 syur yang
terbitnya mingguan, atau gambar2 porno di situs internet yang muncul nyaris
setiap jam, bahkan mungkin menit. Kan, itu lebih berbahaya buat anak. Mengapa,
tidak ada upaya memberangusnya?
Saya kira, FPI tidak cermat. Playboy diburu, tapi situs2 internet, tabloid2
syur, VCD porno, dst tidak diperlakukan sama.
salam damai,
Adhie
Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sebenarnya saya ngak mau berkomentar, maka e-mail itu saya delete, tapi
kemudian saya berpikir ada baiknya memberi komentar seperti subject ini.
Khusus bagi orangtua yg merasa khawatir ttg pertumbuhan para remajanya
akibat kehadiran Play Boy saya pikir anda-anda adalah orangtua yg belum
siap menjadi orangtua.
Alasannya:
1. Play Boy hanyalah satu dari sejuta media yg mempamerkan gambar-gambar
porno yg dapat diakses oleh anak-anak anda.
2. Gambar porno hanyalah salah satu bagian dari sejuta penyebab yg bisa
jadi merusak akhlak anak-anak anda.
3. Sejarah segala zaman menceritakan bahwa kejahatan senantiasa
mengitari bahkan mewarnai kehidupan manusia.
Seandainya para orangtua telah berhasil memboikot Play Boy, apakah
menurut anda, kekhawatiran anda telah berkurang? Saya jawab :TIDAK
Anda khawatir sebab anda memang belum siap menjadi ayah/ibu teladan bagi
anak-anak anda.
Suami saya dan saya, kami memang belum dikaruniai anak-anak sendiri,
tapi kami telah diijinkan Tuhan mengasuh 3 orang anak remaja putri.
Alhamdulillah, dua diantaranya sudah menikah dengan baik-baik. Sepasang
di Jerman, sepasang lagi kembali ke Indonesia. Sekarang seorang gadis
berusia 20 masih menjalani studynya bersama kami.
Sebelum bersama kami, saya tahu sifat ketiga orang ini. Satunya sangat
keras kepala dan sangat berani mengeluarkan pendapatnya. Satunya lagi
adalah tukang berdandan, hoby nonton mungkin boleh dibilang tukang
pacaran di Jogya sana. Yang ketiga adalah tomboy. Ngak pernah pakai
rok. Salah seorang teman ngebutnya mati disempet mobil di Sukabumi.
Namun boleh dikatakan, kami tidak punya kesulitan menghadapi ketiga
remaja dengan masing-masing karakternya ini. Mereka berubah sendiri
tanpa dituding-tuding atau banyak pengarahan. Sejak mereka menginjakkan
kaki di rumah kami dan menjadi anggota keluarga kami, nalar mereka
mengajak mereka untuk memilih cara hidup yg paling baik bagi mereka.
Di Jerman bukan hanya play Boy yg ada. Musim panas, dipantai-pantai
buatan berserak tubuh-tubuh bugil yg berjemur. Mereka saya beri
kebebasan menggunakan computer demi pengetahuan mereka. Akses internet
tersedia di sana 24 jam/hari. Namun Alhamdulillah, seperti saya tuliskan
di atas, mereka telah memilih memanfaatkan semuanya itu demi kebaikan
mereka.
Saya contohkan saja ttg penggunaan computer. Mereka melihat kami
(suami/istri) bisa membuat galerie yg menarik dan mencari informasi yg
sehat di internet, maka merekapun belajar kearah sana. Tentang
kebersihan dan kerapian seorang wanita. Saya tidak perlu ngomong
banyak-banyak. Mereka melihat saya membersihkan rumah dan menikmati
keindahan. Senang menerima tamu. Otomatis merekapun malu kalau
bermalas-malasan sementara kerjaannya belum beres.
Mungkinkah, karena kami bukan ayah dan ibu yang melahirkan mereka,
sehingga mereka lebih menghargai teladan yg kami beri? Apapun alasannya,
kami senang sebab setiap orang yg melihat mereka, selalu memuji bahwa
mereka adalah anak-anak yg manis dan ceria. Lebih senhang lagi sebab
sejuta cobaan di luar sana, tidak dapat mengalihkan perhatian mereka
untuk mencapai hidup yg mereka idam-idamkan.
Perbuatan jauh lebih berbicara dari kata-kata mutiara. Namun saya tidak
lupa pada satu ucapan yg kadang-kadang membantu saya yi. "Anggaplah
setiap kesulitan itu sebagai suatu kesempatan." Kalimat ini menurut saya
lebih tepat daripada kita selalu menghadapi kesulitan dengan kekhawatiran.
Salam Week End
Roslina
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.