--- In [email protected], "harryfadil" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> bos...ini bisnis...media itu yang sekarang dipikirkan adalah
> bisnis.....so terbaik atau tidak....berpaling pada kita...gimana
> LANGGANANNYA....ECERANNYA...dan tentunya IKLAN......toh kelompok 
media
> yang paling besar udh tidak peduli dengan Nielsen atau tetek bengek
> lainnya....yang penting iklannya banyak sirkulasinya bagus..dan 
gaji
> karyawannya naik setiap tahun...
> 
> selamat untuk republika..
 
L: Nah, ini baru jawaban yang jujur bahwa media sekarang, secara 
implisit termasuk Republika, Kompas, dsb - mengutamakan bisnis. 

Ini fakta yang saya percaya benar. Tetapi kalau anda semua benar2 
berjiwa wartawan, kedua aspek bisnis dan idealisme tetap harus 
berjalan bersama-sama dan sejajar. Jadi idealisme tidak bisa jadi 
topeng dan kedok untuk bisnis (ini bukan cuma untuk Republika lho).

Mengenai komentar buwono putro ttg banyaknya penghargaan untuk 
Republika, yang saya tanyakan adalah kesesuaian antara KRITERIA 
penghargaan tsb dengan NAMA penghargaaan yang terkait. Misalnya 
penghargaan secara eksplisit (tertulis misalnya) diberikan untuk 
kenaikan oplag (pangsa pasar?) tertinggi dalam tahun tertentu 
misalnya, penghargaan ini sudah jelas dan obyektif kriterianya. Ya 
besar oplaag majalah tsb.

Mohon maaf kalau ada yang tersinggung, maklum di Indonesia yang 
sudah terbiasa dengan sistem popularitas karbitan untuk 'sesama 
teman', kuantitas tidak selalu menggambarkan kualitas.

Salam

> -- In [email protected], bowono putro <bowono@> wrote:
> >
> > He..he... orang yang dapat penghargaan koq Anda yang senewen. 
Heran.
> >   Tenang saja bos. 
> >   Menurut pengamatan saya Republika itu memang makin bagus koq. 
Saya
> kira pengamatan banyak orang juga begitu. Terbukti mereka diganjar
> banyak penghargaan. Kita harus jujur mengakui itu.
> >    
> >   Salam,
> >    
> >   Bowo

Kirim email ke