Benar pendapat anak anda Bu Lianny, Mungkin saya menambahkan ttg kunci melawan kekhawatiran itu adalah Iman dan usaha atau Ora et Labora. Artinya para orangtua tidak hanya beriman kepada Tuhan bahwa anak-anak itu adalah anugrah Tuhan melainkan juga harus memelihara anugrah itu agar benar-benar menjadi berkat bagi sekelilingnya, yaitu dengan memberinya cukup perhatian dan kasih sayang, tentu sekaligus teladan yg baik.
Satu kali putri asuh kami si A yg sangat demokrasi itu, belum pulang sampai jam 3 pagi. Sebagai seorang ibu, saya merasa khawatir juga. Ketika dia akhirnya tiba, saya bertanya sambil berusaha menahan amarah: Kamu dari mana, kenapa tidak telefon, hampir saya lapor polisi, kamu pikir saya bisa tidur sebelum kamu pulang dll. Si anak dengan tenang menjawab, ya, khawatir kan? Tapi saya sudah duga, hanya HP saya abis batrey, kemudian setelah semakin larut disamping keadaan memaksa saya menjadi penedengar yg baik, saya berpikir lebih baik tdk mengganggu tidur kalian (maksudnya suami dan saya). Mendengar jawaban demikian saya menjadi benar-benar marah. Tidur? Anak perempuan tdk kembali tengah malam, kamu pikir saya bisa tidur? Dijawab, "Siapa yg ajari saya berdoa sebelum meninggalkan rumah, lha kalau ada yg terjadi, saya kan di tangan Tuhan koq khawatir? tanyanya balik. Akhirnya, sayapun berusaha mendengar ceritanya. Menurutnya, setelah selesai mengikuti bible study, dia berusaha menolong seseorang yg sedang putus asa. Orang itu ingin melampiaskan segala kesdihan dan rasa frustrasinya, maka dia hanya berusaha menjadi pendengar yg benar-benar mau mendengar. Itulah sebabnya dia sangat berkonsentrasi mendengar dan waktu berjalan begitu cepat. Baru-baru peristiwa yg mirip terjadi dgn si "Tomboy" maaf ini hanya demi identitas, saya tdk pernah melihat dia sebagai tomboy melainkan sebagai anak yg manis apalagi sekarang dia sudah pintar berdandan dan mengenakan rok. Nah dia ini waktu itu masih saja baru memasuki usia 19. Lagi-lagi tidak pulang lewat tengah malam. Kira-kira jam 01.00, saya mendengar langkah pelan-pelan melewati kamar kami menuju kamarnya di lantai atas. Malam itu saya tidak langsung menginterviunya. Pagi harinya saya baru bertanya apa yg terjadi. (Setiap anggota keluarga punya kunci masing-masing). Katanya sehabis kuliah, temannya sesama orang asing di negara ini ngajak dia melihat-lihat kota. Kalian kemana saja?"Ke TV Tower, katanya. Di telinga saya (english): KeiTiVi Tower. Saya naik pitam: What ? KeiTiVi (mean Karaoke bla.bla, sering malah jadi tempat prostitusi bukan?) kamu buat apa di KeiTiVi? Duduk-duduk, minum, cerita-cerita? Hei yg benar kamu cari apa di KeiTiVi? Temanmu itu siapa? Akhirnya dia menyela, bukan KeiTiVi, kami ke TV Tower. Dianya belum pernah ke sana, jadi saya temani. Waktu kami turun udah kemalaman, ternyata ngak ada metro lagi ke arah sini, jadi saya diantar naik taxi. Lagi-lagi HPnya low batry ketika dia menyadari bahwa dia akan tiba telat, sementara naik taxi butuh lebih kurang satu jam. Melalui pengalaman-pengalaman demikian saya mengambil kesimpulan, ternyata kepercayaan yg kami tanamkan di hati mereka, mebuat ketiga putri ini benar-benar percaya diri dan bahkan percaya bahwa kami juga akan mepercayai tindakan-tindakan atau keputusan yg mereka ambil diluar kontrol kami. Karena doa, tapi juga karena usaha mereka sendiri, mereka telah survive di kota-kota metropolitan yg penuh dengan kriminal ini sampai sekarang. Lianny Hendranata wrote: > > saya setuju dengan anda ibu Roslina, sebagai orang tua kita justru > punya kelebihan pengalaman dari anak-anak, yaitu "pengalaman menjadi > anak" sedangkan anak-anak belum punya "pengalamana sebagai ortu" maka > sebagai orang yang sudah pernah menjadi anak, kemudian menjadi orang > tua, sebaiknya belajar untuk memperbaiki / mengisi kekurangan yang > kita alami waktu menjadi anak (baca semua usia, khususnya remaja - > dewasa yang menjadi pokok bahasan kita) > > dibawah ini, saya copy kan artikel yang ditulis anak gadis saya, > dimana artikel ini dia tulis sebagai jawaban atau pendapatnya sebagai > remaja/ dewasa muda, waktu saya sebagai ibunya membicarakan dan merasa > prihatin dgn terbunuhnya seorang mahasiswi yang menuntut dinikahi > pacarnya karena hamil. artikel ini menarik karena ditulis oleh seorang > remaja yang baru mulai dewasa (20 thn) dan diterbitkan di koran Suara > Pembaruan Minggu edisi 22 Agustus 2004. dan ada 1 artikel lagi yang > ditulis adiknya usia (17 thn) saya lupa tgl terbitnya di SPM, artikel > yang menyuarakan pendapat seorang anak tentang film "Buruan cium gue" > yang dilarang beredar tayang. menarik membaca pendapat para "anak" > */Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote: > Sebenarnya saya ngak mau berkomentar, maka e-mail itu saya delete, tapi > kemudian saya berpikir ada baiknya memberi komentar seperti subject ini. > Khusus bagi orangtua yg merasa khawatir ttg pertumbuhan para remajanya > akibat kehadiran Play Boy saya pikir anda-anda adalah orangtua yg belum > siap menjadi orangtua. > * > “Saat Rawan Menuju Dewasa” * > *Artikel ini **terbitkan SPM tgl: 22 Agst 2004 > *disumbangkan untuk buku ke 5 mamaku , > dari aku anakmu, Imelda Ganie Hendranata** > > Rentang waktu antara Remaja menuju dewasa muda adalah saat saat rawan, > dimana seorang anak yang biasanya terlindung dibalik pundak Ayah atau > Ibunya mulai ingin diakui sebagai seseorang…,masa inilah yang disebut > orang sebagai “Pencarian Jati Diri”. > > Remaja mulai /‘Show Off’/, ingin menunjukan kepada Dunia kalau dirinya > ‘/Ada’/ hal ini berakibat fatal apabila para orang tua kurang-kurang > mendekatkan diri dengan seorang anak pada saat mereka kanak-kanak dan > remaja, inilah yang sering kita sebut sebagai ‘Anak Kurang Perhatian’. > Mereka biasanya akan mencari perhatian diluar rumah, mereka akan mulai > mencoba Dunia baru yang bisa mereka jajaki dan mereka anggap hebat > contohnya, mereka akan mulai merokok, rokok akan menarik bagi mereka > karena mereka anggap bahwa rokok merupakan gerbang kedewasaan, karena > biasanya orang tua yang merokok melarang anaknya merokok dengan dalih > kalau rokok hanya boleh untuk orang dewasa. Maka anak akan merasa > sudah dianggap dewasa, jika mulai merokok. > > Contoh lainnya, jangan kaget jika suatu hari mobil anda pulang malam > dalam keadaan rusak berat padahal supir pribadi anda sangat handal dan > berhati-hati dalam mengemudi, dan setelah diselidiki ternyata anak > anda yang baru duduk di bangku SLTP itu menjadi biang keladinya. Usut > punya usut ternyata setiap malam ketika anda sedang dinas diluar kota > anak anda memaksa sang sopir untuk mengajarinya mengemudi, mengapa? > Karena bagi anak di usia remaja yang ingin mencoba segalanya dan > berkeinginan segera dianggap dewasa beranggapan bahwa dapat mengemudi > di usianya adalah hal luar biasa karena pada umumnya anak-anak > seusianya belum boleh mengemudi karena SIM baru dapat dimiliki bagi > yang telah berusia 17 tahun. > > Hal menggoda lainnya adalah minuman beralkohol. Di Indonesia minuman > beralkohol yang resmi (legal) dapat diperoleh setelah seseorang > berusia 17 tahun, tetapi ada beberapa peraturan contohnya di beberapa > negara bagian di Amerika Serikat, seseorang baru diperbolehkan > mengkonsumsi minuman beralkohol bila telah berusia 21 tahun, karena > dengan usia dewasa anda dianggap telah dapat mempertimbangkan dan > bertanggung jawab atas diri anda pribadi dan apa yang anda lakukan. > Maka diam-diam anak yang ingin segera dianggap dewasa, akan > mengkonsumsi minuman beralkohol, dengan akibat yang tidak > diperhitungkan, jangan heran dalam keadaan mabuk, anak menjadi seorang > pemerkosa temannya sendiri dan berbagai tingkah laku negatif lainnya > yang diperbuat tanpa kesadaran karena diperngaruhi alkohol. > > Baik rokok maupun minuman keras akan membawa putra putri kita > mencicipi hal baru yaitu obat terlarang, yang entah bagaimana semakin > mudah ditemukan dan didapat walaupun pemerintah dan aparat hukum > begitu gencar memeranginya. Maka saat inilah peran orang tua harus > lebih mendekati diri pada anak-anaknya, jangan lepaskan perhatian anda > padanya, tapi jangan mengekang langkah anak untuk menuju dewasa! Anak > yang merasa terkekang, akan menjadi seekor kuda liar yang terlepas > dari kandang, jika kesempatan didapat. Maka disinilah saatnya > pendekatan yang butuh tak-tik menuju keakraban dan pengertian yang > perlu dilaksanakan. > > Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya untuk dibahas karena tak akan > mungkin lepas dari masalah remaja adalah masalah seksualitas. Seperti > telah kita ketahui bahwa pada usia 12 tahun (wanita) dan usia 14 tahun > (bagi pria), organ-organ reproduksi beserta hormon-hormonnya mulai > berkembang. Hal ini memberikan sensasi baru bagi putra-putri anda > yaitu keinginan seksual. Disinilah kelemahan budaya kita, sebagai > orang timur masih banyak orangtua yang enggan memberikan > informasi-informasi yang menyangkut masalah seksualitas karena > menganggap hal tersebut masih ‘tabu’ untuk didengar oleh anak usia > remaja. Hal ini yang mendorong anak remaja mencari akses informasi > lain. Oleh karena itu tidak jarang orang tua malah memarahi anaknya > yang bertanya mengenai masalah seksualitas ini. Padahal disini peran > orang tua sangatlah penting karena perlu kita melihat bahwa > keingintahuan seorang anak sangatlah besar, maka jika kita sebagai > orang tua tidak membekali mereka dengan informasi yang benar mereka > (kaum remaja) akan mencari akses informasi dengan jalurnya sendiri, > tentu saja zaman sekarang teknologi demikian maju, akses untuk > mendapatkan informasi melalui situs-situs porno di internet, > majalah-majalah dan video-video pornografi, bahkan sekarang telepon > genggampun bisa menjadi sarana penyebaran pornografi tersebut, dan > daya tariknya sangat ampuh. > > Nah… dapat kita bayangkan bagaimana akibatnya bagi putra-putri anda, > hidupnya dipenuhi hal-hal yang sebenarnya belum waktunya untuk > dikonsumsi oleh jiwa mereka yang masih labil. > > Maka sebagai orang tua, tentu saja kita menginginkan mempunyai > anak-anak yang baik, dan menjadi kebanggaan orang tua. Kita tidak > menginginkan kegagalan dalam perkembangan remaja anak-anak, Maka suatu > kewajiban bagi anda sebagai orang tua untuk memberikan bekal informasi > yang benar, juga membekali mereka dengan pendidikan moral dan agama > agar terbentuk menjadi manusia yang berakhlak dan berbudi luhur selain > berilmu tinggi, karena keduanya tidak dapat terlepaskan. > > Kita melihat, nasihat Albert Einstein (1879-1955) sebagai berikut: > “Religion without science, is lame, Science without religion is > blind”. *(Agama tanpa ilmu pengetahuan akan timpang, Ilmu pengetahuan > tanpa agama, akan buta)* maka penting bagi kita orang tua membekali > puta-putri dengan akhlak yang baik, karena dengan pengetahuan dan ilmu > yang tinggi, seseorang bisa menjadi manusia jenius tetapi jika > mempunyai aklhlak yang rendah jadilah dia seorang Amrosi, Hitler > ataupun tokoh lainnya yang setipe. > > Saat ini banyak orang tua, yang mendidik anak hanya berdasarkan > pengolahan memberdayakan kecerdasan otak yang optimal, maka anak-anak > yang terdidik demikian, menjadi sosok yang condong asosial, pergaulan > mereka hanya terbatas pada teman-teman yang selevel, tidak membaur > untuk juga mendapat masukan bagi kecerdasan spiritualnya. Dan > kecerdasan emosinya tidak berkembang dengan seimbang, maka jika > mendapat masalah (tekanan) dalam melaksanakan perjalanan hidupnya dari > anak menuju dewasa, mereka condong mudah patah, dan sulit untuk > bangkit kembali. Sebaiknya, anak-anak mendapat latihan dalam > menghadapi ‘cuaca kehidupan’ mereka dibiarkan berkembang dengan seimbang. > > Sedangkan anak yang dilindungi, dijaga seperti benda kristal, yang > mudah pecah, sehingga butuh pengamanan sekuat mungkin, menjadi anak > yang tidak tahu dunia luar, menjadi seseorang yang terlalu /‘steril’ > /akan mudah terjangkit / tertular penyakit karena inum sistimnya tidak > terasah. Maka pertahanan dirinya tidak kuat, begitu perlindungan (baca > pemgawasan orang tua) mengendur sedikit saja, dan kemasukan pergaulan > yang negatif, sang anak akan mudah terpengaruh dan sulit untuk > mempertahankan dirinya. Tapi anak-anak yang terlatih dengan cuaca > kehidupan, diberi kepercayaan dan dibekali dengan informasi tentang > yang baik dan buruk, serta yang boleh dan terlarang untuk dirinya, dia > akan mempunyai kendali yang lebih baik untuk memilah dan menentukan > apa yang akan mereka hadapi. > Anak-anak yang dibiasakan bergaul akrab dengan orang tuanya, dan sikap > demokrasi yang ditanamkan (memberi kesempatan dan menghargai > pendapatnya) maka akan menjadi anak yang bisa diberi kepercayaan, > orang tua yang mempunyai kepercayaan bahwa naka-anak mereka akan > berlaku yang seharusnya, tahu yang mana harus mereka jalankan, > walaupun disekelilingnya banyak anak-nak yang lepas kendali, dan > menjadi contoh yang buruk, maka mempunyai kelegaan tersendiri dalam > membesarkan anak-anak menuju remaja dewasa. Percayalah mam..! > > * > * > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com > > Web: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Klik: http://mediacare.blogspot.com atau www.mediacare.biz ==================== Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
