http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/11/0902.htm
Menggagas Bandung Bebas Maksiat Oleh ACHMAD FAISAL SABTU, 7 April 2007 sekelompok aktivis Islam mendeklarasikan berdirinya sebuah LSM yang diberi nama "Bandung Ma'siat Watch" (BMW). Dengan deklarasi tersebut, ada masyarakat yang bergembira dengan menaruh setitik harapan terwujudnya Bandung Bermartabat yang dicita-citakan bersama. Namun, adapula pihak yang tidak setuju karena merasa terancam mata pencahariannya yang bergelut dalam kubangan kemaksiatan. Terlepas dari pro-kontra tersebut, saya cukup yakin mayoritas masyarakat Bandung mendambakan kehidupan kota yang bersih dari segala macam kemaksiatan untuk mewujudkan Kota Bandung Bermartabat. Namun, Kota Bandung sudah kadung diberi label sebagai kota metropolitan, yang dalam beberapa hal identik dengan dunia maksiat. Bisakah Kota Bandung sebagai kota metropolitan membebaskan dirinya dari aroma dan aktivitas kemaksiatan? Kenapa harus bebas maksiat? Jargon Kota Bandung Bermartabat adalah sebuah jargon yang cukup potensial untuk menumbuhkan dan menanamkan identitas diri Kota Bandung sebagai kota yang beradab, bersih, dan dalam bahasa agama disebut sebagai baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur. Namun jargon tersebut tidak akan bermakna apa-apa jika tidak ditindaklanjuti dengan aksi-aksi konkret implementatif. Warga Kota Bandung hendaknya bersikap apresiatif terhadap visi Wali Kota Bandung yang ingin menjadikan Bandung tahun 2008 sebagai kota agamis dan kota seni budaya. Anggaplah, dua konsep tersebut merupakan jembatan menuju terwujudnya visi besar Kota Bandung sebagai kota bermartabat yang beradab. Kemaksiatan memang tidak akan pernah hilang sampai hari kiamat. Namun, kewajiban insan Muslim harus mencegah dan menghentikan kemaksiatan tersebut. Warga Bandung tentu tidak mau jika kotanya terkenal karena "Saritem"-nya, karena dunia dugem-nya, atau karena menjadi pusat peredaran narkoba. Setiap weekend, ada indikasi Kota Bandung menjadi tempat buang "hajat" orang Jakarta, karena ketenangan dan kenyamanan warga Bandung berimbas juga kepada tenangnya kemaksiatan beroperasi. Apalagi beberapa tahun lalu, di Jln. Braga konon terdapat tempat judi terbesar se-Asia Tenggara. Warga Bandung tentu tidak mau kemaksiatan menjadi trade mark kotanya, tidak boleh pula orang-orang luar Bandung singgah di Bandung hanya untuk berbuat maksiat dan kekotoran. Dalam pertemuan antara BMW dan jajaran Pemerintahan Kota Bandung, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung mengatakan bahwa Kota Bandung meraih pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup besar dari kepariwisataan, walaupun harus diakui bahwa kepariwisataan banyak bersentuhan dengan kemaksiatan. Puluhan diskotek, kelab malam, karaoke, dan panti pijat sudah sangat lekat dengan aktivitas maksiat. Penghasilan dari sektor berbau maksiat tersebut sangat besar, namun jauh dari berkah, sehingga berpotensi mengundang azab Allah SWT. Jika sektor kepariwisataan berbau maksiat tersebut dihentikan untuk mewujudkan Bandung agamis, lantas dari manakah pengganti PAD yang hilang tersebut? Potensi kota Pemkot tidak perlu takut kehilangan PAD andaikata dunia pariwisata yang berbau maksiat dihentikan. Bandung masih memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatannya. Persoalannya adalah, maukah Pemerintahan Kota Bandung lebih kreatif dalam menggali potensi Bandung yang punya nilai jual? Melihat sikap kooperatif dan tradisi intelektual warga Bandung, hal tersebut bukanlah perkara yang terlalu sulit. Pemkot Bandung berencana membenahi Jalan Braga sebagai ikon kota. Harus diakui itu sebagai sebuah upaya untuk menumbuhkan citra yang positif sehingga tidak menjadi sekadar tempat buang "hajat"-nya orang Jakarta pada saat weekend. Namun niat itu tidak akan terwujud jika aroma dugem masih sangat kuat melekat di Jalan Braga dan sekitarnya. Jika memang Pemkot Bandung konsisten dengan niat dan konsepnya, maka diskotek, kelab malam, dan para PSK di sana harus dihilangkan demi kesempurnaan konsep Braga sebagai area seni budaya dan pusat jajanan tradisional. Dana Rp 2 miliar yang dianggarkan Pemkot Bandung untuk merehab Braga jangan sampai menciptakan kecemburuan dari warga Bandung yang masih merasakan keprihatinan hidup. Namun jika dengan angka itu bisa menghilangkan aroma dugem yang penuh kemaksiatan dari wilayah Braga dan sekitarnya, tampaknya warga Bandung akan memakluminya. Kota Bandung kini dikenal sebagai gudangnya anak-anak muda kreatif. Booming FO dan diikuti dengan booming distro dan clothing bisa menjadikan Bandung sebagai daerah wisata belanja dengan berbagai desain fashion yang dinamis, modern, namun tetap berciri khas lokal. Dari sisi olah raga, Bandung memiliki Persib. Kesebelasan sepak bola yang memiliki bobotoh fanatik tersebut sebenarnya bisa menjadi sumber PAD dan membuka lapangan kerja bagi warga Kota Bandung. Apalagi jika Stadion di Gedebage bisa segera berdiri. Tentu saja, pembangunan stadion tidak hanya diniatkan sebagai tempat menggelar pertandingan olah raga, namun bisa menjadi tempat wisata dan area bisnis yang menjanjikan, sehingga Persib bisa mandiri dan tidak bergantung kepada APBD. Oleh karena itu, perlu ada upaya-upaya menjadikan Persib mandiri dengan berbagai macam usaha kreatif dengan konsep sportainment yang bisa memberikan keuntungan bagi dan berujung pada peningkatan kesejahteraan warga Bandung. Itu bisa diwujudkan jika Pemkot Bandung, sebagai pengelola Persib, mau dan mampu menampung dan mengarahkan kreativitas dan dukungan penuh para bobotoh yang dikolaborasikan dengan pengusaha dan dukungan penuh warga Bandung, menjadikan Persib dan stadionnya sebagai salah satu tujuan wisata dan sumber pendapatan Kota Bandung. Dari sisi seni budaya, Jawa Barat sangat kaya dengan aneka ragam seni tradisi dan budaya Sundanya. Kota Bandung bisa menjadi pusat seni dan budaya Jawa Barat yang sarat nilai, penuh makna, dan tentu saja jauh dari aspek pornografi dan pornoaksi yang hanya akan membawa kesenian menjadi hanya semacam "air seni" (meminjam istilah WS Rendra). Untuk mewujudkan itu, gedung-gedung kesenian harus mengalami perombakan dan perbaikan, baik dari segi performa, pengelolaan, penampilan, maupun promosinya. Para seniman dan budayawan hendaknya diberi ruang yang cukup luas untuk mengembangkan kreativitasnya dan bersama-sama masyarakat membangun nilai-nilai kemanusiaan yang beradab di Kota Bandung. Acara seperti Braga Festival hendaknya dipertahankan dan bahkan dikembangkan, sehingga jalan-jalan tertentu pada waktu-waktu tertentu bisa menyelenggarakan acara serupa. Sebagai contoh, Dago Festival, sebagai penumbuhan kreasi seni modern anak muda. Selain itu, kawasan Gegerkalong juga sebenarnya bisa menjadi tempat festival seni budaya islami, Jalan Ganeca, juga bisa menjadi ajang festival seni kampus, dan tempat-tempat lainnya. Sebagai kota perjuangan, Bandung sebenarnya bisa menjadi kota sejarah, karena di Bandung banyak terdapat tempat bersejarah yang jika dirawat, di-manage, dan "dijual", sekali lagi, bisa mendatangkan PAD yang cukup besar. Bangunan-bangunan lama yang memiliki nilai historis hendaknya dipertahankan, bahkan kalau perlu ada suatu kawasan perumahan yang mempertahankan bentuk perumahan masa lalu. Dan sekali lagi, itu bisa menjadi tempat wisata yang mendatangkan PAD yang cukup besar. Kota Bandung juga terkenal sebagai pelopor makanan-makanan kreatif, mulai dari batagor hingga brownies, yang menjadi incaran warga Jakarta setiap weekend. Oleh karena itu, Bandung juga bisa menjadi sentra wisata kuliner terfavorit di Indonesia, asalkan para pengusaha kuliner rumahan mendapat kesempatan dan pembinaan dari pemerintah, ditempatkan di suatu kawasan yang layak, sehingga memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan. Kota Bandung sudah cukup lama disebut sebagai Parijs van Java, karena terkenal dengan taman-taman dan tata kotanya yang sangat indah. Kalau saja Pemerintah Kota Bandung mau bekerja keras dan didukung penuh oleh masyarakat, julukan tersebut bisa dikembalikan, dengan membangun taman-taman kota yang indah, ruang terbuka hijau, nyaman, dan asri, sehingga mengundang banyak orang luar untuk berwisata ke Kota Bandung. Kota Bandung juga bisa menjadi pusat wisata rohani dan kajian keislaman. Karena kita tahu di Kota Bandung ini banyak bertebaran majelis-majelis taklim yang dijubeli oleh ribuan mustami. Ada pengajian Aa Gym di Gegerkalong, Pengajian K.H. Athian Ali M. Da'i, Pengajian Percikan Iman Aam Amiruddin, Pengajian Persis di Viaduct, dan beberapa tempat mengkaji dan menggali ajaran Islam banyak bertebaran di Kota Bandung. Bahkan kalau mau, Bandung bisa menjadi pusat perkembangan keilmuan, kebudayaan, dan peradaban Islam di Indonesia. Masih banyak sebetulnya potensi lain yang bisa digali di Kota Bandung. Apa yang saya ungkapkan di atas, adalah alternatif-alternatif usaha yang bisa dilakukan oleh Kota Bandung untuk tetap menjadi kota metropolitan namun bebas maksiat. Walaupun dalam bentuk-bentuk yang saya usulkan di atas, tidak tertutup kemungkinan munculnya oknum-oknum yang melakukan kemaksiatan, namun setidaknya hal-hal di atas tidak identik dengan kemaksiatan. Tidak seperti diskotek, kelab malam, karaoke, dan sebangsanya yang identik dengan minuman keras, prostitusi, narkoba, dan perjudian. Dari paparan singkat di atas, saya sebetulnya hanya ingin mengatakan bahwa pemerintah kota tidak usah khawatair jika harus kehilangan pendapatan dari aktivitas bisnis dan wisata yang berbau maksiat. Karena banyak potensi lain yang bisa dikembangkan sehingga meningkatkan PAD Kota Bandung untuk kesejahteraan warganya. Jika pemerintah sudah berkomitmen untuk membangun Bandung yang lebih baik, masyarakat pun tidak ada alasan untuk tidak mendukung, dan insya Allah, semuanya akan berhasil sebagaimana yang dicita-citakan. Terakhir, perhatikanlah firman Allah SWT dalam Alquran, "Fa Idzaa 'azamta, fatawakkal 'alallah." "Jika kamu sudah bertekad (untuk melakukan suatu perbaikan) maka bertawakkallah kepada Allah." *** Penulis, Humas Bandung Ma'siat Watch
