Salam

Sebenarnya berbicara masalah amplop dan keberadaan wartawan, tidak berbeda
dengan kta berbicara tentang diri kita sendiri, sebagai pribadi, keluarga,
kelompok atau bahkan sebagai bangsa. Yang pada intinya kita telah kehilangan
kejujuran kepada diri sendiri sekalipun.

Mungkin lebih baik saya mulai dari sanggahan teman wartawan saya, yang tidak
sepakat bila kita gunakan UU pokok pers dan perangkat UU perusahaan serta UU
tenaga kerja untuk mengeleminir tumbuh dan hidupnya media parasit. media
parasit adalah ,media yang lahir dan tumbuh dengan menyerap sumberdaya
sosial yang bukan haknya. Dari media parasit maka lahir wartawan parasit.

Alasan kawan ini adalah bahwa kita akan berhadapan dengan kepentingan yang
kepentingan kelompok dan pribadi yang sangat komplek. Saya bersikeras bahwa
parasit memang harus dibasmi, kalau kita mau sehat sebagai wartawan dan
pekerja media.

Sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana membangun kesepakatan, mana
yang masuk kategori parasit dan mana yang bukan parasit. Masalah amplop
hanyalah konsekwensi dari parasitisme media saja. Dan bahkan hadirnya media
dan wartawan parasit sebagian besak akibat niatan awal yang memang tidak
didasari oleh idealisme kewartawanan.

Saya kira kita bisa bernicara lebih jauh dalam diskusi, dengan pengantar
pendek yang jika dibahas secara utuh akan dapat menjadi bagian dari
pembangunan pers yang sehat. Dan pada giliranya menajdi bagian dari
pembangunan bangsa ini ke depan, dengan memangkas parasitisme sosial.

Wassalam

Kirim email ke