Harus Bijaksana Menyikapi Wartawan dan Amplop
Jika diperhatikan pembicaraan bertopik wartawan dan amplop selalu saja seru.
Wartawan dan amplop sebetulnya beda dan memojokan rekan rekan wartawan yang
"terpaksa" menerima amplop juga bukan hal bijaksana jika kita sendiri tidak
berada pada keadaan seperti itu memang kita bisa berbicara sangat sangat
idealis akan tetapi kalau kita berkeadaan lain,.. seringkali "to be or not to
be".
ketika masih muda sekali, baru selesai kuliah, iseng-iseng saya melamar
pekerjaan menjadi wartawan kebetulan diterima pada koran biasa yang dulu
katanya bergigi koran "M" punyanya pak BMD ... dan sambil bekerja di situ saya
melamar di sebuah majalah baru yang manajemennya bukan main bagus, gajinya juga
bagus...
Bedanya memang bumi dan langit soal manajemen dan uang tetapi soal hasil kerja
dan etos kerja tidak bisa dibandingkan..
Koran M dengan manajemen administrasi yang amburadul dan manajemen keluarga
tidak mampu memberikan suasana yang baik bagi kehidupan wartawannya,..tetapi
para wartawannya bekerja dengan hati dan semangat
sehingga isi dan headline koran itu tetap dipandang punya kelas oleh kalangan
pembuat keputusan tatkala itu ....
Sementara MAjalah baru itu dengan modal besar , orang muda-muda, hanya jajaran
atasnya saja yang berpengalaman media dan komunikasi semata-mata berorientasi
mengejar "profit" yang kurang diikuti dengan etos dan semangat kerja para
wartawan yang menjadi pangilan jiwa ... meskipun menerapkan aturan wartawan
dilarang menerima amplop toh beberapa wartawannya yang senior bahkan juga
menerima amplop ....
Siapa sih yang tidak tergiur dengan amplopppppp ?
Yang penting di sini saya kira soal profesionalisme itu sendiri bukan soal etis
tidaknya wartawan menerima amplop ....
Wartawan adalah pekerja media kalau perusahaan di mana dia bekerja berorientasi
profit dan wartawan merasa adil dengan bagian yang diberikan oleh perusahaan
wartawan tidak akan mencari dan menerima amplop tetapi jika Perusahaan
dipandang tidak adil dan malahan wartawan menjadi "tools" bukan "assets" wajar
saja jika wartawan juga berpikiran sedikit "profit" bukan "benefit" ...........
Bicara soal media ... saya sangat pesimis sebuah media apalagi media cetak bisa
hidup dengan idealisme saja ... tidak !.
Ada banyak orang , termasuk saya, bermimpi dengan sopan maupun dengan serakah
ingin punya media , media yang bagus yang dijual cuma content saja .. ternyata
tidak bisa ... harus ada iklan,.. harus ada content iklan ,.. harus ada
konformitas yang ujung-ujungnya duit (UUD) juga ........
Ada banyak free media berkeliaran dari mall ke mall dari LSM ke LSM.... apa
coba yang dijual ? Wartawan ? Bukan..melainkan kerja keras AE dan kolaborasi
wartawan merangkap AE dengan para pemilik modal/pemberi donor ..... AE dan
wartawan ujung-ujungnya harus banyak mengalah bekerja lebih untuk kepentingan
mereka .. bukan kepentingan publik dan hati nurani ....
Mereka semua itu tidaklah salah sebab itu soal pilihan .... yang ujungnya
berupa produk "media" ... seperti ujaran .. ada banyak jalan menuju roma ...
kita juga tidak perlu munafik dan jijik pada media maupun wartawan parasit ...
ambil dahulu kaca benarkah sepanjang dahulu, sekarang dan nanti saya tidak
berpotensi menjadi parasit ???????? .....
kemudian kita lihat sekeliling kita ... apakah perekonomian negeri ini
benar-benar memberikan iklim yang baik dan benar bagi tumbuhnya idealisme murni
?
berkomentar sebenarnya sangat mudah, enak dan gampang tetapi apa gunanya kalau
cuma untuk menunjukan pada publik bahwa kita bersih, kita ideal, kita tidak
seperti itu,..padahal prilaku kita begitu ....
A
Kaka Suminta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam
Sebenarnya berbicara masalah amplop dan keberadaan wartawan, tidak berbeda
dengan kta berbicara tentang diri kita sendiri, sebagai pribadi, keluarga,
kelompok atau bahkan sebagai bangsa. Yang pada intinya kita telah kehilangan
kejujuran kepada diri sendiri sekalipun.
Mungkin lebih baik saya mulai dari sanggahan teman wartawan saya, yang tidak
sepakat bila kita gunakan UU pokok pers dan perangkat UU perusahaan serta UU
tenaga kerja untuk mengeleminir tumbuh dan hidupnya media parasit. media
parasit adalah ,media yang lahir dan tumbuh dengan menyerap sumberdaya sosial
yang bukan haknya. Dari media parasit maka lahir wartawan parasit.
Alasan kawan ini adalah bahwa kita akan berhadapan dengan kepentingan yang
kepentingan kelompok dan pribadi yang sangat komplek. Saya bersikeras bahwa
parasit memang harus dibasmi, kalau kita mau sehat sebagai wartawan dan pekerja
media.
Sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana membangun kesepakatan, mana yang
masuk kategori parasit dan mana yang bukan parasit. Masalah amplop hanyalah
konsekwensi dari parasitisme media saja. Dan bahkan hadirnya media dan wartawan
parasit sebagian besak akibat niatan awal yang memang tidak didasari oleh
idealisme kewartawanan.
Saya kira kita bisa bernicara lebih jauh dalam diskusi, dengan pengantar pendek
yang jika dibahas secara utuh akan dapat menjadi bagian dari pembangunan pers
yang sehat. Dan pada giliranya menajdi bagian dari pembangunan bangsa ini ke
depan, dengan memangkas parasitisme sosial.
Wassalam