kalo kita berbicara masalah wartawan dan amplon, ya tak akan ada habis2nya
Saya (ini pendapat pribadi lo ya) mengelompokkan wartawan dalam tiga kategori:
1. Wartawan profesional
2. Profesi wartawan dijadikan batu loncatan: kalau ada pekerjaan yang lebih
baik mereka akan berpindah profesi; atau menjadi wartawan karena tak ada
pekerjaan lain; bisa juga sementara menunggu panggilan kerja di tempat lain.
Tapi yang jelas, wartawan kategori ini lebih terhomat daripada wartawan
kategori 3.
3. Profesi wartawan dijadikan tools untuk mengeruk kepentingan pribadi. Ini
sangat bahaya, karena bisa merusak kredibitas wartawan secara keseluruhan .
Narsum pasti menggeneralisasi wartawan, ini sangat menyakitkan.
Apalagi saat ini sejak diberlakukannya UU No 40/1999 tidak ada larangan untuk
mendirikan penerbitan pers.
Dalam melaksanakan aktivitasnya, biasanya wartawan kategori 3 ini berlindung di
balik UU tersebut.
hangjebattiga <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya
setuju dengan pendapat mas kaka bahwa wartawan amplop atau
wartawan parasit sangat tidak professional. Ini dapat diumpamakan
sebagai "software bajakan". Namun wartawan parasit juga punya alasan
tersendiri. Salah satunya karena tidak memadainya gaji wartawan
bahkan adapula wartawan tanpa gaji! hehehehehe.... Kemana lagi mereka
cari duit kalau tidak dengan cara "merampok". Tapi menurut saya tidak
terlalu masalah selama yg mereka rampok itu juga adalah perampok.
Yang merampok uang rakyat. Agar mereka tahu rasa gimana sakitnya
memiliki uang haram. hehehehehehe.....
Hal lain yg memicu adalah terlalu banyaknya wartawan dinegara kita.
kenapa banyak ?! ya karena minimnya lapangan pekerjaan dinegara ini.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.