Hari itu, Senin 16 April 2007. Jam masih menunjukkan pukul 07.15 pagi.
Kampus Virginia Tech yang teduh dan luas di Blacksburg, Virginia, AS,
sungguh tenang. Perkuliahan baru akan dimulai pukul 08.00.

Tapi di lantai 4 asrama mahasiswa West Ambler, kegaduhan terjadi.
Seorang pria, agak gemuk, berjalan dengan tergesa. Di dua tangannya,
tergenggam dua pucuk pistol. Lelaki itu menyerang asrama yang dihuni
895 mahasiswa tersebut. Pistol sang penyerang menyalak, dan 2 orang
pun tersungkur tewas di pagi celaka itu.

Pria itu tak berhenti di situ. Dua jam kemudian, ia kemudian juga
menyerang Norris Hall, gedung kuliah yang selalu ramai oleh para
mahasiswa. Apalagi di hari Senin. Suara tembakan bersipongang di
seantero gedung. 30 nyawa dihabisi. Kemudian nyawa sang penyerang pun
melayang oleh tembakan pistol empunya sendiri.

Adalah Cho Seung-hui yang melakukan semua kesadisan itu. Cho, pemuda
imigran asal Korea Selatan itu. Usianya baru 23 tahun lewat 3 bulan.

Diantara 2 aksi pemberondongannya, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris
itu sempat mengirim paket ke sebuah stasiun televisi. Isinya, catatan
sepanjang 1800 kata yang terkadang tidak saling berkaitan. Foto-foto
dalam pose yang intimidatif. Serta klip video berisi sumpah serapah
dan penuh dengan ancaman. Mungkin, ia ingin dunia tahu, mengapa ia
sanggup melakukan kekejaman semacam itu.

Cho adalah pria yang marah. Ia frustasi dengan kehidupannya. Ia
berasal dari keluarga miskin di Dobong-gu, Korea Selatan. Ia
berimigrasi ke AS saat berusia 8 tahun, beserta ayah ibunya dan kakak
perempuannya. Demi kehidupan yang lebih baik. Ayah-ibunya bekerja
sebagai buruh di sebuah laundry di Washington DC.

Bertingkah aneh dan psikotik, Cho juga adalah buah dari sebuah
masyarakat yang tidak beres. Komunitas yang menghakimi dan abai.
Orang-orang yang menghina dan menjaga jarak. Dalam satu kelas, Cho
diminta membaca. Ia bersuara pelan. Nyaris tak terdengar. Teman-teman
sekelasnya menertawainya seraya berkata, "Kembali saja kau ke Cina!".
Menggelikan untuk mereka, menyakitkan untuk Cho.

Cho tak punya teman. Ia penyendiri. Ia juga canggung. Sialnya, Cho
hidup di sebuah negara yang mentradisikan bullying (menggencet) dalam
dunia pendidikannya. Kutub siswa populer melawan kutub siswa
pecundang. Yang pasti, yang dinistakan tentu saja yang pencundang. Ia
marah melihat mahasiswa-mahasiswa kaya di sekitarnya. "Aku jengah
melihat gaya hedonistik mereka. Aku takkan lari", demikian tulisnya
penuh geram dalam surat yang ia kirimkan ke televisi.

Angkara itu menggeram. Lalu menyalak, menghambur keluar melalui peluru
dari dua pistol Cho.

Kirim email ke